NTB Bisa Jadi Pusat Industri Sarang Burung Walet

Lalu Ading menunjukkan sarang burung walet siap kirim.(Suara NTB/bul)

Praya (Suara NTB) – NTB memiliki potensi komoditas luar biasa, selama ini tidak dikelola secara maksimal. Ialah sarang burung walet. Karena potensi ini, NTB juga bisa menjadi pusat industri sarang burung walet.

Selama ini sarang burung walet hampir tidak dilirik oleh pemerintah. Berdasarkan data Karantina, setiap tahun ada 21 ton rata-rata sarang burung walet yang ke luar daerah.  Pengusaha-pengusaha luar daerah mengekspornya ke berbagai negara, kemudian bermuara di Tiongkok (China).

Iklan

Ketua Asosiasi Pengusaha Sarang Burung Walet NTB, Lalu Buntaran mengatakan, 21 ton rata-rata sarang burung walet yang ke luar dari NTB termasuk potensi yang tidak kecil. Selama ini, sarang burung walet diangkut begitu saja oleh pengusaha-pengusaha luar daerah. kemudian diekspor ke Malaysia, Hongkong, kemudian ke China.

Sarang burung walet dijual gelondongan. Dalam keadaan tidak bersih, harganya dikisaran Rp10 juta, hingga Rp13 juta per kilogramnya. Sampai di China, kata Lalu Ading, panggilan akrabnya, sarang burung walet yang didatangkan dari Indonesia kemudian diproses dibersihkan. Dan harga jualnya naik berlipat-lipat menjadi sampai Rp55 juta.

“Bayangkan, kita punya barang ke China. Hanya diproses sedikit harganya naik menjadi Rp55 juta perkilo. Kita jualnya Rp10-an juta perkilo. Rp40-an juta keuntungan melayang,” ujarnya.

Hal itulah yang kemudian membuat Lalu Ading merasa, tidak boleh selamanya hal tersebut berlaku. Di jumpai di Kampung Walet, di Tegal Desa Kateng Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Selasa, 12 Oktober 2021, Lalu Ading bolak balik China untuk belajar proses pembersihan sarang burung walet.

Kini proses pembersihan sarang burung walet dilakukan sendiri. Melibatkan masyarakat sekitar yang sudah dilatih  membersihkan sarang burung walet. Dari sebelumnya pembersihan dilakukan secara konvensional yang memakan waktu cukup lama.

Hasilnya, NTB menjadi satu-satunya daerah penghasil sarang burung walet yang mampu melakukan proses dan menyiapkan sarang burung walet siap ekspor. Sejumlah buyer dari berbagai negara berdatangan menemui Lalu Ading. Meminta dipasok sarang burung walet. Harga saat ini dipertahankan di kisaran hingga Rp35 juta perkilo.

Dalam sebulan, Lalu Ading sendiri baru bisa memenuhi permintaan ekspor sebanyak 2 kuintal. Jika dilihat dari catatan Balai Karantina, setahun sarang burung walet yang keluar dari NTB 21 ton, targetnya tahun ini NTB bisa menembus angka 30 ton.

Pada bagian lain, Lalu Ading menyayangkan, sarang burung walet yang demikian besar keluar dari NTB tidak dicatat oleh pemerintah, bahkan tidak dijadikan sebagai sumber PAD. Padahal, jika dikelola, pemerintah kabupaten/kota bisa membuat peraturan pengelolaan budidaya sarang burung walet ini, maka tidak kecil PAD yang bisa diserap.

“Buat saja bupati/walikota, dan gubernur aturannya. Catat siapa saja yang melakukan budidaya burung walet, catat berapa produksinya. Dan buat satu pintu keluarnya. Tidak boleh pengusaha luar langsung masuk begitu saja ke masing-masing pengusaha. Atur satu pintu, kalau ada yang mau cari sarang burung walet NTB, cukup satu pihak yang dihubungi. Sehingga tercatat berapa produksi dan berapa keluar. Dan pemerintah silahkan saja tentukan berapa besaran PAD dari setiap pengirimannya. Kami siap bekerjasama dengan pemerintah,” kata Lalu Ading.

Selama ini sarang burung walet NTB keluar begitu saja. Sehingga potensi PADnya menguap begitu saja. NTB menurutnya boleh berbesar hati dibanding daerah -daerah lain penghasil sarang burung walet. Karena hanya di NTB yang bisa melakukan proses pembersihan. Untuk proses ini, membutuhkan tidak sedikit tenaga kerja.

“Jika kita kelola sarang burung walet ini, lulusan SMP, SMA, bahkan yang tidak punya status pendidikan bisa ditarik jadi tukang bersihkan. Dan kebutuhan tenaga kerjanya banyak. Kalau pemerintah serius menggarap dan mengelola sarang burung walet ini, bisa diadu efektifitasnya mengurangi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan. Sarang burung walet ini nilainya besar dan bisa membuat NTB Gemilang,” ujarnya.

Pemerintah sudah turut mengintervensi potensi sarang burung walet ini. mengelolanya dari hulu ke hilir. OPD – OPD lingkup Pemprov NTB, didukung oleh Bank Indonesia. sarang burung walet tengah diarahkan sebagai komoditas potensial yang bisa dihilirisasi. Kedepan NTB tidak akan lagi mengirim sarang burung walet gelondongan. Melainkan sudah dalam bentuk produk-produk olahan yang selama ini dilakukan oleh Tiongkok. Misalnya, bubur sarang burung walet, herbal sarang burung walet, teh sarang burung walet, bahkan tepung sarang burung walet dicampur porang atau sorgum. Tentu nilainya akan berlipat-lipat lagi.

“NTB bisa berjaya, dan sebagai satu-satunya yang sangat siap di Indonesia mengolah sarang burung walet. Tiggal, pemerintah daerah mau atau tidak menjadikannya sumber PAD,” demikian Lalu Ading. Pada bagian lain, ia juga mengingatkan, kepada pembudidaya burung walet, saat ini sudah menjadi keluhan penurunan produksi. Misalnya di Cakra, di Ampenan.

Salah satu keleliruannya adalah tidak menjaga keberlangsungan pengembangbiakan burung walet. Karena tergiur dengan uang, panen sarang burung walet dilakukan terus menerus. Bahkan saat sebelum sarangnya siap dipanen. Tidak itu saja, hingga telur burung waletpun dipanen dan dijual. Akibatnya, populasi burung walet terus menurun. Ini yang perlu diperhatikan agar kekayaan alam ini dapat dijaga kelangsungannya.(bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional