Lewat “Berugaq Goes To Campus”

TVRI NTB Ajak Masyarakat Waspadai Bencana

Mataram (suarantb.com) – TVRI Stasiun NTB menggelar talkshow di IKIP Mataram. Lewat program siaran “Berugaq Goes To Campus”, TVRI NTB ingin mengajak masyarakat khususnya kalangan kampus untuk mewaspadai bencana banjir yang melanda sejumlah kabupaten/kota di NTB beberapa hari terakhir.

Dalam acara yang dihadiri Rektor IKIP Mataram, Prof. Toto Cholik Mutohir, Ph.D dan ratusan mahasiswa IKIP Mataram itu dihadirkan empat orang narasumber. Yakni Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) NTB, Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh, Akademisi, Dr. Ahmad Fatoni dan Komunitas Peduli Sungai Ancar. Acara dipandu, Khairil Anwar.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB, Arifuddin menjelaskan sejak November lalu Gubernur sudah menetapkan status NTB siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor. Penetapan status siaga banjir dan tanah longsor itu telah didukung SK Bupati dan Walikota se – NTB mengenai penetapan siaga darurat banjir dan tanah longsor di masing-masing daerahnya.

Ia menjelaskan, dalam bencana dikenal ada tiga status yakni siaga bencana, tanggap bencana dan transisi bencana. Penetapan status siaga bencana banjir dan tanah longsor itu, artinya ada peningkatan kondisi di lapangan. Sementara jika statusnya tanggap, jika telah terjadi bencana.

Baca juga:  Dua Mahasiswa Jadi Korban, Warga Diminta Waspadai Bencana Musim Hujan

“Seperti Kota Mataram beberapa hari lalu. Kota Bima dan Kabupaten bima itu sudah tanggap darurat bencana banjir,” terangnya.

Sementara itu, Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh mengatakan bencana banjir yang terjadi di NTB, termasuk Kota Mataram sesungguhnya setiap tahun terjadi. Namun, bencana banjir itu, skalanya yang berbeda. Ia mengatakan, skala bencana banjir

di Kota Mataram ini tidak terlalu mengkhawatirkan atau membahayakan.

“Karena tidak sampai kepada adanya suatu pengaruh yang signifikan kepada aktivitas masyarakat,” ujarnya.

Ahyar menjelaskan, bencana banjir yang terjadi di Kota Mataram bukan disebabkan dari Mataram sendiri. Selain persoalan teknis mengenai saluran drainase dan sampah, juga disebabkan dari hulu. Dimana, sungai-sungai yang mengalir di Kota Mataram hulunya di Lombok Barat dan Lombok Tengah.

Untuk itu, dalam penanganannya memang perlu dibuat waduk-waduk di daerah hulu. Walikota juga mengatakan pihaknya sudah menyiapkan lahan sekitar 5 hektar untuk menampung air di daerah hulu. Namun sampai saat ini masih belum ada tindaklanjut dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I.

Baca juga:  Relokasi Korban Banjir Naik Penyidikan

Pemerhati Masalah Lingkungan, Dr. Ahmad Fatoni mengatakan dari sisi curah hujan, Kota Mataram paling rendah di NTB. Ia melihat jika dibandingkan dengan Kota Bima, Kota Mataram agak unik. Karena dari sungai-sungai yang ada, banyak sekali anak-anak sungainya.

Persoalan banjir di Kota Mataram memang tak bisa dilepaskan dari kontribusi Lombok Barat dan Lombok Tengah. Pasalnya, sungai Jangkok hulunya di Lombok barat, sementara sungai Babakan hulunya ada di Lombok Tengah.

Selain itu, ia menyebut persoalan banjir juga tak terlepas dari kondisi sungai di Kota Mataram yang kumuh, seperti sungai Ancar. Kemudian, air yang berasal; dari daratan susah keluar ke laut karena air laut naik.
“Sistem drainase pemukiman, itu juga berpengaruh,” ucapnya. (nas)