VIDEO : Tujuh Tahun Tanpa Kabar, Ahyar Rosidi Bertemu Kembali dengan Keluarga

Mataram (suarantb.com) – TKI asal Lombok Utara, Ahyar Rosidi yang dipulangkan dalam kondisi stres berat akhirnya dipertemukan kembali dengan keluarganya hari ini, Kamis, 9 Februari 2017. Sang ibu, Samiah berhasil bertemu putranya yang selama tujuh tahun merantau ke Malaysia.

Kendati kesulitan memperoleh informasi alamat asal Ahyar, tim Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Dinas Sosial Kabupaten Lombok Utara (KLU) berhasil menemukan keluarga Ahyar setelah menyebarkan fotonya ke sejumlah wilayah di KLU. Kerabat Ahyar yang mengenali fotonya kemudian mengabarkan pada sang ibu yang tinggal di Dusun Tudu Lauq, Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Lombok Utara.

Pertemuan Ahyar dengan ibunya berlangsung penuh keharuan di Kantor Dinas Sosial NTB. Dimana selama tiga hari tinggal di Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) NTB, Ahyar selalu duduk tanpa ada ekspresi. Saat bertemu sang ibu, ia menangis tersedu-sedu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia menangis di pelukan ibunya.

“Sudah tujuh tahun dia tidak pulang, tidak ada kabar. Sampai saya pergi ke orang pintar untuk carikan informasi, dia cuma bilang Ahyar pasti pulang,” ujar Samiah.

Samiah bercerita Ahyar berangkat ke Malaysia atas ajakan pamannya. Saat itu, usianya 14 tahun. Walau berat melepaskan kepergian Ahyar, Samiah mengaku membiarkannya pergi dengan memberi bekal hanya Rp 700 ribu. Itu pun dengan iming-iming janji sang paman akan menjaga anaknya.

“Dia nanti akan ikut saya, kalau saya pulang dia juga pasti ikut pulang, katanya. Tapi sampai tujuh tahun anak saya tidak ada kabar. Boro-boro mau kirim uang,” ucapnya.

Himpitan ekonomi membuat wanita 46 tahun ini merelakan anaknya turut merantau ke negeri orang. Terlebih sang suami juga meninggalkannya ke Malaysia saat Ahyar berusia empat bulan. Dan tak kembali pulang, malah menikah dan berkeluarga di sana. Sehingga ia memutuskan untuk menikah lagi.

  Lagi, Jenazah TKI Asal Lotim Dipulangkan

Meski demikian, saat ini kehidupan Samiah masih tergolong kurang mampu dengan upah yang didapat dari menjadi buruh tani. Menurut pantauan suarantb.com, selama pertemuan itu Ahyar hanya sebatas tersenyum, belum ada kata yang terlontar darinya meski banyak yang memancing dengan pertanyaan. Kondisi ini diduga karena tekanan psikis yang dialaminya sangat berat. Sehingga kemampuan berbicaranya menghilang untuk sementara.

Meski demikian, ia sudah mau menyantap makanan dan minum yang sebelumnya sangat susah ia lakukan.

“Kita akan terus pantau keadaannya, sesuai dengan arahan dari Pak Kadis. Kalau ada perkembangan apa, nanti akan kami laporkan,” kata Koordinator TKSK Dinas Sosial KLU, Saparudin. Setelah melihat kondisi rumah Samiah yang dianggap tidak layak huni, Saparudin berniat mengajukan bantuan bagi keluarga ini kepada pemerintah setempat. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here