NTB, ‘’Zero Waste’’ dan Penurunan Emisi Karbon

Gubernur NTB H.Zulkieflimansyah dan Wagub, Hj.Sitti Rohmi Djalilah meresmikan fasilitas pemusnah limbah B3 medis di NTB, juga menjadi bagian dari program hilirisasi program Zero Waste. (Suara NTB/dok)

Pemprov NTB terpilih mewakili Indonesia dalam konferensi perubahan iklim Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) atau United Nations Framework on Climate Change Conference (UNFCCC) di Glasgow, Inggris. Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan The 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26), 12 November lalu. UNFCCC merupakan kegiatan yang digelar PBB dalam upaya komitmen perubahan iklim.

WAGUB yang dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 17 November 2021 pekan lalu mengatakan NTB dinilai sebagai daerah yang punya roadmap yang jelas terkait dengan pengurangan emisi karbon. Bahkan NTB memiliki target ambisius bebas emisi karbon atau net zero emission tahun 2050. Sedangkan Pemerintah Pusat menargetkan bebas emisi karbon pada 2060.

Iklan

Untuk mengejar target ambisius bebas emisi karbon 2050, Pemprov NTB di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur, Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., – Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., menjadikan pembangunan di bidang lingkungan menjadi prioritas daerah. Yang dijabarkan dalam empat program unggulan, yaitu NTB Zero Waste atau NTB Bersih, NTB Hijau, Energi Baru Terbarukan dan Ecotourism.

‘’Negara-negara yang saya ajak bicara seperti Denmark dan Inggris, sangat senang dengan kita yang punya ambisi net zero emission tahun 2050. Karena Indonesia targetnya 2060,” kata Wagub.

Wagub optimis NTB akan mampu mengejar target bebas emisi karbon tahun 2050 atau 10 tahun lebih cepat dibandingkan target nasional. Karena kondisi geografis NTB yang merupakan daerah kepulauan menjadi salah satu faktor pendukung.

‘’Kita sangat diapresiasi karena punya roadmap yang jelas. Komitmen yang tinggi menjadi satu hal yang sangat positif. Karena ini kerja keras, masalah penurunan emisi karbon ini kerja kolaboratif banyak pihak. Sehingga ambisi dan tekad daripada NTB menjadi modal besar,’’ imbuhnya.

Dijelaskan, NTB telah mempunyai rencana dan target untuk mewujudkan NTB Bersih dan Hijau. Meskipun dalam dua tahun terakhir, capaian program NTB Zero Waste dan NTB Hijau sangat kesulitan dikejar akibat pandemi Covid-19.

Namun dengan melandainya kasus Covid-19 dan ekonomi yang mulai pulih dengan perhelatan event internasional seperti World Superbike (WSBK) Mandalika. Wagub optimis target-target pembangunan di bidang lingkungan untuk mendukung upaya pengurangan emisi karbon di NTB akan bisa terkejar.

Dikatakan, NTB akan menjadi pilot project penurunan emisi karbon di Indonesia. Ia yakin, NTB akan bisa mencapai target bebas emisi karbon 2050 melalui komitmen dan kolaborasi dengan berbagai pihak terkait.

Negara-negara Eropa seperti Denmark dan Inggris tertarik bekerja sama dalam upaya penurunan emisi karbon dengan NTB. Karena menurut Wagub, mereka melihat program-program yang dijalankan Pemprov NTB menukik pada masalah lingkungan.

‘’Walaupun kita tahu masalah lingkungan itu nggak gampang. Nggak seperti membangun infrastruktur jalan dan gedung.  Satu tahun hasilnya bisa kelihatan langsung megah,’’ jelas Wagub.

Tetapi pembangunan di bidang lingkungan lewat program NTB Zero Waste dan NTB Hijau, membutuhkan waktu. Karena berkaitan dengan kesadaran dan mindset masyarakat. Sejak diluncurkannya program NTB Zero Waste, tiga tahun lalu. Penanganan dan pengurangan sampah di NTB telah meningkat di atas 45 persen dari kondisi awal 20 persen.

