NTB Segera Miliki Mesin Pengolah Sampah Jadi Bahan Bakar Pembangkit Listrik

Lasiran (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Untuk mendukung program Zero Waste, NTB segera akan memiliki mesin pengolah sampah menjadi pelet untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Mesin pengolah sampah menjadi bahan bakar pembangkit listrik tersebut mampu memproduksi pelet sebanyak 120 ton per hari.

Untuk pengembangan pengolahan sampah menjadi pelet, Pemprov NTB bekerjasama dengan PT. PLN Wilayah NTB. General Manager PT. PLN Wilayah NTB, Lasiran mengatakan mesin pengolah sampah menjadi pelet bahan bakar pembangkit listrik tersebut berkapasitas 120 ton sehari.

Iklan

“Ini kerja sama PLN NTB dengan Pemprov NTB dalam penggunaan energi terbarukan dan menekan penggunaan energi fosil. Yaitu, pemanfaatan sampah untuk bahan bakar PLTU,” kata Lasiran saat peluncuran era kendaraan listrik untuk NTB Gemilang, di Halaman Kantor Gubernur, Jumat, 26 Februari 2021.

Mesin pengolah sampah tersebut, kata Lasiran akan ditempatkan di TPA Regional Kebun Kongok  dengan kapasitas produksi 120 ton  perhari. Ia menyebut kebutuhan pelet untuk PLTU Jeranjang sebesar 45 ton per hari.

“Ini akan menguntungkan keduabelah pihak. Baik PLN, menurunkan biaya bahan bakarnya. Sedangkan untuk Pemda akan bisa menyelesaikan persoalan sampah sesuai program waste to energy,” katanya.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc., mengatakan PLN sedang melelang mesin yang akan mengolah sampah menjadi bahan bakar pembangkit listrik. Dengan adanya mesin pengolahan sampah tersebut, Gubernur yakin akan mampu mengatasi persoalan sampah di daerah ini.

“Karena siapapun Walikota, Bupati, Gubernurnya. Kalau tidak ada pengolahan sampah, tetap akan menumpuk. Mesinnya segera datang, mudah-mudahan satu masalah tentang sampah bisa kita tangani,” harapnya.

Gubernur mengatakan, persoalan sampah bukan saja masalah satu kabupaten atau kota. Tetapi persoalan sampah adalah masalah bagi semua.

Lewat program NTB Zero Waste, Pemprov menargetkan pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah sebesar 70 persen di akhir 2023. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, tahun 2019, penanganan sampah di NTB telah mencapai 20 persen, kemudian meningkat menjadi 37,63 persen di tahun 2020.

Ada peningkatan penanganan sampah di NTB sekitar 17 persen tahun 2020. Namun, untuk pengurangan sampah masih perlu ditingkatkan. Dari target pengurangan sampah sebesar 15 persen, baru tercapai 7,19 persen di tahun 2020.

Capaian penanganan sampah di 10 kabupaten/kota di NTB. Di mana, tiga daerah, realisasi penanganan sampahnya masih rendah. Misalnya, Bima baru 12,10 persen. Dari 378,36 ton volume sampah per hari, baru ditangani 45,76 ton.

Kemudian, Lombok Barat (Lobar) baru 17,71 persen, dari 494,10 ton timbulan sampah setiap hari, baru ditangani 87,50 ton. Selanjutnya, Lombok Timur baru 26,10 persen, dari 496,11 ton timbulan sampah tiap hari, bari ditangani 129,50 ton.

Sedangkan kabupaten/kota lainnya, realisasi penanganan sampah sudah berada di atas 40 – 70 persen. Seperti Kota Mataram, penanganan sampah sudah mencapai 72,37 persen, Lombok Tengah 42,28 persen, Lombok Utara 46,11 persen, Sumbawa Barat 53,91 persen, Sumbawa 62,4 persen, Dompu 63,11 persen dan Kota Bima 71,26 persen. (nas)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional