Ini Kata Kapolda dan TGB Soal Pentingnya Menjaga NKRI

Mataram (suarantb.com) – Ideologi Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika sudah disepakati sejak dahulu oleh pendahulu bangsa. Kesepakatan itu dicapai melalui proses yang panjang.
Bahkan melalui berbagai pengorbanan baik pikiran, tenaga, jiwa dan raga. Kita sebagai generasi baru berkewajiban untuk memeliharanya.

Hal itu disampaikan Kapolda NTB Brigjen Pol. Drs. Firli, M. Si dalam sambutannya pada acara istigosah di Masjid Baitussalam Mapolda NTB, Selasa, 23 Mei 2017.

Gubernur NTB, Dr. TGH.M. Zainul Majdi, Kapolda NTB, Brigjen Pol Drs.Firli, M.Si dan Danrem 162/WB Kol. Inf. Farid Makruf dalam acara istigosah di Masjid Baitussalam Mapolda NTB, Selasa, 23 Mei 2017.

Ia juga mengatakan saat ada sebagian kecil warga yang ingin mengembangkan ideologi baru, selain ideologi yang sudah disepakati pemimpin bangsa terdahulu.

“Ada sebagian kecil yang sudah mulai mengusik kesepakatan nasional para pemimpin pendahulu kita,” ujarnya.
Ia menambahkan Indonesia bersyukur mempunyai Pancasila. Dimana, sila pertama ketuhanan Yang Maha Esa. Lima agama terbesar di dunia tumbuh subur di Indonesia.

“Ini bukan kebetulan, bisa saja negara Indonesia ini memang dibuat suatu laboratorium percontohan bagaimana hidup berdampingan dalam perbedaan, tetapi tetap satu,” jelasnya.

Senada dengan Kapolda, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi atau TGB mengatakan bagi umat Islam, NKRI adalah warisan dari para ulama dan para pejuang. Tidak

ada kata lain di dalam konsep Islam terhadap sesuatu yang baik yang diwarisi dari orang-orang yang baik selain menjaganya dan memeliharanya.

Gubernur kemudian mengutip surah Al-Maidah ayat 1 yang intinya perintah untuk menunaikan akad-akad bagi orang beriman. Menurut TGB, akad yang dimaksud tidak hanya akad antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan, tidak hanya akad antara pedagang dan pembeli dalam suatu transaksi bisnis.

Tetapi salah satu akad yang terbesar dalam kehidupan sebagai warga negara, sebagai manusia nusantara adalah akad yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Salah satu yang utama adalah akad kita di dalam NKRI, dengan Pancasila dan UUD 1945,” jelas TGB
Ia mengatakan sebodoh-bodoh orang secara individual dan sebodoh-bodoh masyarakat dalam politik digambarkan dalam surah An-Nahl sebagai seorang perempuan yang memintal satu persatu benang. Namun setelah menjadi rajutan, perempuan itu lantas mengacak-acaknya.

“Dilarang kita untuk bersikap seperti itu oleh Allah. Tidak hanya menyangkut individu-individu tetapi juga menyangkut kita sebagai suatu kolektivitas bangsa,” tegas TGB.

TGB menambahkan sebagai bangsa ketika sudah sampai pada titik NKRI dengan segala perjuangan, pengorbanan dan segala yang baik, hebat dan berhaga yang dimiliki jangan sampai dirusak dengan melepaskan pintalan yang sudah dirajut. Ia mengajak untuk mengokohkannya sehingga menjadi rajutan yang kokoh. (bur)