Loteng Siap Buka Jalur ‘’Trekking’’ Rinjani

JALUR - Jalur pendakian Gunung Rinjani Loteng selain lebih landai tetapi juga menyajikan jalur pendakian yang menantang, karena harus melalui kawasan hutan lebat yang masih perawan. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) –  Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) berencana segera membuka jalur trekking ke Rinjani setelah sebelumnya sempat ditutup, pasca musibah gempa beberapa waktu lalu. Jalur ini pun diyakini yang paling aman dan paling siap dilalui untuk saat ini.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Loteng, H.L. Putria, kepada Suara NTB, Kamis,  25 Otober 2018.

Pihaknya sebelumnya sudah berkoordinasi dengan pihak pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) serta pemerintah provinsi, soal rencana pembukaan kembali jalur pendakian gunung Rinjani tersebut. Mengingat, dari hasil evaluasi pihaknya jalur trekking ke Gunung Rinjani melalui Loteng dinilai paling aman dan tidak terlalu terdampak gempa yang melanda Pulau Lombok beberapa waktu lalu. “Memang ada dampaknya. Tapi tidak terlalu parah. Dalam arti, tinggal penataan sedikit jalurnya sudah siap dilalui oleh para pendaki,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan jalur pendakian melalui Lombok Timur (Lotim) maupun Lombok Utara, jalur pendakian Gunung Rinjani melalui Loteng memiliki beberapa kelebihan. Di antaranya, jalur pendakiannya jauh lebih landai. Namun di bagian awal saja, jalur sedikit turun naik.

Selain ini di sepanjang jalur pendakian mulai dari pintu pendakian di kawasan wisata air terjung Benang Stokel hingga ke Pelawangan, para pendaki bisa menemukan beberapa titik sumber mata air, karena sebagian besar jalur pendakian juga berada di dalam kawasan hutan, sehingga jauh lebih teduh.

“Kawasan hutan yang akan dilalui ini kondisinya juga masih sangat terawat. Sehingga para pendaki masih bisa menemukan satwa langka seperti kijang dan beberapa jenis kupu-kupu khas Pulau Lombok,” terangnya.

Karena kondisi jalur pendakian yang masih sangat asri, maka sebelum dibuka pihaknya akan mengumpulkan semua stakeholder termasuk para tokoh masyarakat dan agama di lingkar jalur pendakian. Mereka diajak bermusyawarah membuat awik-awik khusus bagi para pendaki dan harus dipatuhi oleh semua para pendaki.

Misalnya, soal penanganan sampah. Sebelum masuk ke jalur pendakian, masing-masing pendaki akan dicek barang bawaannya. Nantinya setelah balik dari pendakian sampah diharuskan untuk dibawa pulang. Hal ini bertujuan, Supaya pendaki tidak membuang sampah sembarangan.

Kemudian soal tata cara interaksi selama pendakian, juga akan diatur. Contoh, para pendaki yang berlawanan jenis tidak diperkenankan untuk tidur di satu tenda yang sama. “Ini bagian-bagian yang nanti akan kita bahan bersama dengan para tokoh masyarakat setempat. Untuk kemudian dijadikan awik-awik bagi para pendaki yang akan mendaki ke Gunung Rinjani melalui Loteng,” tegas Putria.

Dengan begitu diharapkan, kelestarian dan keberlangsung alam disepanjang jalur pendakian melalui Loteng ini bisa tetap terjaga, sehingga jalur pendakian melalui Loteng tersebut benar-benar disukai oleh para pendaki yang ingin menikmat keindahan di jalur pendakian Gunung Rinjani melalui Loteng tersebut. (kir)