Pelaku Perdagangan Orang Umumnya Kerabat Dekat Korban

Mataram (suarantb.com) – Terkait adanya temuan praktik perdagangan orang yang dialami TKI asal NTB, Kepala BP3TKI Mataram, Mucharom Ashadi mengakui kerabat dekat memiliki peranan penting. Sebab, umumnya pelaku adalah keluarga atau kerabat dekat korban.

“Kebanyakan TKI yang menjadi korban perdagangan ini diajak oleh keluarga atau oknum desa setempat. Orang dekat bisa tante, paman atau keluarga lain hingga oknum kepala desa dan tokoh masyarakat. Rata-rata mereka ini yang justru jadi pelaku perdagangan orang,” ungkapnya, Senin, 13 Februari 2017.

Umumnya calon TKI yang menjadi korban para pelaku ini adalah mereka yang pengetahuannya masih rendah terkait prosedur pendaftaran TKI. Mereka inilah yang menjadi mangsa empuk para cukong dan calo tidak bertanggung jawab.

Baca juga:  TKW Korban Kebakaran di Arab Saudi Tak Terima Asuransi

“Makanya mereka menjadi korban dari pihak-pihak yang mencari keuntungan sendiri. Diberi iming-iming dipekerjakan ke luar negeri, bukannya kerja tapi dieksploitasi, kerja tapi tidak dibayar, gajinya tidak sesuai sampai tempat kerjanya berisiko,” jelasnya.

“Seperti ada yang ditawarkan ke Arab Saudi, padahal pengirim TKI ke sana itu sedang dimoratorium,” lanjutnya.

Diakui Mucharom praktik perdagangan orang di NTB khususnya TKI sangat rentan. Terlebih NTB menjadi salah satu kantong TKI yang banyak mengirimkan TKI ke luar negeri. Sehingga untuk mencegahnya, BP3TKI terus melakukan sosialisasi.

Baca juga:  Akan Digelar ‘’Job Fair’’, 50 Perusahaan Sediakan Lebih dari 3.000 Lowongan Kerja

“Kita berusaha lakukan sosialisasi, mulai dari face to face melalui tokoh masyarakat sampai melalui mahasiswa yang melakukan KKN tematik. Kita juga sudah ada Layanan Terpadu Satu Pintu yang memudahkan calon TKI mengurus semua dokumen keberangkatannya,” paparnya.

Selain itu, dijelaskan Mucharom pihaknya berusaha menawarkan peluang kerja di sektor formal pada para calon TKI. Agar TKI asal NTB tidak hanya bekerja pada sektor informal yang rentan terjadi kekerasan. “Peluang kerja formal apa yang tersedia, kita tawarkan. Biar masyarakat kita tidak hanya bekerja di sektor informal yang risiko kekerasannya tinggi,” tambahnya. (ros)