NTB Butuh Kawasan Siap Bangun Industri Manufaktur

Nuryanti (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Target pemerintah untuk mewujudkan industrialisasi di NTB mengalami percepatan. Diantaranya dengan pengadaan paket dalam program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang untuk menanggulangi dampak pandemi virus Corona (Covid-19).

Kepala Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti, SE.ME menerangkan, upaya pemerintah menanggulangi dampak pandemi saat ini justru mendorong pemetaan potensi industri di NTB terwujud lebih cepat. ‘’Untuk mencapai program unggulan (industrialisasi) kita tetap on progress. Beberapa komoditi yang harusnya kita intervensi di tahun 2021. Itu sudah bisa kita tarik dan terpetakan potensi pelakunya di tahun 2020 karena JPS Gemilang,’’ ujarnya, Selasa, 16 Juni 2020 di Mataram.

Iklan

Diterangkan Nuryanti, untuk periode 2020 target industrialisasi NTB hanya menyasar lima komoditas utama. Yaitu daging sapi, jagung, unggas, garam, dan essence oil. Namun karena pandemi Covid-19 beberapa komoditas seperti minyak kepala, kopi, teh kelor dan lain-lain justru menunjukkan perkembangan juga.

Di sisi lain, industri seperti garam dan essence oil disebut Nuryanti menunjukkan perkembangan setelah menjadi bagian dari JPS Gemilang. Di mana beberapa produksi garam NTB telah mendapatkan Standar Nasional Indonesia (SNI) sedangkan pelau usaha essence oil mulai mengurus izin produksi.

‘’Sumber daya kita melimpah, tapi banyak dibawa ke luar daerah dan kembali sebagai produk yang sudah dikemas. Seperti essence oil kita sebanyak banyak (yang mengolah), tapi tidak ada izin,’’ jelas Nuryanti. Masalah dan potensi tersebut menurutnya berhasil terpetakan dengan cepat mengikuti penanganan pandemi yang berlangsung saat ini.

Penanganan pandemi Covid-19 juga membantu pihaknya memetakan pelaku-pelaku usaha yang dapat direkomendasikan untuk naik kelas. Dicontohkan Nuryanti seperti IKM teh kelor yang saat ini dapat diajukan untuk naik kelas karena memiliki jumlah aset dan tenaga kerja yang memadai.

Sebagai informasi, sebanyak 534 IKM/UKM terlibat dalam pengadaan paket JPS Gemilang tahap dua. Diantaranya 34 penyedia beras, 10 penyedia garam, 26 penyedia ikan kering, 50 penyedia minyak kelapa, 39 penyedia abon, 15 penyedia gula aren.

Kemudian 6 penyedia minyak kayu putih,  76 penyedia kopi, 21 penyedia teh kelor, 12 penyedia serbat jahe, 26 penyedia susu kedelai, 102 penyedia masker, 18 penyedia sabun, 71 penyedia kue kering, dan 28 penyedia goodybag vinyl. Jumlah tenaga kerja yang berhasil diserap mencapai 900 orang.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 juga diakui memberi pengaruh untuk program tersebut. Terutama dari sisi penyediaan anggaran yang terkena refocusing untuk penanganan. ‘’Karena refocusing dan lain sebagainya itu sekarang harus dinolkan dulu semuanya. Nanti di perubahan kita mulai lagi, menunggu pengesahan,’’ jelasnya.

Kendati demikian, program industrialisasi di NTB ditekankannya tetap merupakan program prioritas. Terutama untuk mewujukdan industrialisasi benih dan pakan untuk meningkatkan daya jual produksi jagung yang menjadi komoditas unggulan saat ini.

‘’Jadi program strategis (seperti industrialisasi) tetap menjadi prioritas, walaupun likuiditas (anggaran) menurun,’’ jelas Nuryanti. Menurutnya, pengembangan industrialisasi di NTB tetap mengedepankan persiapan dari hulu ke hilir.

Dicontohkan seperti industrialisasi pakan yang berhubungan dengan penyiapan benih jagung, pengolahan jagung, hingga mendukung program swasembada daging dan telur di NTB. Termasuk dengan penyiapan produk-produk JPS Gemilang yang ke depan berusaha diserap dengan menyiapkan TDC (Trade and Distribution Center) yang diinisiasi oleh PT. GNE dengan mengerahkan BUMDes.

‘’Jadi sesuai arahan Pak Gubernur, itu sudah dipikirkan bagaimana setelah Covid ini selesai produk-produk di JPS Gemilang itu tetap bisa diserap. Karena yang dibutuhkan juga oleh pengusaha kita adalah (kepastian) pasar,’’ jelasnya.

Untuk mempermudah pengembangan industrialisasi tersebut, Dinas Perindustrian NTB juga meyiapkan STIP sebagai lokasi pengembangan miniatur industrialisasi. Realisasinya diproyeksikan terbagi dalam dua tahap masing-masing pada 2020 dan 2021 mendatang.

Menurut Nuryanti, hal tersebut penting dilakukan agar pelaku usaha dapat mereplikasi pengembangan industri yang disiapkan pemerintah. ‘’Industrialisasi jagung misalnya banyak turunannya. Itu kita targetkan menghasilkan jagung yang berkualitas. Menjadi sumber pakan berkualitas, untuk menuju kemandirian pakan dan swasembada daging dan telur,’’ jelasnya.

Di sisi lain, program industrialisasi tersebut diakuinya masih menemukan beberapa kendala. Salah satunya penarikan investor untuk mendukung pengembangan pengolahan masing-masing komoditas.

‘’Ketika NTB mau mengunggulkan industrialisasi, otomatis kita harus berusaha menarik sebanyak mungkin investor,’’ ujar Nuryanti. Untuk itu, NTB disebutnya memerlukan kawasan siap bangun untuk industri manufaktur. ‘’Ini yang belum kita miliki,’’ sambungnya.

Dengan adanya kawasan siap bangun, akan meningkatkan daya tarik NTB untuk menarik investor. Saat ini pihaknya tengah mencari lokasi lahan milik provinsi yang paling tepat untuk mewujudkan tersebut.

‘’Apalagi kalau Amdal, listrik, air, perizinan itu sudah beres. Investor tinggal datang dan menentukan apakah mau membeli atau menyewa (lahan yang disiapkan,’’ ujarnya.

Menurut Nuryanti, hal tersebut telah diajukan dan akan didiskusikan lebih lanjut dengan Dinas PUPR, DPMPTSP, dan Bappeda.  ‘’Kalau NTB punya kelebihan pelayanan itu, akan sangat bagus untuk pengembangan industri kita ke depannya,’’ pungkasnya. (bay)