TNGR Batalkan Proyek Perbaikan Fasilitas Rinjani

Mataram (Suara NTB) – Gempa yang mengguncang Lombok juga berdampak pada pengadaan barang dan jasa. Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) bahkan harus membatalkan pengadaan untuk perbaikan fasilitas di jalur trekking Rinjani.

‘’Semua lelang kita batalkan, karena mau bagaimana lagi? Situasi seperti ini. Tidak mungkin kita paksakan pekerjaan dilanjutkan,’’ kata Kasi II TNGR, Rio Wibawanto kepada Suara NTB kemarin.

Pengadaan seperti pembuatan pos, penambahan fasilitas toilet, serta perbaikan jalur senilai ratusan juta rupiah, termasuk campaign area. Terpaksa pihaknya mengusulkan pengadaan baru tahun 2019 mendatang.

Bahkan akan diajukan revisi anggaran karena berpeluang menambah objek yang akan diperbaiki akibat kerusakan. ‘’Seperti di Pos Sembalun, itu kan rusak akibat longsor. Kita akan bangun fasilitas pos yang lebih tahan gempa,’’ tandasnya.

Baca juga:  Korban Gempa Jatuh Miskin Harus Dibantu Bersama

Kejadian gempa dan longsor Minggu, 29 Agustus 2018 lalu membawa hikmah dan pelajaran penting bagi TNGR, termasuk soal pengadaan. Fasilitas tidak lagi dibangun standard, tapi lebih ke pertimbangan bangunan tahan gempa atau bencana lainnya lain seperti longsor.

Selain bangunan fisik, non fisik juga akan dievaluasi. Seperti SOP pendakian disesuaikan dengan regulasi baru, adaptasi dengan bencana. Seperti jalur evakuasi pendaki ketika terjadi bencana, akan ditentukan spot khusus di tiap jalur sehingga ketika terjadi bencana, pendaki dan para porter lebih mudah menyelamatkan diri.

Baca juga:  Tanggapan Kapolda NTB Soal Dana Gempa Dibawa Kabur Aplikator

Pengalaman gempa dan longsor sebelumnya, terjadi kekacauan akibat semua panik. ‘’Seperti pengalaman kemarin porter tinggalkan tamunya. Sehingga wisatawan bingung. Ada pendaki yang ditinggal barangnya. Kita tidak ingin itu terjadi lagi, makanya kita perbaiki semuanya nanti,’’ tandasnya.

Namun masa perbaikan itu menunggu proses recovery, diperkirakan akan berlangsung setahun. Apalagi kondisi tanah di lereng Rinjani masih labil. Titik camp pendaki di Pelawangan juga retak sehingga membahayakan jika dipaksa dilakukan perbaikan, dikhawatirkan masih ada gempa susulan.

‘’Kita tunggu situasi benar benar pulih,’’ ujarnya. (ars)