Listrik Terganggu, Ini Penjelasan PLN

Mataram (Suara NTB) – Arus listrik tersendat. PLN melakukan pemadaman bergilir. Dimulai pada Jumat dini hari hingga, sore Sabtu.

Pemadaman listrik secara tiba-tiba di Pulau Lombok ini sempat membuat masyarakat panik. Apalagi mereka yang mengandalkan usahanya dari sumber listrik.

ruas-ruas jalan di Kota Mataram juga terganggu. terutama perapatan jalan yang terpasang traffic light. Nampaklah ketergantungan masyarakat akan energi listrik ini sangat besar.

PLN Wilayah NTB mengkonfirmasi, pemadaman listrik yang terjadi di Lombok pada Sabtu (28/4/2018), disebabkan oleh adanya gangguan pada Sistem Kelistrikan Lombok. Gangguan terjadi pada sistem penyalur daya dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Pringgabaya ke Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kilo Volt (kV).

Pada saat gangguan terjadi, proteksi sistem kelistrikan akan bekerja secara otomatis memadamkan aliran listrik ke pelanggan. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan daya dan kebutuhan yang ada, jika  pasokan dan kebutuhan daya yang ada tidak seimbang, maka berpotensi merusak infrastruktur kelistrikan milik PLN dan perangkat kelistrikan milik pelanggan.

Secara teknis, pada sistem pembangkit interkoneksi atau pembangkit yang saling terhubung satu sama lain, jika salah satu pembangkit mengalami gangguan, maka pembangkit yang lain harus memikul beban pembangkit yang terganggu tersebut, karena beban yang berlebih maka pembangkit lainnya juga ikut mengalami gangguan.

Jika dianalogikan seperti dua orang yang mendayung satu sampan, jika satu orang tidak ikut mendayung maka yang lainnya akan merasa kelelahan akibat beban yang terlalu berat dan akhirnya sampan terbalik dihantam gelombang. Inilah yang terjadi pada Sistem Kelistrikan Lombok yang sudah interkoneksi.

Untuk proses penormalan pasokan listrik harus memerlukan waktu, karena dilakukan secara bertahap.  Pembangkit besar, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tidak bisa serta merta langsung dihidupkan begitu saja setelah terjadi padam menyeluruh (Black Out), karena mesin pembangkit ini membutuhkan listrik dari pembangkit lain untuk pembakaran batu bara, memanaskan air (boiler) hingga menjadi uap, memompa oli, membuka valve (katup), menyalakan instrumen elektronik, dan sebagainya, proses ini membutuhkan waktu hingga 12 jam.

PLTU memerlukan pembangkit lain yang dapat melakukan Black Start atau pembangkit yang berfungsi sebagai penggerak mula (Prime Movers). Black start dilakukan oleh Generator yang digerakan oleh mesin Diesel yang hanya memerlukan accu atau angin untuk melakukan start engine, yakni PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel). Kemudian setelah PLTD beroperasi dan menghasilkan listrik, lalu dapat memasok ke PLTU barulah sistem Interkoneksi dapat berjalan lagi. Selanjutnya tahap penormalan dilakukan agar pasokan energi listrik dapat tersalurkan sampai ke sisi pelanggan.

Untuk saat ini, PLTU yang memasok Sistem Kelistrikan Lombok belum dapat beroperasi normal, seperti PLTU Jeranjang dan PLTU IPP Lombok Timur. Perkiraan beban puncak pada Sabtu (28/4/2018) sebesar, 230 MW, dengan perkiraan pasokan daya sebesar 160 MW, sehingga akan menyebabkan pemadaman bergilir (sementara) hingga kedua PLTU tersebut dapat kembali memasok daya ke Sistem Kelistrikan Lombok.

Sehubungan kejadian tersebut, PLN mengimbau kepada seluruh pelanggan untuk sementara dapat menggunakan listrik secara efisien.

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami juga mohon doa dari seluruh masyarakat untuk kemudahan dan kelancaran proses penormalan tersebut,” ucap Manajer PLN Area Mataram, Chaidar Syaifullah.

Adapun jadwal rencana pemadaman bergilir dapat dilihat di Fan Page Facebook PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat. (bul)