NTB Harus Serius Dorong Sektor Primer, Revisi Target Pertumbuhan Ekonomi Mesti Realistis

Ilustrasi (Panen padi)

Mataram (Suara NTB) – Revisi target pertumbuhan menjadi 4,5 – 5 persen pada 2023 dinilai cukup realistis atau moderat. Untuk mengejar terget pertumbuhan ekonomi sebesar itu di tengah kondisi yang tidak menentu sekarang ini, Pemprov perlu lebih serius mendorong pengembangan sektor primer. Seperti pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kelautan.

Pemerhati Ekonomi Uniersitas Mataram (Unram), Dr. Firmansyah, M. Si., mengatakan, target pertumbuhan ekonomi yang ada dalam RPJMD 2019 – 2023, memang perlu direvisi. Ia mengatakan, target pertumbuhan ekonomi NTB  di tahun 2023 sebesar 7 persen memang overestimate.

Iklan

‘’Memang perlu direvisi. Target yang dulu terlalu over, harus direvisi. Revisi target pertumbuhan ekonomi 4 sampai 5 persen tahun 2023 itu saya pikir moderat. Karena memang kondisi ke depan, ada ketidakpastian ekonomi yang masih kita rasakan,’’ katanya dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 27 September 2020.

Menurutnya, jika target pertumbuhan ekonomi sebesar 4 – 5 persen, kemungkinan akan bisa tercapai. Pertumbuhan ekonomi sebesar 4 – 5 persen, menurutnya target yang moderat.

‘’Malah kalau tak direvisi, khawatir juga, over estimasi. Kalau terlalu jauh hasil capaian dengan yang direncanakan, nanti dianggap tidak berhasil, karena jauh sekali capaiannya,’’ katanya.

Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang direvisi tersebut, Firmansyah mengatakan belanja pemerintah lewat APBN maupun APBD harus dipastikan tepat waktu. Dengan belanja tepat waktu, maka akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Karena belanja pemerintah dalam bentuk pembiayaan proyek akan ikut menggerakkan sektor konstruksi. Pada ujungnya, akan membantu pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, Pemprov juga perlu mendorong realisasi investasi. Investasi yang selama ini tidak jalan, perlu didorong segera direalisasikan. ‘’Investasi yang belum terealisasi dicari tahu apa masalahnya. Karena itu menghambat pertumbuhan kalau investasi tak direalisasikan,’’ katanya.

Selain itu, Pemprov perlu lebih serius mendorong pengembangan sektor primer. Di sektor primer, misalnya kelautan, perikanan, pertanian, perkebunan dan peternakan merupakan sektor andalan NTB.

‘’Seharusnya itu difokuskan. Karena ini berkaitan dengan pangan, kebutuhan perut, sehingga akan tetap dicari dan dibutuhkan. Kita seriusi, meningkatkan kualitas produksi bahan baku sektor primer. Baru kemudian kita pikirkan hilirisasinya,’’ sarannya.

Firmansyah mengatakan, sebagian besar masyarakat NTB bekerja atau menggantung hidupnya dari sektor primer. Jika sektor ini semakin fokus ditangani, maka akan berkonstribusi terhadap penurunan kemiskinan dan mengurangi pengangguran.

Pasalnya, sektor primer tersebut pasarnya sudah jelas. Jika produksinya melebihi konsumsi di dalam daerah, maka bisa diekspor ke luar negeri.

‘’Sudah saatnya kita seriusi sektor primer. Yang lain itu sebagai pendukung saja. Karena implikasinya kemiskinan berkurang, pengangguran berkurang. Karena daya dongkraknya besar,’’ ujar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, dampak pandemi Covid-19 yang melanda NTB, menyebabkan target pertumbuhan ekonomi menjadi terkoreksi. Pemprov NTB merevisi target pertumbuhan ekonomi menjadi 5 persen hingga 2023 mendatang.

Kepala Bappeda NTB, Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M. Si., yang dikonfirmasi Suara NTB menjelaskan dalam RPJMD 2019 – 2023, Pemprov menargetkan pertumbuhan ekonomi NTB tanpa pertambangan bijih logam pada 2023 sebesar 6,5 – 7,0 persen. Namun, akibat pandemi Covid-19, target direvisi menjadi 4,5 – 5,0 persen di tahun 2023.

Pada 2020, target pertumbuhan ekonomi NTB direvisi menjadi 2 – 2,5 persen. Target sebelumnya dalam RPJMD sebesar 5 – 5,5 persen. Pada 2021, target pertumbuhan ekonomi NTB direvisi menjadi 3 – 3,5 persen, turun dari target sebelumnya dalam RPJMD sebesar 5,5 – 6 persen.

Sedangkan pada 2022, target pertumbuhan ekonomi NTB direvisi menjadi 4 – 4,5 persen, dari target dalam RPJMD sebesar 6 – 6,5 persen. Amry mengatakan, meskipun NTB masih dilanda pandemi Covid-19,  ekonomi daerah ini diperkirakan tumbuh positif sebesar 2 – 2,5 persen di tahun 2020.

Berdasarkan data BPS, perekonomian Provinsi NTB yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2020 mencapai Rp 32,79 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 23,07 triliun.

Ekonomi Provinsi NTB triwulan II-2020 dibandingkan triwulan II-2019 mengalami kontraksi 1,41 persen (y on y). Dari sisi Produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Kategori Pertambangan dan Penggalian sebesar 47,78 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai Komponen Ekspor Luar Negeri sebesar 19,81 persen.

Ekonomi Provinsi NTB triwulan II-2020 dibandingkan triwulan I-2020 tumbuh 0,52 persen (q to q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 31,50. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Luar Negeri tumbuh sebesar 24,05 persen.

Ekonomi Provinsi NTB semester I-2020 terhadap semester        I-2019 tumbuh 0,75 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Kategori Pertambangan dan Penggalian sebesar 31,72 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Luar Negeri tumbuh sebesar 5,40 persen. (nas)