Omzet UKM Merosot, Hingga 70 Persen

Ilustrasi UKM di Kota Mataram (Suara NTB/lin)

Mataram (Suara NTB) – Kota Mataram memiliki Usaha Kecil Menengah (UKM) sebanyak 34 ribu. Namun omzetnya kini menurun drastis hingga 70 persen. Pemilik UKM harus puas dengan omzet di bawah 30 persen saja.

“Karena gempa ini gairah masyarakat untuk belanja itu menurun. Itulah yang menyebabkan omzet UKM dan IKM kita ini mengalami penurunan yang cukup drastis,” kata Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan UKM Kota Mataram, Yance Hendra Dirra, Jumat, 28 September 2018.

Ia mengatakan bahwa kegiatan para UKM yang ada di Kota Mataram masih berjalan normal. Hanya saja tidak banyak pembeli yang datang. Menurutnya, ini disebabkan gairah berbelanja dari warga Kota Mataram setelah terjadinya gempa ini mengalami penurunan.

Baca juga:  Program "Yes I Do" Tingkatkan Kapasitas UMKM di Lombok Barat

“Mungkin warga masih ada yang trauma. Makanya salah satu solusi yang kita tawarkan ialah dengan membuka bazar murah di Jalan Udayana pada hari Minggu ini. Ini juga bentuk dari trauma healing ekonomi bagi warga kita,” ujarnya.

Sektor pangan menjadi sektor yang paling banyak mengalami penurunan omzet. Sebanyak 4 ribu UKM yang bergerak pada sektor pangan mengalami penurunan omzet lebih dari 70 persen. Sehingga ia berupaya untuk menstabilkan kondisi ini dengan menggelar bazar murah. Warga Kota Mataram bisa mendapatkan aneka produk pangan dengan harga yang lebih terjangkau.

“Makanya kita gelar bazar ini. Setidaknya biar bisa kembalikan omzet UKM kita ini. Karena omzetnya masih belum stabil sekarang ini,” ujarnya. Ia berharap kondisi UKM ini bisa kembali normal. Sehingga omzet mereka bisa kembali seperti biasa. “Jumlah UKM dan IKM kita ini banyak. Sementara yang belanja berkurang. Jadinya mereka pendapatannya jadi berkurang juga. Bisa dibilang ini adalah dampak tidak langsung dari musibah gempa yang terjadi,” ujarnya.

Baca juga:  Program "Yes I Do" Tingkatkan Kapasitas UMKM di Lombok Barat

Pemasaran berbagai produk UKM ini menjadi sedikit tersendat akibat rendahnya permintaan. Sebagian menyiasati dengan menjual produknya secara daring. Namun tentu saja itu tidak berpengaruh besar. Sebab yang menjadi konsumen utama UKM dan IKM ini adalah warga lokal. (lin)