RSUD R. Soedjono Selong Pecat Oknum Perawat Terlibat Asusila

Direktur RSUD R. Soedjono Selong, M. Hasbi Santoso (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R. Soedjono Selong mengambil tindakan tegas pascaterjadinya tindak asusila yang di lingkungan rumah sakit beberapa waktu lalu. Dua oknum perawat yang bertugas di rumah sakit milik pemerintah ini dipecat karena dinilai melanggaran kode etik keperawatan dan menciderai nama baik rumah sakit.

Direktur RSUD R. Soedjono Selong, M. Hasbi Santoso, dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 19 Desember 2018 membenarkan pemecatan terhadap dua perawat yang melakukan tindak asusila tersebut. Pemecatan dilakukan sebagaimana prosedur dan mekanisme yang ada setelah BAP dan pendalaman kasus yang dilakukan oleh internal RSUD Selong melalui tim kode etik keperawatan. Dari BAP itu kemudian menjadi dasarnya di dalam mengambil keputusan dengan pemberhentian kedua oknum perawat tersebut.

“Mereka mengakui pelanggaran etika di rumah sakit saat sedang melakukan jam kerja. Itu tergolong pelanggaran berat sehingga kita berhentikan,” ujarnya.

Terkait kasus ini, M. Hasbi menegaskan jika dirinya sudah menyampaikan kepada seluruh karyawan di RSUD Soedjono Selong untuk menjaga etika saat menjalankan tugas dan pengabdiannya kepada masyarakat. Pihaknya juga akan mengoptimalkan keberadaan CCTV yang ada, meningkatkan kapasitas pengawasan oleh petugas keamanan (satpam) dan mengoptimalkan pengawasan internal rumah sakit yang sudah terbentuk agar dapat bekerja sesuai dengan fungsi dan kewenangannya.

Untuk Satpam, nantinya diperbolehkan untuk masuk ke seluruh ruangan yang ada di rumah sakit selama 24 jam. Tidak hanya mengawasi jumlah tamu pada saat jam istirahat pasien, melainkan juga turut mengawasi perawat yang bertugas. Apabila jumlah perawat tidak sesuai dengan jadwal saat itu, maka Satpam dapat melapor ke ketua grup jaga dan selanjutnya dilaporkan ke pengawas. “Nanti Satpam tidak hanya mengawasi hal-hal yang eksternal, namun secara internal akan diawasi secara maksimal,”ungkapnya.

Mengingatkan kasusnya bergulir di meja kepolisian. M. Hasbi menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut ke ranah hukum. Pihaknya pun siap memberikan segala kebutuhan, baik itu berupa barang bukti maupun pemberian keterangan saksi apabila sewaktu-waktu dibutuhkan oleh penyidik di kepolisian. “Surat permintaan sudah kami terima dari kepolisian. Saya juga sudah ingatkan kepada karyawan bahwa tidak boleh tidak hadir apabila diminta memberikan keterangan,” akunya.

Hasil visum terhadap korban pun, katanya, sudah diberikan sekitar dua hari yang selalu kepada kepolisian. Disamping pihak kepolisian melakukan visum di RS Bhayangkara untuk memperlancar proses penyelidikan terhadap korban. (yon)