La Hila, Ide Idealisme Bermusik dari Kawasan Timur NTB

Mataram (Suara NTB) – Rekor 400.000 pemirsa dan ribuan subscribe di akun Youtube, atau pernah menjadi juara lomba akustik tingkat Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, belum jadi prestasi apa-apa.

Pencapaian tertinggi La Hila Band adalah menjadi band papan atas yang dirintis dari kawasan paling Timur NTB, Kabupaten Bima. Proses rekaman 20 lagu untuk album kedua, roadshow ke sejumlah media arus utama jadi tahap demi tahap menapaki proses ke pentas nasional.

Lahir dari dialog panjang dua sahabat, Apen Makese dengan Nico, nama band La Hila kuat hubungannya dengan sebuah hikayat di Desa Kala Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Legenda tentang putri yang hilang bernama La Hila. Tidak ada garis keturunan sebagai gen kelahiran Donggo tak membatasinya untuk memulai membesut band dari Dana Mbojo setelah memutuskan nama bandnya.

 “Saya bukan orang Bima, tapi saya terinspirasi dari orang Bima,” ujar Nico memulai ceritanya, pertengahan April lalu.

Ia melanjutkan “Nama La Hila saya dapatkan inspirasi dari sahabat saya dari Donggo, Apen Makese, dia penulis juga. Saat cari ide mau bikin band, dia sebut satu nama, La Hila, nah stop di situ. Akhirnya saya putuskan nama La Hila dari banyak opsi lain. Itu (La Hila) cerita tentang legenda putri yang hilang di Donggo, tepatnya di Desa Kala,” Nico mengisahkan dialognya dengan Apen Makese malam pada tanggal 1 Januari 2010.

Itu kemudian cikal bakal frontman La Hila asal Jakarta ini mendirikan band, kini dengan sedikit gubahan formasi Ame Malingga (vocal), Nico Manggila (Bass), Ilham Kusuma (Keyboard), Aji Yudistira (Gitar).

Niko ingin mewarnai karirnya di dunia musik tidak sekedar hiburan dan merebut kue di industri seni. Ada idealismenya ketika mendapati tidak ada satu pun grup musik yang establish dari bagian timur NTB.

“Kalau solois banyak, tapi yang band belum ada yang ngeboom dari Timur. Nah, lewat La Hila, saya, kami, ingin berbuat untuk Bima,” ujarnya. Niko ingin mengusung spirit bermusik tanpa mengabaikan kearifan lokal.

Terlihat jelas pada visinya yang ingin mengangkat legenda La Hila menjadi legenda nusantara, agar banyak orang tercerahkan khususnya warga  Bima tentang kisah La Hila sebagai kearifan lokal yang harus dipelihara.

Misi selain menginspirasi generasi muda agar berani membuat perubahan, La Hila ingin menjadi simbol perdamaian. Mengembalikan perhatian generasi muda terhadap sejarah dan budaya lokal.

Konsisten dengan genre pop alternatif, keputusan untuk memboyong Ame dkk. hijrah homebase di Jakarta adalah upaya untuk pencapaian lebih. Step by step mereka lalui untuk berkarya kemudian mengembalikan kesuksesan itu ke  Bima dan Provinsi NTB umumnya.

Niko ingin ketika orang orang menyebut La Hila, berarti mewakili pembicaraan tentang Bima yang merupakan bagian dari NTB. Tidak ada garis pemisah. “Bicara La Hila berarti bicara NTB. Ini mimpi kita,” ujar Niko Optimis. (ars)