NTB akan Tambah Alat Deteksi Tsunami

Alat deteksi tsunami berupa sirine satu satunya hanya ada di Ampenan, Kota Mataram. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – NTB akan meningkatkan porsi anggaran untuk mitigasi bencana. Selain itu, sebagai daerah yang rawan tsunami,  Pemprov NTB akan mengusulkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menambah alat deteksi tsunami.

‘’Kita sudah punya alarm tsunami dan sebagainya. Cuma kita tambah, BPBD menganggap itu masih kurang,’’ kata Sekda NTB, Ir. H. Rosiady H. Sayuti, M. Sc, Ph.D dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Rabu, 2 Januari 2019 siang.

Iklan

Ex Officio Kepala BPBD NTB ini mengatakan, Pemprov akan mendukung penambahan alat deteksi tsunami, di Lombok dan Sumbawa. Pemprov berharap ada bantuan dari BNPB untuk alat deteksi tsunami.

Sekda mengatakan, NTB merupakan daerah yang rawan bencana. Mulai dari banjir, tanah longsor, gempa, gunung meletus, kekeringan dan tsunami.

‘’Artinya kita harus memberikan porsi anggaran yang lebih terkait mitigasi bencana. Jadi membuat masyarakat sadar bencana, yang selama ini kurang diperhatikan,’’ katanya.

Menurut Sekda, NTB dianggap berhasil dalam mitigasi bencana banjir di Bima dan Kota Bima. Meskipun banjir bandang menerjang dua kabupaten ujung timur NTB tersebut, tetapi nyaris tak ada korban meninggal.

‘’Artinya proses pelatihan, penyadaran masyarakat di Bima terkait bencana sudah bagus,’’ ujarnya.

Mitigasi bencana seperti Bima harus dilakukan juga di kawasan-kawasan pesisir yang rawan tsuunami di NTB. Selain menambah alat deteksi tsunami, menurutnya mitigasi bencana ke depannya harus lebih massif dilakukan.

Sebelumnya diberitakan, NTB tergolong rawan bencana, salah satunya bencana tsunami. Ironisnya, alat deteksi berupa sirine satu satunya hanya di Ampenan, Kota Mataram.  Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Mataram mendorong pemerintah daerah di NTB untuk memperbanyak sirene yang disebut T Early Warning System (EWS).

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto membenarkan perangkat EWS sangat terbatas di NTB.  Di NTB baru ada satu unit , terdapat di Ampenan.  Sedangkan sembilan kabupaten/kota belum ada terpasang satu pun.

Saat ini alat deteksi di Ampenan terus dilakukan perawatan. Setiap hari dilakukan uji suara, agar ketika dibutuhkan, dipastikan dapat berfungsi dengan baik. NTB  saat ini panjang pantainya mencapai  2.333 kilometer. Terbentang dari Ampenan, Kota Mataram hingga Kecamatan Sape, Kabupaten Bima di Pulau Sumbawa.

Selain itu, NTB terdiri dari 10 kabupaten/kota dan memiliki 278 pulau kecil. Baik garis pantai maupun pulau pulau kecil itu rawan gempa dan berpotensi tsunami.

Dalam catatan sejarah BMKG, Pulau Sumbawa pernah dilanda tsunami pada 1920. Desa Lunyuk di Kabupaten Sumbawa, dan Desa Awang, serta Kuta di Kabupaten Lombok Tengah juga pernah diterjang tsunami pada 19 Agustus 1977. Gelombang ganas air laut itu memporak-porandakan pemukiman diawali dengan gempa bumi berkekuatan 8,0 SR yang berpusat di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bencana air bah laut tersebut menghantam Sumba dengan ketinggian 15 meter dan menewaskan 316 orang serta menghancurkan ribuan bangunan. Sedangkan di NTB, sebanyak 198 orang meninggal dunia. (nas)