TGB: Idul Fitri Harus Jadi Titik Balik

0
67

Mataram (suarantb.com) – Berakhirnya bulan Ramadan disambut dengan peringatan Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah harus menjadi titik balik bagi seorang muslim. Titik balik menjadi pembuka dari rangkaian amal yang lebih baik. “Tugas kita adalah mengisi waktu yang tersisa dalam hidup kita hari-hari mendatang, yang kita sebut dengan masa depan dengan sebaik-baik amal dan perbuatan,” kata Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi atau TGB saat menjadi khatib Salat Idul Fitri di Islamic Center.

Ada dua hal yang disyaratkan untuk memulai hari-hari mendatang dengan amalan yang lebih baik. TGB menyebutkan iman dan amal. Kokohnya iman kepada Allah SWT dalam diri tiap muslim dan kemurnian tauhid merupakan pangkal dan pusat segenap kebaikan dan kemuliaan.

“Sekitar 360 kali kata amal yang berarti kerja dan karya disebut dalam Alquran dan 69 kali di antaranya disebut bersamaan dengan iman ‘Innallazina aamanu waamilushalihat’. Hal ini menunjukkan hubungan tak terpisahkan antara keimanan dan amal perbuatan,” tuturnya.

Menata iman dan amal saja, tak menjamin seorang muslim bisa lulus dari kehidupan dunia dan mendapatkan kemuliaan di akhirat. Ada kriteria-kriteria khusus yang harus dipenuhi amalan seorang muslim agar lulus di dunia. Yakni kriteria ilahiyah, insaniyah dan akhlakiyah.

Kriteria ilahiyah, artinya amalan dilakukan berlandaskan iman kepada Allah SWT. Perbuatan yang diorientasikan sebagai ibadah dilaksanakan karena pancaran iman di dada, kelak di akhirat akan hadir menjadi pembela di hadapan Allah SWT. Nilai ilahiyah juga berarti perbuatan itu mampu mendekatkan diri kita kepada Allah, mengingat-Nya setiap saat, mengokohkan keyakinan kepada-Nya dan menyadarkan pada akhirnya semua akan kembali kepada-Nya.

Kriteria kedua yaitu insaniyah juga sangat penting. Bahwasanya amal perbuatan harus memiliki dimensi kemaslahatan dan kemanfaatan bagi manusia termasuk di dalamnya lingkungan masyarakat, bangsa dan negara.

  NTB Diburu Investor

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Artinya kebaikan yang paling tinggi nilainya adalah yang memberi manfaat bagi manusia, begitu juga sebaliknya,” jelasnya.

Dan kriteria terakhir, akhlakiyah. Kriteria ini mewajibkan suatu amalan memenuhi standar hukum moral dan etika. Sehingga dalan mengisi kehidupan, tujuan yang mulia harus ditempuh dengan jalan yang mulia. Suatu perbuatan yang istimewa bisa saja tidak ada nilainya, sia-sia manakala ditempuh dengan proses yang tidak baik dan bertentangan dengan tata nilai Islam.

Dalam sebuah hadis digambarkan seseorang berjalan jauh menuju tanah suci menempuh perjalanan panjang penuh tantangan letih dan lelah. Sesampainya di depan Ka’bah ia berdoa dengan menyeru nama Tuhan.

“Tapi sayang sekali kata Rasulullah minumannya haram, makanannya haram pakaian yang melekat di badannya pun haram. Lalu Rasulullah berkata bagaimana mungkin Allah mengabulkan doanya,” cerita TGB. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × four =