Pasang Surut Usaha Genteng di Tengah Terjangan Bahan Pabrikasi

PERAJIN - Perajin batu bata dan genteng di Lingkungan Aik Ampat bertahan di tengah terjangan bahan pabrikasi. (her)

Giri Menang (Suara NTB) – Keberadaan perajin batu bata dan genteng Aik Ampat Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Lombok Barat (Lobar) masih eksis sampai saat ini. Daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil batu bata dan genteng di wilayah Lobar bahkan dari luar daerah banyak yang membeli di sini. Para perajin ini mampu bertahan di tengah minimnya perhatian Pemda, walaupun berada dekat pusat kantor pemerintahan Pemkab Lobar, tak menjamin para perajin diperhatikan maksimal.

Haris salah seorang perajin menuturkan aik Ampat dikenal sebagai sentra batu bata dan genteng sejak puluhan tahun lalu. Kerajinan ini menjadi keahlian turun temurun, sehingga kerajinan ini tetap terjaga sampai di masa modern saat ini. Di mana banyak yang menggunakan genteng sintetis, spandek dan asbes. Ia sendiri menggeluti kerajinan ini sejak  masih bujang tahun 2007 silam.

Selama belasan tahun, usahanya mengalami pasang surut apalagi musim hujan terkendala material sulit. Bahan baku yang didatangkan dari dusun lilin dan rincung dengan jenis tanah liat, tanah paras. Tanah yang diambil sebagai bahan baku pun tidak sembarangan. Tanah tidak berbau diambil yang lapisan pertama.

Modal usaha yang diperlukan dalam sekali produksi mencapai Rp 2,5 juta untuk pembuatan genteng sedangkan batu-bata diperlukan modal Rp 1 juta lebih. Biaya itu untuk ongkos pencetakan, kemudian dibakar lagi. Lalu ongkos untuk merapikan. Ia mengaku untung yang diperoleh dalam 1000 biji batu-batu hanya Rp 75 ribu per. Ia menjual batu bata bervariasi tergantung  lokasi, kalau wilayah Gerung dihargakan Rp 550 per seribu untuk batu bata, sedangkan genteng Rp1.250.000 per seribu.

Dengan kondisi pasang surut ini, warga setempat katanya bertahan menggeluti usaha ini. Sebab tidak ada pilihan lain, karena tak ada pekerjaan lain. “Melihat suport dari Pemda, selama tidak ada.  Kami jalan sendiri, padahal kami butuh modal usaha,”ujarnya.

Para perajin jelasnya butuh modal usaha, pencetakan dan pelatihan. Pelatihan katanya pernah dilakukan hanya sekali tahun 2017.  Para perajin, jelasnya, memperoleh modal usaha dari pinjaman di bank. Ia juga mempertanyakan komitmen Pemda terhadap para perajin.

Selama itu Lurah Dasan Geres Hulaifi, SH, mengatakan di Lingkungan Aik Ampat dan Bawak Gunung terdapat 10 kelompok usaha batu bata dan genteng. Masing-masing kelompok beranggotakan 11 orang. Perajin ini, jelasnya, pernah mendapatkan bntuan puluhan peralatan dari pusat berupa alat press genteng dan mesin molen penggiling tanah. bantuan juga pernah diberikan oleh Dinas Perindag Lobar. “Jadi sudah disentuh bantuan,” jelasnya.

Diakuinya, tahun ini kelompok batal mendapatkan bantuan peralatan dari Dinas Koperasi, karena adanya pemangkasan anggaran di semua OPD disebabkan defisit anggran pemda.

Dijelaskan, dulu di Lingkungan Aik Ampat dan Bawak Gunung sudah dikenal banyak cikar dan cidomo berkat kemajuan usaha bata dan genteng. Saat ini ada puluhan warga  memiliki kendaraan roda 4 pick up untuk menunjang usaha mereka. Terkait kegiatan pelatihan dan pembinaan juga pernah diberikan kepada kelompok dari Dinas Perindag dan Koperasi Lobar. Pihak kelurahan juga terus menfasilitasi kelompok agar terus mendapatkan bantuan dari pemerintah dan memberikan pembinaan agar meningkatkan kualitas produksinya agar produknya dapat bersaing dengan produk-produk dari luar. “Kami juga rencananya akan membangun tugu atau gapura sebagai ikon kawasan industri genteng agar lebih dikenal,”imbuhnya. (her)