Pasar Sayur dan Buah NTB Dikuasai Daerah Lain

Mataram (Suara NTB) – Pengembangan sayur dan buah dipandang sebelah mata. Padahal, penduduk NTB jumlahnya hampir mencapai 5 juta. Belum lagi angka kunjungan wisatawan yang tahun ini ditargetkan 4 juta.

Jika dikalkulasi, jumlahnya mencapai hampir 9 juta. Itulah potensi pasar untuk komoditas hortikultura. Terutama buah. Sementara pemerintah daerah tak mendukung pengembangan sayur dan buah. Dukungan anggarannya sangat minim. Akibatnya, sayur dan buah dari luar NTB yang mengambil lahan basah ini.

Lapak pedagang buah di Cakranegara dipenuhi buah-buahan yang bukan hasil produksi buah dalam daerah. Jangan disebut sayur dan buah yang dijual di supermarket-supermarket. Itu didatangkan khusus, ada juga yang impor.

Di jalan-jalan, kita juga banyak menjumpai pedagang-pedagang buah asongan menjamur. Lihat saja, buah-buah yang mereka jajakan, hampir seluruhnya dari luar NTB. Bahkan untuk buah sekelas nanas dan jambu, harus datangkan dari luar.

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, ada 323 jenis tanaman hortikultura yang terdaftar di Kementerian Pertanian. Dari sekian banyak jenis itu, pemerintah pusat hanya memberikan dukungan untuk mengembangkan manggis, mangga dan pisang. Itupun sebagian dikurangi lagi.

Baca juga:  Jadi Kado Setahun Zul-Rohmi, Ini Keistimewaan Bendungan Meninting

“Pemerintah pusat hanya fokus di pangan. Yang didukung utama adalah bawang merah, bawang putih dan cabai. Karena dianggap sebagai penyumbang inflasi,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ir. Husnul Fauzi, M. Si.

Dijumpai di Mataram, Rabu, 2 Mei 2018 kemarin, ia mengatakan, sementara di APD anggaran mendukung sayur dan buah dipangkas, bahkan ditiadakan. Padahal, dengan sasaran pasar yang demikian besar, pengembangan sayur dan buah akan sangat memperkuat program pengentasan kemiskinan di NTB.

Tahun 2018, Peningkatan Produksi Buah dan Florikultura yang didukung anggaran pusat dengan alokasi Rp 2,9 miliar. Terbagi pada dua  sub kegiatan, antara lain. Kawasan Manggis seluas 195 hektar dengan alokasi Rp. 1.5 miliar. Pengembangan  kawasan pisang 60 hektar dengan lokasi anggaran Rp 1,3 miliar.

Baca juga:  Ekspor Tuna NTB Meningkat Tajam

Dan untuk pengembangan sistem perbenihan  hortikultura  didukung anggaran Rp1,1 miliar yang terbagi pada dua sub kegiatan, antara lain benih manggan sebanyak 10.000 batang dengan alokasi  Rp 140 juta, benih manggis  sebanyak 45.000 batang dengan alokasi    Rp900 juta. Dan benih pisang 15.000 batang dengan alokasi   Rp150 juta.

Untuk manggis, lanjut kepala dinas, pengembangan kawasan baru seluas 115 hektar masing-masing tersebar di kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah, masing-masing 45 hektar. sementara Lombok Utara 25 hektar. Untuk dukungan pemeliharaan, dialokasikan khusus untuk Kabupaten Lombok Barat seluas 80 hektar.

Sementara kawasan pengembangan pisang, tahun ini hanya Kabupaten Dompu yang menjadi sasaran dengan luas 60 hektar. Bantuan untuk pengembangan kawasan buah yang diberikan kepada kelompok tani/wanita tani/gapoktan untuk pengebangan kawasan baru yaitu bibit tanaman dan saprodi. Sedangkan untuk pemeliharaan kawasan buah, bantuan yang diberikan hanya saprodi saja, seperti pupuk dan obat-obatan. (bul)