Pemadaman Listrik Jangan Selalu Dikaitkan dengan Gempa

Perbaikan jaringan listrik PLN oleh petugas di salah satu titik jaringan. Perbaikan jaringan ini dilakukan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Trauma masyarakat belum hilang karena gempa. Nampaknya butuh waktu lama gangguan psikologi ini kembali normal. Boleh dilihat, ketika listrik mengalami pemadaman, sontak masyarakat berhamburan. Sebut saja pada pemadaman listrik Senin malam pekan ini.

Trauma masyarakat tak bisa ditutupi. Jalan-jalan gang menjadi ramai. Apalagi masyarakat pedesaan. Mereka berhamburan seketika, mencari tempat lapang. Masyarakat trauma, jangan-jangan pemadaman listrik akibat akan terjadinya gempa.

Inilah yang ditepis oleh PLN. Padahal, pemadaman listrik tidak ada sama sekali kaitannya dengan gempa. Terkecuali, listrik akan padam tatkala telah terjadi gempa besar. Biasanya karena dampak gangguan terhadap sistim kelistrikan dan pembangkit.

Pada saat terjadinya gempa besar beberapa waktu lalu, Fitriah Adriana, Deputi Manajer Hukum dan Humas dan Rofia Fitri A. Supervisor Humas, Kemitraan, dan Bina Lingkungan PLN Wilayah NTB membenarkan pemadaman yang dilakukan PLN. Hal itu akibat pembangkit listrik yang tak luput digoyang gempa. Secara otomatis sistem bekerja ketika menerima rangsangan dari gempa tersebut.

Baca juga:  PLN Akhiri Pemadaman Listrik

“Padangan masyarakat justru terbalik. Dikira akan terjadi gempa ketika PLN melakukan pemadaman. Tidak begitu. Gempa dulu, baru sistem mengamankan diri supaya tidak terjadi kerusakan yang lebih besar,” jelas Fitriah Adriana.

Listrik, digunakan sesuai SOP harus dalam keadaan aman. Bilamana keadaan sebaliknya, kondisi tidak memungkinkan, listrik akan menjadi sesuatu yang tidak aman. Gempa bukanlah sesuai yang normal untuk sistem kelistrikan PLN.

“Kebayang misalnya kalau listrik tetap menyala saat terjadi gempa.

Ada rumah yang roboh karena gempa, dan listrik dalam keadaan menyala. Itu jauh lebih berbahaya daripada hanya sekedar lampu padam. Itulah kenapa listrik padam pada saat kondisi yang tidak normal (gempa),” jelas Fitriah.

Pemahamanan terbalik inilah yang harus diluruskan kepada masyarakat. Pada saat gempapun, PLN tak mesti melakukan pemadaman. Bilamana getaran gempa masih skala kecil dan dapat ditolerir oleh sistem pengamanan di pembangkit-pembangkit dan jaringan.

Baca juga:  Diduga Gelapkan Dana Gempa, Bendahara Pokmas Ditangkap

“Gempa di atas 6 skala richter beberapa waktu lalu memang cukup besar guncangannya bagi sistem dan pembangkit kami. Karena itu, posisi paling aman bagi masyarakat adalah padam. SOP harus padam untuk mengamankan masyarakat sekitar. Meskipun di sisi lain kondisi memang mencekam, itu risikonya malah lebih kecil,” jelas Fitri.

Seluruh pembangkit milik PLN, sudah dirancang sedemikian protektif sesuai SOP. Pada saat dibangun, include dengan sistem pengamanan. Lantas mengapa masih saja terjadi pemadaman? Fitriah menjelaskan masih harus dilakukannya pemeliharaan. Baik pemeliharaan di pembangkit listriknya, maupun pemeliharaan kepada jaringan-jaringan listrik.

“Namanya juga mesin pembangkit terus beroperasi. Dan jaringan terus digunakan. Ya harus dipelihara secara berkala masing-masing pembangkit dan jaringan. Itulah sebabnya kenapa harus dilakukan pemadaman,” demikian Fitriah.

Imbauan kepada masyarakat dengan konsidi seperti ini diharapkan jangan panik. Jika terjadi pemadaman tanpa sebelumnya ada getaran. Diharapkan masyarakat menganggapnya sebagai situasi yang lumrah. Dan lebih mengutamakan memanfaatkan penerangan-penerangan alternatif. (bul)