NTB Dirugikan Kebijakan Ekspor Cabai

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj. Selly Andayani (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – NTB merasa dirugikan dengan ekspor cabai melalui daerah lain seperti Batam. Pasalnya, Surat Keterangan Asal (SKA) barang dikeluarkan dari daerah lain. Untuk itu, Pemprov akan mencarikan para pembeli cabai dari Malaysia dan Singapura agar ekspor cabai langsung dari NTB.

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M. Si mengatakan selama ini cabai asal NTB dikirim ke Malaysia dan Singapura lewat Batam.

Iklan

‘’Jadi SKA-nya dari Batam, bukan dari NTB. Padahal gratis buat SKA ini. Kalau begitu saya carikan buyer (pembeli)  dari Malaysia dan Singapura,’’ kata Selly di Kantor Gubernur, Jumat, 22 Februari 2019 siang.

Pemprov katanya, akan menghubungkan para pengusaha cabai yang ada di NTB dengan General Manager (GM) Garuda Indonesia. Pasalnya, biaya cargo maskapai lain cukup mahal, maka akan diarahkan menggunakan cargo Garuda.

Selly mengatakan, pihaknya akan mencarikan pembeli cabai langsung dari Malaysia dan Singapura. Ia mengaku telah bertemu dengan salah seorang pengusaha dari Singapura. Dia akan mencarikan buyer cabai dari negeri Singa tersebut. ‘’Dan kita hubungkan dengan bos cabai di NTB,’’ tuturnya.

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, produksi cabai di daerah ini mencapai 125 ribu ton setahun. Sementara jumlah konsumsi di dalam daerah hanya 25 ribu ton.

Kepala Distanbun NTB, Ir. Husnul Fauzi, M. Si mengatakan, dari sisi produksi sudah tidak ada masalah. Sekarang tinggal masalah industrialisasi komoditas cabai.

Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di daerah lain di Indonesia. Komoditas cabai NTB juga diekspor ke negara-negara Asia Tenggara dan Eropa. Negara tujuan ekspor cabai NTB lewat Batam adalah Malaysia, Singapura, Thailand. Sementara untuk tujuan Eropa yakni Inggris. Jenis cabai yang diekspor adalah cabai hijau.

Menurut Husnul, agar cabai tetap segar maka perlu ada cold storage. Dengan adanya cold storage akan memberikan nilai tambah bagi petani. Apabila harganya rendah, di bawah Rp10 ribu per Kg, dapat disimpan dulu dalam cold storage dan dijual ketika harganya di atas Rp15 per Kg. (nas)