“Monologue Project #2”, Panggung Para Perempuan

Mataram (Suara NTB) – Sembilan orang perempuan menampilkan monolog di panggung Monologue Project #2, dari Rabu, 25 April sampai Minggu, 29 April di Taman Budaya NTB. Tema perempuan begitu kuat terasa di hampir seluruh penampilan.

Di  Monologue Project #2 yang diselenggarakan oleh SFNlabs, para aktris seakan menjadikan pangggung pementasan sebagai milik mereka.

Tema-tema tentang perempuan begitu kuat di sejumlah pertunjukan, antara lain ditampilkan Sanggar Seni Darsah, Palu, Sulawesi Tengah yang menampilkan pertunjukkan berjudul Perempuan dan Kursi Roda karya Gita Pratama, adaptasi dari novel The Souls Moonlight SonataI karya Wina Bojonegoro.

Aktris Fitriani Idris menampilkan sosok seorang perempuan tua di atas kursi roda. Masalah yang teramat sulit dialaminya, suaminya secara diam-diam berselingkuh dengan pembantu. Pembantu itu melahirkan seorang anak yang memiliki “bakat” yang sama dengan ayahnya.

“Kisah itu tentang perselingkuhan, tentang perempuan yang harus kuat menghadapi masalah rumah tangga. Apapun yang terjadi, harus menjadi perempuan yang kuat,” kata Fitriani Idris.

Tema perempuan dari sudut pandang berbeda ditampilkan Bengkel Sastra SMAN 1 Dompu dengan lakon Ibu Sejati, naskah karya Putu Wijaya dan disutradarai Muh. Faisal Pratama. Aktris Eka Fitriani Putri menampilkan kesedihan seorang ibu yang melaporkan anak kandungnya, yang membantai satu keluarga termasuk pacarnya sendiri.

Keberanian seorang ibu atau perempuan sebagai sosok yang harus menegakkan keadilan. “Siapa lagi yang wajib melaporkan anak yang haus darah kalau bukan bunda kandungnya sendiri,” ujar tokoh Ibu yang diperankan Eka Fitriani di atas panggung.

Tema kegetiran hidup seorang perempuan  ditampilkan Teater Putih FKIP Unram dengan lakon monolog berjudul Wanci yang disutradarai Zainul Hadi dan disutradari Zainul Hadi. Aktris Laelatunni’am menampilkan kegetiran hidup seorang perempuan yang berada di lingkaran keluarga pelacur dan germo.

Begitu juga yang ditampilkan oleh SFNlabs Mataram, dengan lakon berjudul Dendam Bunga Api, naskah oleh Tjak S. Parlan yang disutradarai Syamsul Fajri Nurawat.

Aktris Sonya Febyanti memerankan tokoh aku yang melebur dalam berbagai dimensi, ruang, juga waktu, sebagai karaker yang mudah disukai sekaligus dibenci. Suatu kali ia berada dalam kuasa seorang anak kecil yang kerap mengutuki bapaknya karena telah dilarang bermain api.

Sebanyak sembilan aktris tampil dalam monologue project #2 itu, berasal dari NTB, luar NTB, dan Malaysia. Aktris yang akan  dari NTB yaitu Sonya Febyanti dari SFNlabs, Vicka Yulia Pertiwi dari Teater Embrio, dan Laelatunni’am dari Teater Putih. Juga Wanda Azhawari dari Teater Warige Praya, Eka Fitriani Putri dari Bengkel Sastra SMAN 1 Dompu.

Sementara aktris dari luar NTB yang tampil yakni Fitriani Idris dari Sanggar Seni Darsah-Palu, Shofa Sophiyah K dari Piktoral Actors Laboratory-Bandung, dan Rima Damayanti dari Teater Tjaroeban-Cirebon. Satu lagi dari Teater Dukun, Malaysia, Sarah Monika Binti Roni Sow yang juga berasal dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia.

Minimnya Aktris

Tema yang diusung dari Monologue Project #2 yaitu Solis Para Aktris. Sebelumnya, penanggungjawab kegiatan itu, Syamsul Fajri Nurawat tema itu hasil diskusi dengan rekan-rekannya. Ada kecenderungan, khususnya di Mataram sangat sedikit sekali jumlah aktor perempuan yang konsisten, atau muncul untuk lebih jauh menekuni ruang kajian pemeranan.

“Sangat minim sekali jumlah pelaku seni perempuan yang mendedikasikan dirinya untuk dunia pemeranan. Memang hadir dalam ruang semacam kegiatan festival anak SMA, beberapa aktris diajak kelompok teater, tapi mereka tidak konsisten. Itu yang kita coba untuk menumbuhkan semangat berproses, terutama yang ada di Mataram,” urainya.

Tidak hanya di Mataram, di sejumlah wilayah di Indonesia juga disebut tidak banyak perempuan yang konsisten menekuni seni peran atau teater. Fitriani Idris, dari Sanggar Seni Darsah, Palu. Menurut Fitriani, di Palu, sedikit sekali perempuan yang menjadi pejuang seni, terutama teater.

“Kalau di Palu sendiri, cuma ada dua orang penulis perempuan untuk naskah, belum ada regenarasi, dan kami mencoba untuk regenerasi,” ujarnya.

Kegiatan seperti Monologue Project #2 diyakininya bisa membuat tumbuhnya aktris. Fitriani mengkhawatirkan jika tidak ada orang yang mengambil tongkat estafet yang menekuni seni pemeranan.

“Pentingnya ada perempuan di seni peran, untuk pelestarian. Karena selain estafet seni, tapi bagaimana melestarikan budaya lewat budaya, mau seni apa saja,” katanya.

Pada talk show yang dilaksanakan setelah pementasan terakhir, Minggu (5/2), disoroti juga persoalan minimnya perempuan yang konsisten menekuni seni teater.

Sonya Febyanti dari SFNlabs mengatakan, banyak orang yang ketika kuliah dan atau sekolah menekuni teater, tapi karena berbagai alasan seperti mengejar karir atau menikah, akhirnya berhenti menekuni teater. Selain itu minimnya ruang untuk berkarya teater juga menjadi alasan lainnya.

“Minimnya ruang, dan komunitas teater yang minim di Lombok,” katanya.

Winsa dari Teater Embrio menyampaikan bukan hanya aktris yang minim, tapi aktor juga minim. “Sebenarnya aktor juga minim, di Indonesia ini hanya beberapa saja yang disebut aktor. Sebenarnya kita semua minim,” katanya. (ron)