Rute BRT Tak Efisien, Kepala Dishubkominfo NTB Anggap Risiko Kehidupan Kota

Mataram (suarantb.com) – Terkait keluhan mengenai rute Bus Rapid Transit (BRT) yang dianggap kurang efisien, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) NTB Lalu Bayu Windya menanggapinya dengan santai. Menurutnya, jika memang pelajar harus ganti bus dua kali untuk pulang atau berangkat sekolah, itu bukanlah persoalan besar.

“Ada memang yang harus ganti bus, tapi itu risiko kehidupan kota. Tidak mungkin dilayani satu persatu sedekat-dekatnya. Memang gitu kehidupan kota, saya yakin nanti masyarakat kita akan siap untuk kehidupan seperti itu,” jawabnya ditemui di kantornya, Senin, 28 November 2016.

Bayu mengatakan pihaknya akan terus mengevaluasi rute yang diberlakukan saat ini. “Soal rute juga akan kita evaluasi, kalau itu dianggap terlalu jauh dan benar, ya kita dekatkan. Tapi desainnya dia akan berjalan paling jauh 400 meter. Jangan mau diantar sampai ke depan pintu sekolah, itu ndak mungkin,” jelasnya.

Baca juga:  Pemprov NTB Desak Perbaikan Dermaga II Padangbai Dipercepat

Menurut mantan Kepala BPMPPT NTB ini tujuan terpenting dari beroperasinya BRT adalah tersedianya moda angkutan umum yang layak, aman dan nyaman untuk masyarakat. Selain itu juga dilengkapi dengan kepastian jadwal dan tersedia secara berkelanjutan. Keberadaan BRT ini juga untuk menghindarkan Kota Mataram dari kemacetan.

“Kalau kota ini macet, kita akan ditinggal oleh wisatawan. Kan dia lari dari Jakarta karena macet. Cari tempat yang tidak macet, yang aman, nyaman. Kalau di sini juga macet, tidak akan dipilih kota kita. Jadi kita harus membangun, mendesain sebuah manajemen transportasi yang modern, efisien, murah dan tersedia dengan mudah,” terangnya.

Baca juga:  Pemkot akan Bongkar Jembatan Penyeberangan

Terkait BRT, Bayu menyebutkan jumlah halte yang tersedia sekarang hanya 36 halte. Masih jauh dari jumlah ideal yang harus dimiliki, yakni 400 halte. “Ini ya kita siasati dengan memperbanyak bus stop. Nanti tahun 2017 kita rapikan lagi, sekarang kan masih uji coba,” ucapnya.

Agar BRT bisa tetap beroperasi dengan tarif yang murah untuk masyarakat umum, dibutuhkan subsidi dari pemerintah. Bahkan Bayu menegaskan, di semua negara angkutan umum disubsidi oleh pemerintah. Subsidi juga untuk mencegah pengusaha menarik tarif semaunya pada penumpang. “Kalau soal bemo kuning, insya Allah tahun akan depan akan kita jadika feeder,” tambahnya. (ros)