‘’Kalau dilihat di sungai masih ada sampah. Orang pasti mengatakan bagaimana zero waste, masih banyak sampah. Tapi yang jelas di NTB ini perencanaannya sudah on the right track. Sudah ada peningkatan-peningkatan pengurangan dan penanganan sampah,’’ jelasnya.

Tahun 2022, kata Wagub,  hilirisasi dalam program zero waste akan terwujud. Seperti pembangunan pabrik pengolahan sampah menjadi pelet bahan bakar PLTU Jeranjang oleh Kementerian PUPR di TPA Regional Kebon Kongok.

Kemudian pabrik bata plastik yang pertama di Asia. Selain itu, pabrik pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak dengan metode pirolisis. Rohmi juga mengatakan, pengolahan sampah organik menjadi pakan dan pupuk cair di Lingsar juga akan direvitalisasi.

‘’Hilirisasi-hiliriasi itu kita harapkan 2022 terwujud, kita harapkan tidak delay lagi. Seandainya tidak pandemi, 2021 sudah terbangun,’’ terangnya.

Dengan adanya hilirisasi, lanjut Wagub, maka sampah akan menjadi sumber daya untuk menghasilkan duit. Sehingga otomatis akan membuat orang bersemangat untuk mengumpulkan sampah.

‘’Kita dorong juga 2022, setiap desa minimal ada satu bank sampah. Supaya di desa mulai mengedukasi lewat Posyandu Keluarga. Supaya anak-anak mulai TK sampai perguruan tinggi paham. Bahwa dengan memilah sampah bisa menjadi duit. Banyak harapan-harapan kita di 2022 untuk program zero wate, NTB Bersih dan NTB Hijau. Kita harapkan semuanya berjalan sesuai rencana,’’ harapnya.

Wagub mengatakan, pemahaman antara Pemprov NTB dengan kabupaten/kota sudah semakin nyambung kaitan dengan program ini. Seperti program NTB Hijau, Pemda kabupaten/kota di Pulau Sumbawa memiliki semangat yang sama.

Untuk Pulau Sumbawa, pekerjaan rumah (PR) terbesar di sana adalah reboisasi hutan dan lahan yang gundul. Para kepala daerah menyadari bahwa ancaman bencana cukup besar dengan rusaknya kawasan hutan. ‘’Alhamdulillah bupati-bupati sudah nyambung. Itu modal yang luar biasa besar. Karena kalau tidak begitu, kita tidak bisa kerja sendiri,’’ ucapnya.

Begitu juga dengan program NTB Zero Waste seperti di Kota Mataram. Pemprov NTB melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bersama Pemkot Mataram telah meniadakan tempat pembuangan sampah yang berada di pinggir-pinggir jalan.

Tahun 2022, Pemprov mewajibkan Kota Mataram dan Lombok Barat (Lobar) untuk memilah sampah yang akan dibuang ke TPA Regional Kebon Kongok.  Karena, kondisi landfill TPA Regional Kebon Kongok sudah penuh.

Pengangkutan sampah yang sudah terpilah sebenarnya diberlakukan mulai 2021 ini. Namun, Kota Mataram dan Lobar meminta waktu. Sehingga mulai 2022, sampah dari Kota Mataram dan Lobar yang diangkut ke TPA Regional Kebon Kongok wajib sudah terpilah.

‘’Jadi mulai sekarang mereka (Kota Mataram dan Lobar) sudah mulai memilah sampah,’’ terang Wagub.

Pemilahan sampah mulai dari rumah tangga, kata Wagub memang menjadi PR besar di NTB khususnya di Kota Mataram dan Lobar. Pemilahan sampah ini menjadi keharusan karena kondisi landfill TPA Regional Kebon Kongok yang sudah over kapasitas. “Mulai tahun depan harus sudah dipilah, ndak boleh lagi tidak dipilah,” tegasnya. (nas)

Wagub Hj.Sitti Rohmi Djalilah menghadiri kegiatan The 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26) di Glasgow Inggris, 12 November 2021. (Suara NTB/ist)
Hilirisasi dalam program Zero Waste yang sudah terwujud, salah satunya pabrik bata plastik yang hadir di NTB dan menjadi yang pertama di Asia. (Suara NTB/dok)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional