30 Ton Kulit Hiu Dikirim ke Luar NTB

Mataram (Suara NTB) – Hampir setahun ini, sebanyak 30 ton kulit hiu dikirim ke luar NTB oleh pengepul di Pulau Lombok. Badan Pengelolaan dan Sumber daya Laut (BSPL) Wilayah Denpasar tak lupa melakukan monitoring agar jenis hiu yang dikirim, tidak termasuk hiu yang dilindungi undang-undang.

Koordinator BPSPL untuk wilayah NTB, Barmawi menyebutkan, ada 15 pengepul organ hiu di NTB. sebagian besar ada di Rumbuk, dan Tanjung Luar, Kabupaten Lombok Timur. Hiu-hiu ini mendarat terbanyak di Tanjung Luar. Ditangkap oleh nelayan pada di Selat Madura, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Flores,  hingga laut Australia. Di perairan NTB, daerah penangkapannya di arah selatan Lombok, Utara Lombok, dan di perairan di Sumbawa.

Pada 2016 lalu, total yang terdata sebanyak 8.000 ekor hiu berhasil ditangkap oleh nelayan dan mendarat di Tanjung Luar. Sebelumnya, 2014 total hasil tangkapan nelayan sebanyak 6.000 ekor hiu, 2015 sebanyak 5.000 ekor dan tahun 2017 ini diprediksi hasil tangkapan menurun.

Karena, kata Barmawi, gencarnya sosialisasi pelarangan menangkap jenis hiu tertentu berdasarkan Keputusan Menteri KKP Nomor 18 tahun 2013 tentang penetapan status perlindungan penuh ikan hiu paus.

Mengapa Tanjung Luar yang selalu menjadi sorotan nasional, bahkan dunia, karena banyaknya hasil tangkapan yang mendarat di sana? Barmawi menyampaikan alasan bahwa nelayan di Tanjung Luar mengutamakan menangkap hiu sebagai tangkapan utama. Sementara di daerah-daerah lain, penangkapan hiu termasuk jenis ikan tangkapan sampingan.

‘’Karena itulah, ketika ada sedikit kebijakan pemerintah tentang hiu, nelayan Tanjung Luar paling bereaksi,’’ katanya.

Ada ratusan jenis hiu. Diantaranya yang boleh ditangkap dan tidak diperbolehkan sama sekali. Diantaranya yang tidak diperbolehkan sama sekali yakni hiu paus dan hiu gergaji yang saat ini telah dikelompokkan ke dalam jenis pari. Keduanya dilarang, sekalipun telah dalam keadaan mati. Hal ini karena sangat terbatasnya populasi hiu paus dan pari gergaji.

Sementara jenis hiu lain yang diperbolehkan di tangkap, tetapi dilarang pengiriman organnya ke luar negeri (ekspor) diantaranya, hiu koboi, dan tiga jenis hiu martil. Pemerintah memperbolehkan penangkapannya, untuk pengiriman antar provinsi di Indonesia.

‘’Hiu koboi dan hiu martil ini boleh di tangkap, atau dikirim keluar daerah. Tetapi tidak diperbolehkan dikirim ke luar negeri sama sekali,” jelas Barmawi.

di Tanjung Luar, menurut data yang diterima oleh BPSPL, sekitar 40 sampai 60 kapal tangkap yang digunakan sehari-hari memburu hiu oleh nelayan di sana. Hasil tangkapannya, biasanya dikirim ke Surabaya dalam bentuk hanya sirip, kulit atau tulang-tulangnya.

Untuk sirip ini, kata Barmawi, dihargai Rp 1-5 juta sampai Rp 2,5 juta dalam satu set sirip. Mencakup dua sirip dada, satu sirip punggung, dan satu sirip bagian ekor bawah hiu.

“Untuk pengiriman ke luar daerah, sirip, ataupun kulitnya, selalu dikoordinasikan dengan kami untuk memastikan tidak ada organ dari jenis hiu yang dilarang ditangkap,’’demikian Barmawi. (bul)