NTB-Bali, Kekuatan Bersama dan Masa Depan Pariwisata

Agus Talino

Catatan: Agus Talino

NUSA Tenggara Barat (NTB) sekarang menjadi salah satu pusat perhatian. MotoGP menghipnotis banyak orang untuk datang.  Pilihannya, kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Tujuannya, agar mereka yang datang mau kembali. Tidak sebaliknya, datang untuk tidak kembali karena tidak sesuai ekspektasi.

Iklan

Kekuatan pariwisata tidak saja pada alam. Tetapi juga budaya. Bahkan budaya memiliki kekuatan yang sangat besar.  Keberagaman yang dimiliki NTB dengan tiga etnis besarnya  bisa memberi banyak pengamalan dan pengetahuan untuk mereka yang datang.

Tidak semua orang yang datang mengunjungi destinasi wisata hanya ingin melihat keindahan alam, menikmati deburan ombak dan berjemur di tepi pantai. Mereka juga ingin mempunyai pengalaman dan pengetahuan tentang destinasi yang dikunjunginya.

Karenanya, menjadi penting untuk dipikirkan agar kita bisa menghadirkan sesuatu yang membuat mereka yang datang memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang baik dan mengesankan. Pengalaman dan pengetahuan yang baik dan mengesankan bisa menjadikan NTB sebagai destinasi pilihan banyak orang. Tidak boleh mereka yang datang memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang tidak baik dan tidak menguntungkan bagi kita.

Diskusi Strategis Tahunan Ke-5 MarkPlus Tourism di Bali Tourism Board (BTB) Denpasar, Senin, 9 Maret 2020 lalu yang dihadiri Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah – akrab disapa Dr. Zul – menarik. Diskusi yang dihadiri banyak pelaku pariwisata Bali. Termasuk, Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati yang akrab disapa Cok Ace itu menjadi ruang  yang sangat produktif untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mengembangkan pariwisata.

Cerita tentang kehebatan pariwisata Bali sudah sering kita dengar. Salah satu yang penting dari diskusi  itu adalah munculnya gagasan kerja sama Bali dan NTB mengembangkan pariwisata. Kedua daerah ini bisa saling melengkapi. Apalagi jarak Bali-Lombok (NTB) tidak terlalu jauh. Sehingga sangat memungkinkan paket wisata Bali-NTB dipasarkan secara bersamaan. Bahkan mungkin juga melibatkan  NTT untuk membangun kekuatan bersama membangun pariwisata. Termasuk sektor-sektor lainnya. Karena ketiga daerah ini memiliki keunggulan masing-masing.

                                                                          ***

Membincangkan pariwisata tidak bisa hanya membincangkan yang manis-manis. Yang pahit-pahit di sektor ini juga ada. Karena sesungguhnya sektor ini sangat sensitif dan gampang terguncang. Isu Corona misalnya, cukup memukul sektor ini. Sama dengan bom Bali. Pariwisata Bali juga terpukul. Dan juga gempa Lombok beberapa waktu lalu. Pariwisata kita juga merasakan getirnya.

NTB penting belajar. Tidak saja melihat pariwisata dari satu sisi. Melihatnya harus lengkap. Sehingga pariwisata bisa benar-benar mendatangkan kebaikan bagi daerah.  Salah seorang peneliti pariwisata dari Kementerian Pariwisata yang menjadi salah seorang pembicara pada diskusi tersebut menyebutkan, pariwisata harus dilihat secara menyeluruh. Tidak boleh hanya menjadi mesin pencari uang tanpa mempertimbangkan hal-hal lainnya.  Misalnya, soal kerusakan lingkungan. Apalagi tidak mempertimbangkan manfaatnya bagi masyarakat.

Cok Ace pada diskusi itu menyinggung tentang pariwisata berkualitas. Menurutnya, pariwisata yang berkualitas itu harus bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Artinya, masyarakat sebagai pendukung budaya harus juga sejahtera dengan kemajuan pariwisata. Karena kekuatan pariwisata Bali itu ada pada budayanya.

NTB sudah dan akan melakukan apa? Ini penting dipertanyakan untuk memastikan arah pembangunan pariwisata kita menjadi jelas. Apalagi Dr. Zul menginginkan agar masyarakat tidak menjadi penonton di daerah sendiri. Masyarakat harus menjadi pemain utama dalam berbagai sektor. Termasuk sektor pariwisata.

Persoalannya, kadang-kadang tidak sederhana. Masyarakat harus memenuhi syarat untuk tidak menjadi penonton dan menjadi pemain utama. Jika tidak dipersiapkan, maka akibatnya, masyarakat  terpaksa menjadi penonton. Karena tidak memiliki cukup persyaratan untuk terlibat dan bekerja sama.

Untuk itu, mungkin perlu dipertimbangkan agar masyarakat benar-benar dipersiapkan. Sehingga tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak melibatkan masyarakat. Termasuk pada sektor pariwisata. Harapannya, pariwisata bisa menjadi salah satu pilihan masa depan. Dan masa depan pariwisata yang gemilang itu adalah miliki kita bersama. Karena kita saling mendukung dan saling menguatkan. Semoga.***

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional