Benahi Infrastruktur, ‘’Jinakkan’’ Banjir

0
49

Mataram (Suara NTB) – Banjir yang melanda sejumlah daerah di NTB menjadi perhatian Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I. Sejumlah langkah strategis akan dilakukan, terutama pada penataan yang berkaitan dengan penataan infrastruktur wilayah sungai. Sejumlah langkah akan dilakukan agar banjir tidak lagi menerjang daerah-daerah di NTB.

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Terbatas yang digelar Harian Suara NTB bekerjasama dengan BWS Nusa Tenggara I, Sabtu, 18 Februari 2017. Hadir dalam diskusi tersebut,Kepala BWS Nusa Tenggara I, Ir. Asdin Julaidy, MM,MT,Kepala Dinas PUTR NTB, Ir. Wedha Magma Ardhi, MTP, Kepala Pelaksana BPBD NTB, Ir. H.Mohammad Rum, MT, Kepala SKW III Bima-Dompu BKSDA NTB, Bambang Dwidarto, SH,Leader WWF, Ridha Hakim,Ujang Sukmana, ST, MM, MT dari Balai Jalan IX Mataram, Staf BWS Nusa Tenggara I, Ida W. Amitaba. Diskusi dipandu oleh Penanggung Jawab Harian Suara NTB, H. Agus Talino.

Asdin menjelaskan, pada saat banjir melanda Bima, banyak yang menyebut itu sebagai dampak dari siklon Yvette.Pihaknya banyak menghimpun para ahli, membicarakan tentang persungaian dan penataannya. Meskipun jika dilihat secara sederhana, menurutnya catchment area atau daerah tangkapan air sudah hancur, bahkan bisa dikatakan sudah tidak ada lagi.

Catchment area kita itu sudah tidak ada lagi, kemarin kita jalan di Rababaka kompleks itu tinggal hutan jagung saja yang ada. Ada pohon satu-satu untuk tempat mereka berteduh, dan hutan lindung sudah ada  kepemilikannya. Fungsi hutan kayu itu hanya untuk berteduh,’’ katanya.

Asdin menyebut, dibutuhkan biaya sekitar Rp 5 triliun, agar di Pulau Sumbawa tidak terjadi banjir lagi. Ada sejumlah cara yang akan dilakukan oleh BWS. Pertama di Kota Bima, terdapat dua Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Padolo dan DAS Melayu. DAS Padolo disebut cukup luas, sementara DAS Melayu relatif agak kecil.

Dari dua DAS itu, Asdin mengatakan, identifikasi awal sudah ada, hanya tinggal pada pembebasan lahannya. Jika membangun bendungan, dan dihitung air yang masuk, perkiraannnya air yang masuk kurang lebih sebanyak dua juta meter kubik.

‘’Dengan membangun bendungan, hitung berapa juta tampungannya,sekian dan selebihnya itu mengalir lewat drainase, lewat saluran. Lewat sungai dan ditampung, arahnya sudah terarah airnya itu keluarnya sehingga lancarlah,’’ kata Asdin.

Pihaknya meninjau langsung permasalahan sungai di Kota Bima. Asdin menyampaikan, di Kota Bima ada sekitar 15 sungai, termasuk anak sungai, namun hanya ada dua yang bisa tembus ke laut. Sungai lainnya sudah terputus karena ada rumah yang dibangun di atas sungai. Bahkan sudah ada yang tertutup.

Asdin mengungkapkan, pihaknya akan mencoba meluruskan sungai. Meluruskan sungai yang dimaksudnya, adalah seperti tikungan, sehingga air yang mengalir dapat mudah melewati tikungan. “Jadi itulah yang kami lakukan sekarang, menormalkan sungai itu, yang paling tidak 40 persen lah dari kondisi awal. Harapan kami 40 persen dari kondisi awal,” katanya.

Namun demikian, BWS harus menghadapi kondisi dilematis, karena ada sejumlah oknum masyarakat yang tidak mau melepas tanahnya, dan pihak BWS harus membayar terlebih dahulu. Tapi, ketika membayar lahan di pinggir sungai pun dianggap salah, karena lahan di pinggir sungai milik sepadan sungai.

Baca juga:  Proyek Kawasan Bisnis Cakranegara Diserahkan ke Pemkot

“Kami diberi waktu  untuk menangani kurang lebih tiga bulan. Tetapi di dalam perjalanan, selalu dihadang, bahwa ini harus begini dulu. Akhirnya saya mengambil keputusan, kalau tidak ada yang setuju,lewati,’’ tegasnya.

Sementara itu, berbicara drainase di Bima, Asdin menjelaskan, banjir di Bima adalah banjir bandang. banjir itu membawa lumpur rata-rata setebal setengah meter. Drainase di Bima belum tertangani, karena saat ini pihaknya fokus menormalkan sungai tadi agar air dapat berjalan dengan lancar. Karena sampai sekarang sungai itu masih membawa sampah. Sampah yang dibawa tertahan di jembatan. Sampah yang tertahan ini membentuk semacam bendung yang membuat permukaan air naik dan menggenangi daerah sekitar sungai.

“Alhamdulillah sekarang sudah 15 persen lah Sungai Padolo sudah kami tangani. Sudah lumayan kebuka, sudah ndak pernah lagi ada air masuk,’’ katanya.

Alat milik BWS juga tetap bersiap di sana. Asdin menyebutkan excavator amfibi sudah disiapkan di sana, naik turun di sungai untuk membersihkan sampah.

Asdin mengatakan, mengingat biaya cukup besar dikeluarkan, langkah yang akan dilakukan pihaknya pada tahun 2018 nanti, akan merencanakan membangun beberapa unit embung kecil.

Jika berharap membangun bendungan, karena biaya dan proses yang lama, itu sulit untuk menangani banjir. ‘’Kalau empat tahun dari sekarang ndak kita tangani, mungkin sudah habis orang Bima karena impact (dampak) nya (banjir), ada tiga empat kecamatan bermasalah,’’ katanya.

Nantinya di tahun 2018 itu, BWS akan memprogramkan membangun embung di setiap DAS. “Setiap tahunnya kami harus merawat embung itu, karena begitu tahun ini bangun. Begitu habis hujan ini kami harus keruk lagi. Karena sekarang sudah full dengan lumpur, jadi harus kita keruk lagi,’’ katanya.

Terlebih lagi, air yang mengalir tidak pernah jernih.Hal ini melahirkan kondisi di Pelabuhan Bima itu yang ibarat terminal penghentian terakhir dari semua yang terbawa bersama air.

Sedangkan untuk di pantai, Asdin menyampaikan pihaknya akan membangun jeti yaitu salah satu bangunan pengendali muara yang dibangun untuk stabilisasi muara sungai, agar tidak terjadi abrasi di pantai.

Ia mencontohkan bagaimana melakukan perubahan terhadap alur Sungai Padolo. Menurutnya, alur Sungai Padolo, begitu hendak mendekati kawasan pantai, sungai langsung menikung ke arah kanan, tidak langsung lurus. Saat ini pihaknya akan membentuk agar alur sungai menjadi lurus. Ia berharap rencana ini tidak dihalangi, karena memang akan berkaitan dengan pembebasan lahan.

“Pemerintah membangun embung-embung kecil, yang bisa menahan air tadi, dan kami juga memprogramkan ke depan bagaimana membuat, menanam pohon, satu orang satu pohon itu untuk ke depan, di Kota Bima, termasuk di Kabupaten Bima juga sama,’’ kata Asdin.

Penanganan Banjir Sumbawa

Sementara itu, terkait penanganan banjir di Sumbawa, nantinya BWS akan menambah setidaknya satu embung di Empang, dan mungkin dengan itu banjir sudah bisa teratasi.  Selain itu, akan ada parapet di sungai yang melintasi Empang. Karena ada 50 meter yang jebol, tempat air meluap keluar.

“Di Empang satu atau dua embung yang kita bangun, Insya Allah banjir itu akan berkurang dan sungainya juga kita perlu lihat, hampir rata-rata tanggul sungai sudah rusak. Di Sumbawa rusak karena kerbau itu turun ke sungai itu, jadi sekian ribu kerbau kuda ternak turun. Longsorlah dinding sungai ini sedikit, datang banjir, dinding membuka,’’ jelasnya.

Baca juga:  Anggaran Proyek ‘’By Pass’’ LIA - KEK Mandalika Melayang

Asdin menyebutkan, di daerah Nijang, ada rumah yang sudah mengarah ke sungai. Di Kota Sumbawa, Sungai Brang Biji sudah dangkal. Sedimentasi di sana sudah cukup banyak, sehingga volume yang ditampung lebih sedikit dan meluap ke atas. Dinding sungai juga kurang tinggi. Menurutnya, mungkin nanti pihaknya akan menutup. Ia menyebutkan, sekitar 400 meter dinding sungai juga sudah jebol.

‘’Intinya bahwa hujan sekarang mungkin sama dengan tahun sebelumnya, mungkin mengalirnya lebih cepat dari tahun sebelumnya, mengumpulkan air ini lebih cepat dibanding yang dulu, dengan tiba-tiba langsung lari, dan kondisi sungai hampir tidak ada lagi kemiringannya , jadi kecepatannya berkurang, menunggu tenaga ‘’temannya’’, langsung kencang aliran airnya,” terangnya.

Sementara, banjir yang terjadi di Lombok Timur, menurut Asdin, adalah banjir yang terjadi relatif tidak besar. Tapi kecepatannya luar biasa. Selain itu, banjir di Lotim juga membawa material yang cukup besar.

“Batu yang berdiameter sampai dua meter, kalau yang sampai satu meter itu sudah biasa, digiling sama air batunya, sehingga jembatan yang kena. Dihantam oleh batu yang berdiameter dua meter, dua tiga kali jebol,’’ katanya.

Oleh karena itu, di daerah Belanting, pembenahan dinding sungai tidak terlalu banyak dilakukan. Asdin mengatakan, yang dilakukan di sana yaitu pembuatan sabo dam, untuk menahan kecepatan alir sungai.

“Konsep sabo, saya akan coba lihat, supaya tidak terlalu besar dibangun karena banyak yang dibutuhkan. Saya pasang bronjong, tidak perlu kita mendesain khusus, kita pasang bronjong, sehingga kecepatan airnya tidak terlalu, jadi itulah mungkin untuk di Lotim,” jelasnya.

Staf BWS Nusa Tenggara I, Ida W. Amitaba, mengutarakan bahwa banjir di Lotim beberapa waktu lalu, merupakan banjir dengan tipe debris flow. Banjir semacam ini adalah banjir yang tidak hanya membawa air, namun juga material-material lain. Dalam kasus banjir di Sambelia, material yang cukup banyak terbawa bersama air yang deras tersebut adalah bebatuan. Hal ini cukup menjelaskan mengapa banjir tersebut bisa merusak jembatan dan infrastruktur lain yang dilaluinya.

Asdin menjelaskan, hampir seluruh jembatan di NTB memang harus diganti. Karena tren teknologi yang berubah. Sebagai daerah berkembang, tidak bisa merencanakan jalan lebih dari lima tahun.

“Dulu mendesain jembatan menggunakan tiang tengah, dulu sungai masih bersih sekarang ini dia sudah bawa pohon sungai ini, sehingga air ini meluap. Sekarang hampir semua jembatan yang ada, tidak berani lagi kendaraan membawa bobot sesuai rencana karena sudah goyang. Karena dihantam oleh air pohon ini pasti goyang,” katanya.

Ia menegaskan, jembatan di NTB harus didesain kembali, jangan ada jembatan yang menggunakan tiang tengah lagi. Harus menggunakan gelagar. ‘’Itulah kondisi, dan ada beberapa jembatan yang rendah, dan kondisinya juga kurang lebar,’’ katanya. (ron/aan)