Jatah Rumah Penerima Bantuan Hanya 1000 Unit, Bupati Lobar Protes BNPB

Giri Menang (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Barat (Lobar) dan Kabupaten Lombok Utara (KLU), dua daerah terdampak gempa. Dalam menghadapi persoalan dampak gempa, ke dua daerah ini ternyata berbeda dalam penanganan korban.

Sebelumnya pihak Pemkab Lobar menyerahkan data 52.000 rumah rusak berat dan ringan untuk mendapat bantuan dana stimulan dari pemerintah pusat. Namun data yang dirilis BNPB sebagai wakil pemerintah pusat, hanya 1000 lebih rumah yang terdata menerima bantuan.

‘’Sehingga tadi pas rapat koordinasi dengan BNPB, saya sampaikan protes itu,’’ ujar Bupati Lobar H. Fauzan Khalid kepada Suara NTB di Desa Mekar Sari, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, Rabu, 29 Agustus 2018 kemarin.

Data yang dirilis itu masih jomplang dari jumlah rumah rusak berat, sedang dan ringan yang diserahkan sebelumnya, mencapai 13.000 unit. ‘’Ini jumlah yang saya sudah SK kan dan sudah verifikasi lapangan. Tapi yang keluar 1000 lebih. Di satu sisi kita diminta cepat pendataan, tapi setelah cepat, data tidak sesuai keinginan,’’ jelasnya.

Baca juga:  Penyimpangan Dana Gempa, BPBD Sarankan Lapor Polisi dan “NTB Care”

Namun ia yakin keputusan itu belum final dan data yang belum masuk akan diinput lagi BNPB. ‘’Jawaban pihak BNPB tadi katanya akan diproses,’’ jelasnya.

Sementara di Lombok Utara, kini pengungsi dihantui hujan. Selain khawatir hujan masuk ke dalam tenda pengungsian, juga penyakit lain mengancam seperti diare.

Dewi Fauziah, pengungsi di Dusun Kapu, Desa Jenggala, mengaku bingung karena sejak dua hari terakhir langit mulai mendung. ‘’Kalau hujan, airnya masuk ke tenda. Pasti dingin juga,’’ katanya saat mengambil jemuran di sekitar tendanya.

Baca juga:  Dana Gempa Mengendap Rp173 Miliar Dipicu Data Anomali

Bupati Lombok Utara H. Najmul Akhyar mengaku mengkhawatirkan itu. Tanda tanda hujan turun sudah terlihat. Kekhawatirannya, tenda pengungsi yang dibuat seadanya dari terpal akan mudah masuk air.

‘’Belum lagi kekhawatiran penyakit,’’ ungkapnya. Sebelum hujan, berbagai penyakit diakui menimpa para pengungsi. Terlebih jika hujan turun, kekhawatiran semakin menghantui pengungsi.

Untuk itu ia sudah mendorong warga, khususnya pengungsi kembali ke rumah masing masing. Menggunakan bahan-bahan sisa reruntuhan seperti kayu dan triplek. Bangun rumah seadanya untuk hunian sementara, sambil menunggu bantuan dari pemerintah pusat.

Masa recovery ini diperkirakannya akan panjang, sehingga pengungsi tidak akan tahan di pengungsian dalam kondisi darurat. Bupati juga mengaku sudah mendorong pemerintah, swasta dan pengusaha lainnya untuk turut membantu rumah sementara yang semi permanen. (ars)