Pekerjaan Fisik Molor Diakui Ada Perencanaan Melenceng

Pekerja masih terlihat mengerjakan bagian atas dari proyek monumen Mataram Metro di Lingkar Selatan, Kelurahan Jempong, Rabu, 19 Desember 2018. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pekerjaan fisik molor sudah jadi permasalahan klasik. Ini terus berulang setiap tahunnya. Molornya sejumlah proyek diakui ada perencanaan yang melenceng.

 

Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, Rabu, 19 Desember 2018 menegaskan, sebenarnya ia sudah beberapa kali menyampaikan pada pertemuan dengan pimpinan OPD. Dan, beberapa pendekatan dilakukan untuk memastikan di setiap triwulan berjalan sesuai rencana.

 

Padahal, diharapkan triwulan II dan III sudah ada eksekusi program. Karena, di triwulan I digunakan sebagai persiapan administrasi. Tetapi dalam perjalanannya kadang – kadang agak melenceng dari skenario awal.

 

“Tapi kita selalu berikan penekanan ke masing – masing OPD untuk memaksimalkan itu,” tegas Mohan. Dia melihat posisi saat ini masih belum berjalan sesuai harapan. Sebagai kepala daerah, Mohan tak menginginkan ada istilah proyek kejar tayang. Karena, ini sangat berpengaruh pada kualitas fisik. Dan, tentunya sangat dikhawatirkan.

Baca juga:  BPKAD Tak akan Bayar Pengerjaan Proyek Lewati 31 Desember

Tahun

ini, dua pekerjaan fisik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang kena denda. Proyek monumen dengan nilai kontrak Rp1,28 miliar lebih. Sesuai kontrak pekerjaan berakhir tanggal 28 November lalu.

 

Berikutnya, proyek gedung Kantor BKD dengan nilai kontrak Rp1,3 miliar lebih. Sesuai jadwal pekerjaan fisik harus tuntas tanggal 30 November lalu. Rekanan tak mampu menyelesaikan tepat waktu dan dikenakan denda.

Baca juga:  Lanjut, Penyelidikan Proyek Dermaga Waduruka

Sementara, pengerjaan gerbang di Lingkar Selatan nilai pagunya Rp6 miliar. Proyek ini dikerjakan rekanan dengan nilai kontrak Rp5,9 miliar lebih. Rekanan memiliki waktu sampai tanggal 26 Desember pekan depan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Seperti kasus keterlambatan monumen Mataram Metro di Lingkar Selatan.  Rekanan kata Mohan, diberikan tambahan waktu tapi sesuai prosedur harus dikenakan denda. Mohan menginginkan secara keseluruhan proyek fisik harus rampung semua. “Mereka memastikan 90 persen bisa terserap. Dan, pekerjaan bisa rampung semua,” tambahnya. (cem)