Kenangan Ahyar Abduh dan Buah “Jeruti” di Senteluk

Giri Menang (Suara NTB) – Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh, punya kenangan masa kecil yang cukup manis di Dusun Senteluk, Batulayar, Lombok Barat. Kenangan itu terletak pada nikmatnya menyantap buah jeruti (jeruk) yang tumbuh di salah satu rumah milik kerabatnya di daerah tersebut.

Memori tentang jeruti itu kembali terlintas di benak Ahyar saat ia menyusuri gang-gang menuju Masjid Al-Hikmah di Dusun Senteluk, Batulayar, Lombok Barat, Jumat, 9 Februari 2018.

Ahyar datang berkunjung ke sana atas undangan sejumlah tokoh setempat. Ia pun hadir didaulat untuk menjadi khatib salat Jumat yang digelar di masjid tersebut.

Kehadiran Ahyar disambut cukup antusias oleh warga di Senteluk Daya dan Senteluk Lauk yang biasanya menunaikan ibadah Jumat di masjid Al-Hikmah. Warga yang biasanya langsung bubar usai salat Jumat, kini tak beranjak dari masjid untuk bersilaturahmi dengan Ahyar.

Tak ayal, saat berpidato usai salat Jumat, Ahyar langsung menodong ratusan warga dengan pertanyaan soal keberadaan buah jeruk yang rupanya sudah ditebang. “Mbe jeruti sak laek no (mana pohon jeruk yang dulu itu)?” ujar Ahyar. Para tetua desa yang mengetahui keberadaan pohon jeruk itu sontak tertawa mendengarnya.

Ahyar menegaskan, pohon jeruti itu memang selalu ada dalam kenangan masa kecilnya. Saat ia masih kecil, Ahyar dan keluarganya sangat menyukai buah jeruti yang dari Senteluk. Menurut Ahyar, setiap kali bertemu jeruti senteluk, ia dan saudara-saudaranya pasti berebut buahnya.

“Kalau sudah ada jeruti senteluk, mulai sudah berebut dengan semeton-semeton (saudara-saudara),” ujar Ahyar.

Tokoh masyarakat setempat, H. Marzuki menuturkan, dulunya, tak jauh dari masjid Al-Hikmah memang tumbuh pohon jeruk bali yang buahnya nikmat. Buah itulah yang dimaksudkan Ahyar.

Marzuki berkisah, di Senteluk memang tumbuh banyak pohon jeruk. Namun, pohon itulah yang buahnya paling menjadi rebutan.

Kebetulan, pohon itu tumbuh di kediaman H. Nasrudin yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Ahyar Abduh. “Dulu H. Nasrudin ini Kades. Sekarang cucunya H. Nasrudin ini

juga jadi kades. Jeruk itu tumbuh di tanah H. Nasrudin itu,” ujar Marzuki.

Sementara, dalam sambutannya, Ahyar menjelaskan bahwa dirinya hadir di Senteluk atas undangan para tokoh setempat. Putra TGH. Abdul Hanan ini menegaskan, kehadirannya dalam rangka bersilaturahmi dengan warga sekitar.

Terkait momentum Pilkada NTB yang saat ini tengah bergulir, Ahyar yang juga Bakal Calon Gubernur NTB ini mengakui masyarakat tentu mulai sibuk menimbang-nimbang pilihan. Ia menegaskan, proses menimbang calon pemimpin ini memang adalah proses yang harus dihormati.

“Sebab, mau tidak mau yang punya hak kedaulatan untuk memilih pemimpin itu adalah masyarakat atau rakyat,” ujarnya.

Ia menegaskan, kehadirannya bukanlah untuk mengajak masyarakat memilihnya. Menurutnya, ajakan untuk memilih tidak boleh disampaikan oleh para kandidat. “Yang penting saya hanya ingin mengingatkan, mari kita selalu menjaga ukhuwah islamiyah,” tegasnya.

Ia menegaskan, upaya dirinya untuk hadir di tengah masyarakat tak lain sekedar upaya untuk saling mengenal dan mempertahankan hubungan baik. Tak lupa, sebagai sosok yang dikaruniai kelebihan rezeki, Ahyar juga merasa perlu ikut andil memberikan sumbangan dalam proses pembangunan masjid Al-Hikmah tersebut.

Warga yang dikonfirmasi wartawan pun sempat mengutarakan penilaiannya terhadap sosok Ahyar yang hadir di tengah mereka. M. Waris Wijaya, seorang mualaf yang berasal dari Jawa Timur, juga mengaku senang karena akhirnya bisa bertemu Ahyar secara langsung.

Waris yang sangat mengidolakan sosok Bung Karno bahkan pernah datang secara khusus ke Sekretariat DPD PDIP NTB untuk menanyakan siapa sosok yang didukung PDIP di Pilkada NTB. Ketika mengetahui bahwa dukungan PDIP diberikan kepada Ahyar, Waris mengaku sangat senang. Karena rupanya sosok ini memang ia anggap pantas untuk didukung sebagai Calon Gubernur.

“Dulu ke PDIP masuk, tanya calonnya dari PDIP siapa? Terus disebut Pak Ahyar. Begitu ketemu beliau di sini, saya terharu sampai keluar air mata,” pungkas Waris. (aan/*)