Pesan TGB Tentang Kerukunan, Kerusakan dari Dalam hingga Penghormatan kepada Pemimpin

Mataram (suarantb.com) – TGB mengundang semua tokoh agama untuk saling bersilaturahmi dalam acara Silaturahmi Gubernur NTB bersama Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan Pimpinan Pondok Pesantren di Pendopo Kantor Gubernur, Senin, 14 November 2016.

Acara tersebut tidak hanya menghadirkan para tokoh ormas Islam namun juga seluruh tokoh agama di NTB. Mulai dari tokoh agama Hindu, Kristen, Protestan hingga Konghucu.

Selain kehangatan silaturahmi antar ormas keagamaan itu, sambutan TGB saat pembukaan acara juga memberikan kesan yang mendalam. Ada dua pelajaran penting yang bisa diambil dari isi sambutan tersebut. Pelajaran pertama, mengingatkan yang hadir untuk mengingat betapa berharganya Indonesia dan NTB khususnya.

Mengapa Indonesia atau NTB yang kita tempati ini begitu berharga? Masyarakat yang gemar menghasut dan menanam kebencian di tanah air tercinta ini mungkin tidak sadar betapa berharganya Indonesia. TGB menyebut Republik Indonesia ini sebagai titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk segenap penduduknya.

“Republik ini adalah amanah dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa yang diletakkan pada bangsa ini dan harus dijaga. Republik ini adalah negara yang paling beragam, tapi diikat dengan konsep-konsep yang menyatukan. Ini yang harus diletakkan dalam kepala kita,” ucapnya.

Sebagai umat Islam, tentu semuanya mengetahui bahwa amanah itu ibarat tanggung jawab. Berarti Tuhan sudah memberikan tanggung jawab langsung kepada penduduk Indonesia untuk menjaga negaranya sendiri. Dengan konsekuensi besar bagi pengemban amanah yang tidak bertanggungjawab.

Bayangkan saja, hukuman yang didapatkan sekiranya seseorang mengabaikan tanggung jawab dari orang lain. Hukumannya cukup besar. Apalagi tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan penguasa umat manusia. Tak terbayangkan hukuman yang didapat manusia Indonesia yang mengabaikan amanah ini.

Untuk bisa melahirkan satu negara kepulauan ini, TGB mengingatkan betapa banyaknya pengorbanan yang dilakukan para pendahulu bangsa. “Membentuk negara ini prosesnya panjang sekali. Pengorbanannya tidak bisa dihitung banyaknya. Yang bisa dikuantifikasikan maupun tidak mungkin dikuantifikasikan. Jadi Republik kita ini bukan sesuatu yang gampang terwujud,” ujarnya.

Banyak negara di dunia, yang dalam perjalanannya mengalami perpecahan sehingga yang semula hanya satu negara terpecah menjadi dua atau tiga. TGB menyebut, hanya Indonesia yang tetap terjaga. Tetapi ia mengingatkan yang kuat tidak selamanya kuat. Kalau tidak dijaga dari dalam, maka rusak pulalah ia. Seperti halnya kayu keras yang susah dipatahkan dari luar dengan kapak. Ia justru hancur digerogoti serangga dari dalam.

Begitupula perumpamaan yang diberikan TGB. Sebuah kerusakan yang bermuasal dari dalam itu sungguh lebih besar akibatnya, daripada yang berasal dari luar. Sehingga, jika penduduk negeri ini berbuat kerusakan di dalam, saling menghujat, menjatuhkan maka kehancuran Indonesia tentu tidak bisa terelakkan.

“Indonesia tidak akan terpelihara jika kita tidak menjaganya dengan sengaja. Sesungguhnya poros keberkahan dalam hidup

itu ada dalam syukur nikmat. Jadi mari kita syukuri keberadaan bangsa ini, kita rawat dan kita jaga,” ajaknya.

Menurut TGB, jika seluruh penduduk negeri ini bersyukur atas anugerah bernama Indonesia, tentu semua akan memperlakukan bangsa ini layaknya ‘harta karun’. Yang harus dijaga, bukan menghancurkannya dan membiarkan bangsa lain menjarahnya.

Hal lain yang disampaikan TGB adalah pentingnya menunjukkan rasa hormat pada pemimpin. “Dalam Islam, Hindu, Budha, Katolik, Protestan dan Konghucu, nilai-nilai kearifan yang kita terima, yang hidup dalam diri kita. Mengajarkan pada kita untuk menghomati pemimpin kita,” ucapnya.

“Maka saya minta pada kita semua, seluruh yang hadir. Mari kita jangan ikut-ikutan untuk mencerca pemimpin kita,” lanjutnya.

Dengan banyaknya berita-berita yang mengandung unsur provokatif, TGB meminta agar masyarakat NTB tidak terprovokasi untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan etika.

“Pemimpin kita harus kita jaga kehormatannya. Karena kita tahu betul, di banyak sejarah bangsa-bangsa yang ada. Kehancuran bangsa itu dimulai dengan menyerang pemimpinnya,” imbuhnya.

Lulusan Universitas Kairo, Mesir ini memberi contoh nyata banyaknya hujatan yang diterima oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Seakan-akan tidak ada kebaikan yang mereka sumbangkan untuk Indonesia selama memimpin rakyat. Penghormatan yang tinggi terhadap pemimpin dicontohkan TGB, justru berasal dari Amerika.

“Kita ini katanya masyarakat beragama. Kita sering mengatakan Amerika itu liberal, nilai-nilainya itu tidak baik. Tapi di Amerika, seorang presiden itu sampai mati dia tetap dipanggil Mr. Presiden.
“Kalau kita, jangankan sudah turun masih di atas saja sudah kita cerca,” tandasnya.

Kalimat ini disampaikan TGB kepada masyarakat Indonesia yang mengaku sebagai umat beragama yang baik, namun belum mampu menaruh hormat pada pemimpin bangsa ini. “Kita paling gaya mengatakan kita adalah umat beragama yang baik. Akhlak yang mendasar saja kepada pemimpin, kepada orang-orang yang harus kita jaga kehormatannya tidak bisa kita lakukan,” sindirnya.

Dalam akhir dari sambutannya, TGB mengutarakan agar warga NTB tidak bersikap arogan jika mendengar isu Presiden Jokowi akan berkunjung ke NTB. “Saya berharap kalau misalnya ada berita presiden mau kemari. Tidak perlulah kita mengatakan, kami akan menolak presiden datang kemari, kami akan demo. Semua itu tidak perlu. Kita tidak akan jadi lebih mulia dengan begitu. Justru mungkin kita akan hina dengan cara seperti itu,” tutupnya.

Tepat kiranya apa yang disampaikan TGB di saat-saat seperti ini. Dimana kesatuan bangsa dan negara akan terganggu karena isu SARA yang berkembang di masyarakat. Dan provokasi yang hadir dari sejumlah pihak untuk melengserkan Presiden Jokowi kian banyak berkumandang. Semoga Tuhan melindungi Indonesia, jangan sampai negara ini rusak karena ambisi sekelompok orang yang hanya mengincar keuntungan semata. (ros)