NTB Masuk Puncak Musim Hujan

Ilustrasi musim hujan (Gambar oleh WikimediaImages dari Pixabay)

Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan NTB mulai memasuki puncak musim hujan pada dasarian II Januari 2021. Sehingga masyarakat diminta tetap waspadai terhadap ancaman bencana banjir, tanah longsor, pohon tumbang dan gelombang tinggi.

Forecaster BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Afriya Ulfah menjelaskan curah hujan di NTB pada dasarian I Januari 2021 secara umum berada pada kategori menengah. Hanya disebagian wilayah Lombok bagian Utara yang curah hujan umumnya berada pada katagori rendah.

Sementara itu di sebagian Sumbawa, Dompu dan Bima terjadi hujan dengan katagori tinggi. Curah Hujan tertinggi terjadi disekitar wilayah Donggo di Kabupaten Bima, dengan jumlah curah hujan mencapai 369 mm/dasarian. Sifat hujan pada dasarian I Januari 2021 di wilayah NTB didominasi sifat Atas Normal (AN). Meskipun demikian ada beberapa wilayah yang mengalami sifat hujan Bawah Normal (BN), yaitu di Lombok Utara, seagian kecil Lombok Barat, Sumbawa dan Bima.

“Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut – turut (HTH) umumnya dalam dalam kategori sangat pendek (1 – 5 hari) bahkan dibeberapa wilayah masih terjadi hujan hingga tanggal updating. HTH terpanjang terpantau di Pos Hujan Bayan di Kabupaten Lombok Utara sepanjang 6 hari,” kata Afriya, Minggu, 10 Januari 2021.

Ia menjelaskan kondisi dinamika atmosfer. Di mana, indeks ENSO saat ini berada dalam kriteria La Nina Moderat dan diprediksi terjadi hingga bulan Mei 2021. Indeks Dipole Mode saat ini berada pada kategori Netral dan diprediksi akan tetap Netral hingga Mei 2021.

Saat ini, katanya, angin baratan secara umum mendominasi wilayah Indonesia. Daerah belokan angin terjadi di utara dan selatan garis ekuator. Zona ITCZ berada di sekitar Laut Jawa.

Pergerakan MJO saat ini terpantau aktif di Samudera Hindia hingga Benua Maritim bagian Barat dan diprakirakan akan tetap aktif hingga akhir dasarian III Januari 2021. Namun anomali OLR meunujukkan adanya potensi peningkatan wilayah konfektif hingga disekitar wilayah NTB.

“Oleh karena itu, potensi hujan pada akhir Januari 2021 umumnya semakin besar,” ujarnya.

Afriya menambahkan pada dasarian II Januari 2021, diprakirakan terdapat peluang curah hujan 20-50 mm/dasarian sebesar 80-100% yang merata hampir di seluruh wilayah NTB. Peluang curah hujan >100mm/dasarian sebesar >50% diprakirakan terjadi di sebagian besar wilayah Pulau Lombok,  sebagian wilayah Kabupaten Sumbawa Barat, sebagian Besar Dompu, dan Bima bagian barat.

“Memasuki puncak musim hujan, masyarakat diimbau agar meningkatkan kewaspadaan terhadap adanya potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang. Serta dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, genangan air, pohon tumbang serta gelombang tinggi,” ujarnya mengingatkan.

Untuk bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung, sebanyak enam Pemda sudah menetapkan status siaga darurat di NTB sampai awal Januari lalu. Yaitu, Kota Mataram, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa dan Dompu.

BPBD NTB mencatat, sepanjang 2020 lalu terdapat 108 kejadian bencana, baik  alam dan bencana non alam. Untuk bencana alam, terbanyak adalah bencana banjir atau banjir bandang  42 kejadian, 13 bencana tanah longsor, 32 bencana puting beliung. Sedangkan bencana non alam 9 bencana kekeringan dan 3 bencana kebakaran hutan dan lahan.

Dampak bencana alam yang melanda NTB sejak 1 Januari – 28 Desember 2020, sebanyak 27.707 warga NTB terkena dampak, 25 orang luka-luka dan 3 orang meninggal. Kemudian, sebanyak 494 rumah warga rusak, terdiri dari rusak berat 86 unit, rusak sedang 190 unit dan rusak ringan 218 unit.

Selain itu, sebanyak 16 fasilitas umum yang rusak. Terdiri dari fasilitas pendidikan 9 unit, fasilitas kesehatan 2 unit dan fasilitas ibadah 5 unit. Kerusakan lainnya, sebanyak tujuh jembatan rusak, 115 meter tanggul, 3 bendung, 60 meter jalan, 30 hektare sawah dan 9,5 hektare hutan. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here