Saat TGB dan Kapolda Bergandengan Tangan

Mataram (suarantb.com) – Keduanya berjalan berdampingan. Yang satu dalam balutan kemeja putih dan kopiah hitam dan yang lain dalam pakaian dinas lengkap. Juga lengkap dengan kopiah. Tambah mesra dan akrab dengan tangan saling bergandengan erat.

Inilah pemandangan yang bisa diamati dari foto Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi dan Kapolda NTB, Brigjen Pol. Firli, M.Si. Saat mereka berjalan sambil bergandengan tangan menghadiri acara Do’a Bersama dan Silaturrahmi TNI/Polri, Ulama dan Masyarakat di Masjid Baitussalam Polda NTB, Selasa, 23 Mei 2017.

Sebagai empunya acara, Firli menyampaikan silaturahmi tersebut digelar dalam rangka memelihara kebhinekaan serta memperkokoh persatuan di daerah. “Bangsa ini masih mengalami hal-hal yang dapat mengusik ideologi yang disepakati. Masih didapati masyarakat yang ingin mengembangkan ideologi baru selain Pancasila,” tekannya.

Baca juga:  Respons TGB soal Viralnya Disertasi Tentang Seks di Luar Nikah

Menurutnya, tindakan demikian telah melanggar kesepakatan para pahlawan yang memperjuangkan berdirinya NKRI.

“Saya pikir, sangatlah tepat kita mengadakan acara ini. Yaitu memelihara kebinekaan serta memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam wadah NKRI,” jelasnya.

Dalam sambutannya, TGB juga menegaskan NKRI merupakan salah satu akad atau komitmen dalam kehidupan sebagai warga negara dan sebagai manusia nusantara. Demikian pula sebagai umat Islam, NKRI sesungguhnya adalah warisan ulama.

“Oleh karena itu, tiada kata lain dalam konsep Islam terhadap sesuatu yang baik yang kita warisi dari orang lain, kecuali dengan menjaganya dan merawatnya,” ujar TGB.

Baca juga:  TGB Serukan Islam yang Moderat

Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 1 sudah jelas bahwa Allah memerintah orang-orang beriman untuk menunaikan akad-akad.

“Tunaikan itu, penuhilah. Komitmen itulah yang dimaksud akad,” ucapnya di hadapan Kaploda, Danrem 162/WB, Farid Ma’ruf dan Danlanal Mataram,

Kolonel (Mar) Djentaju Suprihandoko.

Acara ini diakui Firli digelar sebagai sebagai wadah silaturrahim menjelang bulan Ramadan. Puasa yang beberapa hari lagi akan tiba, menjadi momentum untuk menguatkan persaudaraan sebagai bangsa.

“Kita harus bersyukur dapat hidup di Indonesia, dengan beragam suku dan agama. Ini adalah kekuatan bangsa. Dan ini bukan keinginan kita, namun kehendak Allah SWT,” pungkasnya. (ros)