NTB Membutuhkan Buoy Tsunami

Bentuk Buoy Tsunami milik BMKG yang belum satu pun terpasang di NTB. (Suara NTB/ist_BMKG)

Mataram (Suara NTB) – NTB termasuk daerah rawan tsunami karena diapit dua lempeng tektonik aktif. Sayangnya, tak satu pun alat tsunami early warning system terpasang di laut, salah satunya berupa buoy tsunami.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sedang berusaha keras agar perangkat mahal itu bisa terpasang.

Iklan

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto mengaku, sampai saat ini belum ada anggaran dari pusat untuk pengadaan bouy tsunami.

‘’Ini kebijakan pemerintah pusat. Jadi sampai saat ini belum ada (anggaran). Ya harapan kita pemerintah daerah mengambil peran dalam mitigasi, dengan keterbatasan dana yang kami punya,’’ kata Agus Riyanto kepada Suara NTB.

Di NTB sendiri, tsunami pernah terjadi. Dalam katalog tsunami Indonesia pada BMKG, tercatat NTB telah diterjang tsunami sebanyak tujuh kali.

Berdasarkan catatan katalog tsunami BMKG,  tsunami pernah dipicu letusan Gunung Tambora 10 April 1815. Empat kejadian di Bima, yakni tsunami 8 November 1818 tinggi 3,5 meter,  tsunami juga terjadi 29 Desember 1820 tinggi 24 meter, tsunami 5 Maret 1836 dan tsunami Bima 28 November 1836. Sementara Tsunami di Labuantereng Lombok 25 Juli 1856.

Kemudian pada Jumat 19 Agustus 1977 tsunami juga pernah menghantam Desa Lunyuk, Kabupaten Sumbawa dan Desa Awang Kuta Lombok Tengah. Namun dalam katalog tsunami Indonesia pada BMKG, tsunami tersebut merupakan imbas kejadian di Pulau Sumba, NTT dengan lokasi 320 Km Barat Daya Waingapu.

Jauh sebelum sejumlah bencana di Indonesia, Kepala BMKG RI, Dwikora mengungkapkan, pernah dua kali mengajukan anggaran ke Komisi V DPR RI dan pemerintah pusat, tapi belum ada realisasi. Konsekwensinya, tidak ada pengadaan alat baru dan  diletakkan di daerah rawan tsunami, termasuk di NTB.

Kebutuhan alat deteksi sifatnya memang mendesak. Sesuai  kajian empirik BMKG, sumber gempa selama ini adalah di jalur Selatan dan Utara. Jalur laut Selatan,  sumbernya pertemuan dua lempeng, yakni Indo Australia membentur dan menghujam masuk ke lempeng Eurasia atau disebut batas Subduksi.

Sementara di bagian Utara Lombok,  potensi tsunami akibat sesar naik busur belakang Flores.

‘’Artinya alat itu sudah sangat penting dan segera. Kami berterimakasih jika ada perhatian, itu bagus sekali, khususnya dari Pemda. Itu artinya ada kesiapsiagaan  Pemda. Paling tidak, jaringan sirine saja dulu, sebagai petunjuk peta evakuasi,’’ jelasnya.

Ditemui terpisah, Kepala BPBD NTB Ir. H. Mohammad Rum menyebut, kawasan yang paling rawan diterjang tsunami adalah Lombok Selatan. Berdasarkan riwayat, Lunyuk Sumbawa Barat dan Desa Awang Kuta juga pernah terjadi tsunami kiriman dari NTT.

Sementara di wilayah Lombok Bagian Utara, daerah dianggap rawan adalah bagian Tanjung dan Ampenan Kota Mataram. ‘’Saya kira kalau soal riwayat tsunami, titik titik itu perlu diwaspadai,’’ jelasnya.

Rum juga mengakui, sampai saat ini belum ada alat deteksi tsunami di laut jenis buoy. Ia juga menyadari keterbatasan anggaran di BMKG pusat hingga daerah. Tapi bisa jadi akan ada upaya dari pihaknya, termasuk mendorong melalui pemerintah pusat. Tidak menutup kemungkinan, bisa dialokasikan dari APBD. “Kalau memang dari APBN  kurang, saya rasa ndak salah kalau kita sama sama usulkan dari APBD,’’ harapnya.

Apa itu Bouy?  

Bouy atau sebutan lengkap Dart Buoy, diketahui bentuknya menyerupai pelampung ukuran besar. Dipasang di kawasan Samudera  berfungsi mendeteksi perubahan tekanan dasar laut.

Jika ada perubahan tekanan pada dasar samudera setelah terjadi gempa tektonik dangkal, alat ini akan mengirim informasi ke BMKG, mengkonfirmasi sumber tekanan itu dari gempa.

 Satu jenis alat lagi, Tide Gauge biasanya di pasang di pelabuhan. Berfungsi mengukur permukaan air laut. Alat ini terkoneksi juga ke BMKG.

‘’Dari dua alat itu, sudah bisa memberikan data perubahan tinggi muka air laut, perubahan tekanan dasar, sehingga kami bisa nyatakan potensi tsunami,’’ jelas Agus Riyanto.

Dart Buoy adalah jenis alat deteksi yang paling diperlukan, namun demikian harganya relatif mahal hingga Rp7 miliar per unit.

Jika Pemprov NTB ingin berpartisipasi dalam pengadaan, maka ia mendorong agar membeli sirine sebagaimana alat yang sudah terpasang di Ampenan.  Per unit antara Rp500 juta sampai Rp1 miliar.

Agus Riyanto siap berkoordinasi dengan BPBD jika diperlukan dalam mendorong pembelian tiga jenis alat deteksi tsunami itu. Sebab jika bicara potensi tsunami, Agus Riyanto merujuk pada dua lempeng aktif tersebut  wajib diwaspadai.  (ars)