Beranda Headline 2.830 HP Milik Penumpang Pesawat Disita Bea Cukai

2.830 HP Milik Penumpang Pesawat Disita Bea Cukai

Mataram (Suara NTB) – Petugas Bea Cukai hingga pekan ini telah menyita sebanyak 2.830 pcs handphone milik penumpang pesawat udara yang masuk ke Lombok. Pemiliknya adalah mereka yang pulang dari luar negeri. Termasuk diantaranya adalah TKI.

Sebanyak 2.830 pcs handphone ini adalah sitaan sejak tahun 2016 lalu. Akan diapakan, selanjutnya masih menunggu arahan dari Kementerian Keuangan. Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Mataram, Himawan Indarjono saat menerima kunjungan Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dra. Hj. Selly Andayani, M.Si dan jajaran dan Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi NTB.

Kunjungan kemarin dalam rangka membangun sinergi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang aturan yang ditetapkan pemerintah. Seperti diketahui, larangan membawa HP lebih dari dua dari luar negeri, diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 38 tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82/2012 tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam dan Komputer Tablet.

Regulasi tersebut mengatur tentang pembatasan maksimal dua unit telepon seluler, komputer genggam dan komputer tablet yang dibawa penumpang pesawat dan kapal laut untuk keperluan pribadi.

Kementerian Perdagangan juga mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 48/2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82/2012 tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam dan Komputer Tablet.

Permendag tersebut mengatur tentang pelabuhan dan bandara yang menjadi pintu masuk telepon seluler, komputer genggam dan komputer tablet impor untuk keperluan perdagangan.

Pembatasaan barang bawaan elektronik lebih dari dua buah itu dilarang, mengingat seluruh pelabuhan dan bandara di NTB, tidak termasuk sebagai pintu masuk telepon seluler, komputer genggam dan komputer tablet yang dibawa dari luar negeri untuk diperdagangkan.

  Dukungan PKS Condong ke Pasangan Mo-Novi

“Karena ini aturan, maksimal HP yang boleh dibawa dari luar negeri hanya dua. Lebih dari itu kami sita. Lombok bukan pintu masuk barang impor,” ujar Himawan.

Aturan tersebut berlaku sejak tahun 2013 lalu. Belakangan tahun lalu kebijakan tersebut mulai banyak disorot. Banyak diantara TKI yang kembali ke NTB mengaku keberatan karena handphone yang dibawa pulang, baik yang dibeli sendiri maupun yang titipan, disita langsung oleh petugas Bea Cukai.

Handphone  sebanyak 2.830 pcs tersebut, menurut keterangan Himawan, disita sebanyak 2.537 pada tahun 2016, dan sebanyak 293 pcs disita sejak tahun 2017 ini. Seluruhnya masing-masing disita dari  Lombok Internasional Airport 2.742 pcs dan 88 pcs disita dari kiriman POS.

Dalam 30 hari sejak disita, sesuai aturan diberikan kelonggaran kepada yang membawanya, apakah dikirim kembali melalui POS ke negara asal barang atau dibawa kembali saat kembali ke luar negeri.

Jika dalam waktu 30 hari tidak ada respon, barang tersebut menurut Himawan, akan menjadi barang yang dikuasai Negara dan bertahap akan menjadi barang milik Negara. Apakah akan dimusnahkan atau dilelang? Himawan menegaskan tergantung arahan Kementerian Keuangan.

Bea Cukai bersama Dinas Perdagangan serta Disnakertrans melakukan sosialisasi kepada mereka yang akan berangkat ke luar negeri terkait aturan ini. Bahkan para TKI yang ada di luar negeri, diberikan pemahaman oleh atase di negara bersangkutan kepada para TKI yang berencana kembali ke tanah air.

Sementara Hj. Selly Andayani mengatakan, selama ini Dinas Perdagangan menjadi sasaran para TKI pemilik barang yang disita oleh Bea Cukai. Karena itu, tak ada cara lain yang dilakukan selain memperkuat sosialisasi kepada masyarakat. (bul)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here