Zul-Rohmi Dilantik, Optimis NTB Tumbuh Lebih Kuat

Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) terpilih Zulkifliemansyah (kiri) dan Wakil Gubernur terpilih Sitti Rohmi Djalilah (kanan) mengikuti prosesi kirab di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/9). (suarantb.com/BaliPost_Antara)

Mataram (Suara NTB) – Kepemimpinan Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, dimulai hari ini, Rabu, 19 September 2018. Ada banyak harapan terhadap kepemimpinan mereka. Meski tantangannya  juga tidak ringan. Apalagi NTB belum lama ini diguncang gempa.

Dalam wawancara  khusus dengan jajaran Redaksi Harian Suara NTB dan Radio Global FM Lombok, Sabtu, 1 September 2018 lalu, Dr. H. Zulkieflimansyah memaparkan gambaran besar strategi yang akan ditempuhnya dalam memimpin NTB lima tahun mendatang.

Bagi tokoh yang akrab disapa Dr. Zul ini, ada tiga pendekatan atau karakteristik yang akan menjadi landasan prinsipil dalam mengelola pemerintahan di Provinsi NTB.

Tiga prinsip itu adalah good, strategic dan pragmatic. Good bermakna pendekatan ditempuh harus baik secara hukum, etika, dan norma lainnya.  ‘’Jadi program atau gagasan besar, narasi atau apapun yang ingin kita bangun ini harus baik, aman,’’ ujarnya.

Strategic dimaknai sebagai karakteristik yang harus berdampak luas dan bisa membawa manfaat jangka panjang. “Pertimbangannya, nggak boleh asal populis. Misalnya kita ingin menekan angka kemiskinan drastis secara kuantitatif, tapi sebenarnya hanya bubble saja,’’ ujar Dr. Zul.

Sementara pragmatic memiliki makna bisa langsung atau cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pendekatan inilah yang ditempuh dengan mengadaptasi sejumlah kisah sukses dari para pemimpin sukses di berbagai daerah.

‘’Banyak kepala daerah yang sukses, jadi Gubernur, Bupati, Walikota, Presiden. Tinggal kita mengambil yang baik-baik saja. Ada yang baik dalam mengatasi kemiskinan, ya diambil yang baik di sana. Ada yang baik dalam melakukan relokasi, diambil strateginya. Ada yang bagus dalam menata taman, dalam mengelola investasi, ada yang bagus dalam reformasi birokrasi, ada yang bagus dalam pertanian, kelautan dan perikanan, ya diambil,’’ ujarnya.

Baca juga:  Menyerap Aspirasi, Menginformasikan Program melalui Safari Subuh

Tentu saja, pendekatan dengan mencontoh sukses pemimpin di daerah lain tidak dilakukan serampangan. Ada proses mengamati, meniru dan memodifikasi yang penting untuk dilakukan sebelum kebijakan itu diterapkan di NTB. ‘’Karena yang bagus di daerah itu, belum tentu bisa diaplikasikan di sini sepenuhnya. Harus disesuaikan dengan masyarakat kita di sini,’’ ujarnya.

Berbekal itulah, pada masa transisi, Dr. Zul meminta timnya untuk melakukan studi yang cukup pada praktik-praktik sukses dari kepala daerah yang dinilai berhasil.  ‘’Kita belajar dari Pak Ahok bahkan, (juga) programnya Pak Jokowi, sejak beliau menjabat Walikota Solo. Kemudian Bu Risma, Azwar Anas di Banyuwangi. Kita belajar dari banyak kepala daerah yang sukses,’’ tegas Dr. Zul.

Bangkit dari Bencana

 

Datangnya musibah bencana gempa bumi yang terjadi menjelang kepemimpinannya tak membuat Dr. Zul menjadi pesimis. Ia justru menganggap bencana ini sebagai sesuatu yang bisa membawa masyarakat NTB tumbuh lebih kuat dari sebelumnya.

Sebagai pimpinan yang baru, Dr. Zul menegaskan bahwa persoalan rehabilitasi dan rekonstruksi untuk korban bencana akan mendapatkan perhatian khusus. Lagi-lagi, strategi memulihkan masyarakat yang baru tertimpa bencana ini juga bukan hal baru. Sebelum memangku jabatan, Dr. Zul juga telah meminta timnya untuk belajar dari strategi pemulihan bencana serupa di Aceh pada 2004 silam. ‘’Kita sudah ketemu orang yang turun langsung di sana seperti apa. Kemudian gempa di Sumbar, Jogja dan lain sebagainya,’’ ujar Dr. Zul.

Baca juga:  Catatan Politik 2019, Rekonsiliasi Pasca-Pilpres dan Konsolidasi Politik Zul-Rohmi

Menurutnya, ada cukup banyak orang yang mau menyumbangkan tenaga, materi dan pikirannya untuk memulihkan NTB dari dampak bencana. ‘’Rata-rata yang mau membantu punya pengalaman, termasuk NGO dan lembaga donor. Jadi buat mereka, ini bukan masalah yang baru juga,’’ ujarnya.

Ia menegaskan, mereka telah mampu mengidentifikasikan apa masalah yang akan ditimbulkan saat bencana terjadi, kemudian setelah sebulan bencana berlalu, dan tantangan-tantangan apa yang akan muncul berikutnya. Juga, program seperti apa yang harus ditempuh oleh para pemangku kebijakan di daerah bencana.

‘’Sekarang tinggal kita punya kerendahan hati untuk mendengarkan. Mau merangkul semuanya, kemudian datang dengan solusi yang sudah bisa diantisipasi oleh teman-teman itu,’’ ujarnya tenang.

Dr. Zul menilai, apa yang telah dilakukan oleh Gubernur Dr.TGH. M. Zainul Majdi selama bencana, perlu dilanjutkan.

Sebagai keberlanjutan, Dr. Zul juga secara khusus menyebutkan sektor pariwisata yang cukup merasakan imbas bencana ini. Ia menilai, bencana gempa bumi justru membuat Lombok dan Sumbawa menjadi lebih populer.

Meskipun karena dipicu bencana, namun melambungnya popularitas NTB ini menurutnya bisa dikemas menjadi penjenamaan yang baik untuk sektor pariwisata. Dibutuhkan serangkaian kampanye yang bagus untuk mendatangkan kembali wisatawan ke Lombok dan Sumbawa.

Bisa jadi, ujar Dr. Zul, setelah gempa justru akan lebih banyak orang dari berbagai belahan dunia yang bersedia datang ke NTB.  ‘’Kalau ada pesan dari bagian publikasi Humas kita secara bagus, kita tinggal menyampaikan kita sudah siap, sudah pulih, dan destinasi kita yang eksotis itu sudah berjalan sedia kala,” tegasnya. (aan)