Mahalli Fikri Pimpin PW NW NTB, Ini Delapan Rekomendasi Muswil NW

Tanjung (Suara NTB) – Musyawarah Wilayah (Muswil) ke XIII PW Nahdlatul Wathan NTB di Desa Gondang, Kecamatan Gangga, KLU akhirnya berhasil membentuk struktur Dewan Penasehat dan Dewan Tanfidziyah NW Wilayah NTB periode lima tahun ke depan. Selain itu, Muswil ini juga berhasil melahirkan sejumlah rekomendasi.

Steering Comittee, H. Irzani, membacakan keputusan sidang pleno Muswil ke 13 NW NTB, Minggu, 12 Februari 2017 mengatakan, kepengurusan Dewan Penasihat dan Dewan Tanfidziyah NW Wilayah NTB tertuang dalam Kepwil NW NTB No. 10/Muswil/NTB/XIII/2017 tentang Penetapan Formatur Wilayah NTB ke 13.

Berdasarkan Anggaran Dasar bab 8 pasal 19 dan Anggaran Rumah Tangga bab 25 pasal 65, tentang tatib dan jadwal pelaksanaan Muswil menetapkan susunan anggota formatur dewan penasehat sebagai berikut. Ketua Dewan Penasihat,  Ir. H. Rosiady H. Sayuti, M.Sc, PhD, dengan anggota-anggota sebagai berikut, Drs. H. Syahdan Ilyas, Drs. M. Natsir, TGH. M. Baidi dan TGH. Zubaidi.

Sedangkan formatur Dewan Tanfidziyah PW NW NTB, Ketua dipegang oleh TGH. Mahalli Fikri, dengan anggota-anggota, Drs. H. M. Suruji, H. Irzani, Drs. H. Ahsan Husein, Drs. H. Zaini,  Drs. Irwan Ali Wardani, dan Dr. H. Iwan Jazali.

Keputusan tersebut ditetapkan di Gondang, tanggal 12 Februari atau bertepatan dengan tanggal 15 Jumadil Awwal 1438 H, dengan mengetahui Pimpinan Sidang, Dr. H. Najmul Akhyar, SH. MH., Sekretaris Ainul Yakin dan 3 anggota.

Dalam muswil itu, disimpulkan pula sejumlah rekomendasi dari hasil muswil yang mencakup berbagai langkah strategis dalam proses pembangunan organisasi NW NTB dan ekspansi NW di Indonesia. Irzani menyebutkan sejumlah rekomendasi yang berhasil dirumuskan.

Pertama Pengwil, Pengda dan Pengcab NW untuk menerapkan secara merata kurikulum ke NW-an di setiap satuan pendidikan di setiap pendidikan yang dimiliki NW.

Kedua, upaya kaderisasi berjenjang di masing-masing Badan Otonom dengan cara memperbanyak dan merapikan pedoman dan panduan pengkaderan di IPNW dan Himmah NW.

Ketiga, Pemberdayaan ekonomi jamaah dengan segera mendirikan NW Mart dan Aktifkan kembali Koperasi Syariah yang ada di Ponpes NW.

Keempat, segera membangun Klinik Nahdlatul Wathan di setiap Kabupaten/Kota yang pada dimulai dari Kabupaten Lombok Utara.

Kelima, merapikan kembali database keanggotaan NW dengan meluncurkan KTA berbasis web.

Keenam, segera membangun dan mengupayakan sekretariat-sekretariat organisasi NW mulai dari wilayah NTB, dan 10 Kabupaten/KJota di NTB.

Ketujuh, mendorong pemprov dan kabupaten untuk terus mengikhtiarkan gelar Pahlawan Nasional kepada Maulana Syeikh TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid pada tahun 2017.

Kedelapan, menyiapkan dan siap mendukung kader-kader potensial untuk maju mengemban amanah dalam Pilkada 2018 mulai dari Lotim, Lobar, Kota Bima dan Pilkada NTB tahun 2018 dan pemilihan legislatif tahun 2019.

Dalam pengantarnya, Ketua PD NW KLU yang juga Bupati KLU H. Najmul Akhyar mengatakan, Muswil di KLU dihadapkan pada situasi hujan lebat disertai angin kencang.

Namun itu tidak menjadi halangan, karena muswil berjalan dengan lancar. Sore hari sebelum Muswil, digelar pawai akbar. Ia dan peserta Muswil menyaksikan tumpahruahnya peserta pawai, dari santri Ponpes NW, siswa sekolah, majelis taklim, hingga masyarakat non muslim mengikuti pawai. Hal ini menunjukkan bahwa di KLU, keragaman yang ada menjadi sebuah kekayaan.

Sementara Ketua PW NW NTB, TGH. Mahalli Fikri, memaknai tanggung jawab sebagai Ketua Dewan Tanfidziyah NW NTB merasakan dua hal, antara bangga dan khawatir. Ia bangga karena terlibat langsung dalam membesarkan sejarah NW. Namun ia juga merasa tanggung jawab dan amanah yang diberikan jamaah NW, terlampau berat.

Menyambut tugasnya itu, Mahalli mengajak seluruh pengurus dan jamaah NW untuk tidak melepas begitu aja rasa kebersamaan. Dalam membangun NW, ia menginginkan kebersamaan terpelihara.

Sementara itu, Gubernur NTB yang juga Ketua Umum PB NW NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, mengingatkan seluruh peserta muswil untuk senantiasa bersyukur dengan mengedepankan adab yang mulia kepada Allah. Tidak ada nikmat yang lebih mulia yang diberikan Allah selain ujian kepada hambanya. Dalam berikhtiar pun, Tuan Guru Bajang memberi wejangan untuk senantiasa mengingat Allah atas setiap usaha.

Dalam bahasa kias gubernur mengingat akan Firman Allah, bahwasanya anak panah yang dilepaskan, kemudian sampai pada tujuannya, bukanlah karena keahlianmu, bukan karena ikhtiar manusiawimu, melainkan semua terwujud karena kasih sayang dan kehendak Allah SWT. (ari)