NTB Petakan Kebutuhan Naker

Muhammad Riadi (Suara NTB/dok)

Sebagian besar perusahaan tambang yang mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP) di NTB masih dalam tahap eksplorasi. Baru satu perusahaan tambang yang mendapatkan izin di Kabupaten Sumbawa, yaitu PT. Sumbawa Juta Raya yang sudah mulai masuk tahap konstruksi.

Pemprov NTB sedang memetakan kebutuhan tenaga kerja perusahaan pertambangan yang ada di daerah ini. Diperkirakan, jika semua perusahaan tambang yang sudah mendapatkan izin beroperasi, maka ribuan tenaga kerja yang dibutuhkan.

Iklan

“Kalau dia (perusahaan yang dapat IUP) serentak beroperasi, itu ribuan tenaga kerja yang dibutuhkan,” kata Plt Kepala Dinas ESDM NTB, Muhammad Riadi, S.P.,  Mec.Dev., dikonfirmasi di Mataram, Kamis, 3 Desember 2020.

Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, ada sejumlah Izin Usaha Pertambangan (IUP) logam dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) mineral logam, baik dalam tahap eksplorasi maupun operasi.

Tercatat dua IUP logam dalam tahap eksplorasi, masing-masing di Sumbawa dan Sumbawa Barat. Dengan luas areal masing-masing 9.734 hektare dan 23.242 hektare. Sedangkan dalam tahap operasi sebanyak 22 IUP logam.

Dengan rincian, Lombok Barat 3 IUP logam seluas 3.730 hektare, Lombok Timur 1 IUP logam seluas 1.348 hektare, Sumbawa 5 IUP logam seluas 30.580,5 hektare, Dompu 10 IUP logam seluas 8.120 hektare, Sumbawa Barat 1 IUP logam seluas 24.722 hektare dan Bima 2 IUP logam seluas 18.202 hektare.

Riadi mengatakan baru satu perusahaan yang sudah masuk tahap konstruksi, yaitu PT. Sumbawa Juta Raya yang memperoleh izin di sekitar wilayah kecamatan Ropang Sumbawa. Sedangkan, PT. Sumbawa Timur Mining (STM) yang digadang sebagai tambang raksasa di Dompu, saat ini masih dalam tahap eksplorasi.

Begitu juga PT. Indotan Lombok Barat Bangkit (ILBB) di Sekotong. Riadi mengatakan Pemda sudah mulai menyiapkan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk sektor pertambangan. Lembaga pendidikan di Kabupaten Sumbawa dan perguruan tinggi di Kota Mataram sudah ada yang memiliki jurusan pertambangan.

Riadi menambahkan, jumlah kebutuhan tenaga kerja akan diketahui saat perusahaan tambang mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Pada tahap konstruksi, biasanya tenaga kerja yang dibutuhkan lebih banyak untuk tenaga konstruksi dan tenaga kasar. Sedangkan tenaga teknis dalam bidang pertambangan banyak dibutuhkan ketika operasi produksi.

Seperti PT. ILBB yang merencanakan produksi emas perdana di tambang Sekotong Lombok Barat (Lobar) pada kuartal ketiga 2023. Sesuai rencana kegiatan yang disampaikan ke Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indotan akan merekrut sebanyak 1.250 karyawan pada 2021 dan 2022.

Sesuai rencana kegiatan yang disampaikan, kata Riadi, pada triwulan IV 2021, Indotan akan merekrut 250 tenaga kerja. Perekrutan karyawan untuk kegiatan infrastruktur. Sedangkan pada 2022, tenaga kerja yang direkrut cukup banyak, yaitu sebanyak 1.000 orang. Perekrutan karyawan ini untuk kegiatan operasi produksi.

Sedangkan pada 2023, Indotan merencanakan sudah mulai melakukan penambangan waste. Sekitar bulan Juli sudah mulai drilling dan blasting penambangan ore atau bijih emas.

Selain itu juga direncanakan pengolahan ore di pabrik pengolahan emas yang dibangun. Dan mulai kuartal ketiga 2023, produksi emas perdana. PT. ILBB sudah mendapatkan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPkH) untuk operasi produksi bahan galian emas DMP seluas 172,51 hektare di area prospek Pelangan. (nas)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional