Patahan Aktif Flores Back-arc Thrust Pemicu Rangkaian Gempa Besar

Mataram (Suara NTB) – Rangkaian gempa berskala besar mengguncang Lombok dan Sumbawa dua pekan belakangan ini. Penyebabnya, diduga aktivitas Sesar Naik Flores atau Flores Back-arc Thrust sebelah utara Pulau Lombok. Aktivitas deformasi batuan pergerakan naik tersebut perlu dicermati agar masyarakat dapat mempersiapkan diri secara tenang dan terukur.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami, Dr Daryono menjelaskan masyarakat Pulau Lombok, Sumbawa, Bali, dan Flores perlu beradaptasi.

“Flores Back-arc Trhrust ini sesar yang sangat galak. Ini termasuk zona gempa yang terabaikan selama ini,” ungkapnya saat dihubungi Suara NTB, Senin, 20 Agustus 2018.

Dia merujuk pada sejarah gempa besar yang ditimbulkan pergerakan Sesar Naik Flores pada tahun 1815 dan 1857 di Bali, 1836 di Bima, 1976 di Bali, tahun 1992 di Flores. Gempa tersebut dengan rentang magnitudo 7 sampai 7,8 SR yang memicu tsunami.

Sesar Naik Flores, terang Daryono, merupakan rupture atau robekan yang membentang di utara Pulau Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores, sehingga wilayah tersebut rawan gempa bumi dan tsunami.

“Dari sisi tektonik aktif, seismik aktif dan sejarah ini bukan hal aneh bagi seismologi. Itu memang harus diwaspadai sampai kapan pun Flores Back-arc Thrust memang harus diwaspadai. Secara tektonik memang sangat aktif dan gede-gede semua,” terangnya.

Gempa Lombok dengan magnitudo 7.0 SR Minggu, 5 Agustus 2018 berikut susulannya dan gempa baru 6,9 SR pada Minggu, 19 Agustus 2018 merupakan kumulasi medan tegangan di kerak bumi yang dangkal. Pusat dan kedalaman pusat gempa tidak terpaut jauh.

Gempa susulan mungkin akan terus terjadi dengan magnitude yang fluktuatif. “Dari gempa yang awal (susulan) tiga sampai empat bulan. Tapi dengan adanya yang tadi malam (Minggu 19/8) mungkin bisa mundur lagi,” sebutnya.

Dalam jangka pendek ini, masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan tetap waspada. Masyarakat diimbau menjauhi bangunan yang rawan roboh akibat kerusakan gempa sebelumnya. Kemudian tetap berada di tempat evakuasi atau pengungsian.

BMKG atau siapa pun tidak bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi. Seperti halnya rentetan gempa setelah magnitudo 7 SR pada Minggu, 5 Agustus 2018 lalu. BMKG menganalisis tren menurun fluktuatif berdasarkan eksponensial pengukur gempa yang menyentuh dasar, pertanda pergerakan sudah luruh.

“Tapi sekali lagi kita tidak bisa meramalkan. Masyarakat dengan kondisi seperti ini tetap waspada. Dalam artian masih di pengungsian dulu. Baiknya masyarakat di tempat yang evakuasi dulu,” jelasnya.

Dalam jangka panjang, persiapan yang dapat dilakukan masyarakat yakni membangun rumah dengan struktur kuat dan tahan gempa. Selain itu dapat pula mengambil pilihan lain dengan menempati rumah dengan bahan kayu atau bambu.

Daryono menjelaskan, masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa perlu mulai memahami bahaya gempa berikut persiapan mitigasi bencananya.

Khusus untuk yang berada di wilayah Lombok Utara atau sebelah utara Lombok Timur, masyarakat bisa mengambil pilihan membangun rumah kayu sesuai dengan kearifan lokal.

“Masyarakat yang tinggal di dekat patahan aktif, di tempat rawan gempa, pilihannya bikin bangunan yang kokoh atau membangun rumah kayu,” pungkasnya. (why)