Nomor 4, Era BARU, Industri 4.0, Menang!

Baehaqi-Ganefi mengulum senyum kebahagiaan memperoleh nomor urut 4 saat pengundian nomor urut di KPU. (Suara NTB/ist).

Mataram (Suara NTB) – Malam pencabutan nomor urut paslon begitu bermakna bagi pasangan H Baihaqi-Hj Diyah Ratu Ganefi yang mendapat nomor urut 4. “Inilah nomor terbaik untuk kami,” kata Calon Wali Kota Mataram, H. Baihaqi,  Senin, 28 September 2020.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) NTB periode 2015-2019 itu menuturkan dari awal memang tidak menargetkan secara khusus harus dapat nomor berapa. “Kalau nomor berapa tidak ada, semua nomor saya rasa baik,” tuturnya.

Iklan

Tetapi dia mengungkapkan sempat berdoa, begitu detik-detik tangannya menelusup masuk ke dalam kotak undian. “Saya ingin nomor yang saya pegang itu nomor terbaik,” terangnya. Ternyata begitu dibuka angka itu adalah nomor 4. Aqi sempat tercenung melihat nomor itu. “Doa kami terkabul dan itu nomor 4,” ungkapnya.

Aqi sapaan akrabnya, yakin tidak ada kebetulan di setiap peristiwa kehidupan. Termasuk saat memperoleh nomor urut 4. Angka itu ternyata begitu akrab dengan dirinya. Selama sosialisasi langsung atau melalui baliho, Aqi tidak pernah lepas dari nomor 4. Angka itu bahkan telah muncul sebelum mengetahui dia akan ada di urut nomor 4.

“Setiap bertemu warga, saya selalu bicara tentang industri 4.0 untuk membawa Mataram ke perubahan besar,” ungkapnya.

Aqi berkomitmen membuat lompatan besar membawa Kota Mataram lebih maju, nyaman, dan beradab. Ia yakin dengan dukungan semua pihak yang menginginkan ibu kota provinsi NTB bersinar terang.

“Sebagai putra Mataram, saya ingin memberikan karya terbaik saya buat tanah kelahiran saya,” katanya dengan suara bertenaga.

Juru Bicara BARU, Lalu Fahrurrozi menyebut warga ibu kota tengah diajak berani melihat masa depan Kota Mataram sebagai daerah internasional. “Berani bermimpi besar, Mataram sebagai kota internasional,” katanya.

Tetapi bukan mimpi di siang bolong. Melainkan mimpi didasari potensi NTB. “Iya karena Mataram itu ibu kota provinsi, bicara NTB ya bicara ibu kota provinsinya,” ulasnya.

MotoGP, KEK Mandalika, Kawasan Tiga Gili, Kawasan Samota, Berbagai destinasi Pantai dan Alam, serta Budaya melimpah di NTB, menggiring setiap orang luar akan melihat ibu kota provinsi. “Kota Mataram etalase NTB,” tegasnya.

Mengemas Kota Mataram sebagai kota internasional, membutuhkan keberanian cita-cita luar biasa. “Tidak cukup dengan cara-cara biasa, Mataram telah ditakdirkan sebagai kota internasional,” terangnya.

Cita-cita dan gagasan besar harus ditunjang perbaikan di segala lini. “Kita harus benahi fasilitas agar berkelas dunia, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, perindustrian, Ruang Terbuka Hijau, transportasi publik,” urainya.

Dan itu kata Ojie, hanya bisa dilakukan calon pemimpin yang punya keilmuan di bidang itu. “Beliau arsitek dan telah banyak berdiskusi tukar gagasan dengan berbagai pemikir di berbagai belahan dunia,” ulasnya.

Saat ini adalah kesempatan emas bagi Kota Mataram membuat lompatan besar.”Ingat sekarang era industri 4.0, bukan lagi saatnya berpikir 2.0, atau di bawahnya lagi,” tegasnya.

Terkait nomor 4 yang diperoleh Baihaqi, Ojie menyebut tidak ada makna khusus atau filosofis untuk itu. “Saya bukan penafsir nomor yang baik,” celetuknya, sembari tersenyum.

Tetapi secara fisik dan kemudahan kontak, nomor itu paling dekat dengan pemilih. Posisinya nomor 4, ada di posisi paling kanan. “Tangan kanan para pencoblos tidak perlu bergeser untuk menentukan pilihan,” pungkasnya. (ndi/*).