Nirwan Dewanto : Kritik Seni Tak Boleh Melupakan Unsur Keindahan

Mataram (suarantb.com) – Penulis buku “Satu Setengah Mata-Mata”, Nirwan Dewanto mengatakan kritik seni dituntut lebih indah penyajiannya dibandingkan dengan seni itu sendiri. Menurutnya karya kritik seni yang ada selama ini, masih belum mengarah kepada kesadaran untuk peduli pentingnya keindahan cara penyampaian.

Karya kritik seni apapun, seyogyanya harus melebihi keindahan seni yang dikritiknya. Tak terkecuali kritik atau esai seni rupa. Dikatakan, fungsi kritik sebagai corong dalam menyampaikan muatan-muatan nilai yang terkandung dalam karya seni akan sangat menarik jika tak harus melupakan keindahan.

Iklan

“Kritik seni kita selama ini, itu tidak pernah peduli pada dirinya sendiri. Maksud saya begini, kritik seni itu harus punya ambisi untuk menandingi keindahan seni yang dia bahas,” kata Nirwan saat acara bedah buku “Satu Setengah Mata-Mata” di Mataram, Selasa, 16 Agustus 2016.

Dijelaskan, sebuah karya kritik seni yang penyampaiannya tidak menyertai unsur keindahan merupakan masalah besar. Sebab telah tega meminta seniman menciptakan karya seni yang indah tetapi sebagai pembahas karya seni tersebut ia menyampaikannya melalui kritik atau esai yang buruk.

Menurutnya, hal tersebut akan menjadikan seorang kritikus seni berdosa kepada masyarakat. Karena telah menuntut karya seni disajikan secara indah, sementara karya kritiknya sendiri jauh dari keindahan.

“Itulah kenapa kita memiliki kewajiban kalau membahas karya seni harus indah. Kalau kita menuntut karya seni jadi indah sementara karya kritik tidak baik, itu kacau,” terangnya.

Nirwan menambahkan, antara karya kritik seni dan karya sastra seharusnya menjadi satu kesatuan yang utuh. Karena ada saat dimana karya esai atau kritik menjadi karya sastra, dan sebaliknya karya sastra tak memuat kaidah nilai-nilai sastra.

Ketika sebuah karya kritik memiliki muatan keindahan, di sanalah ia bisa dikatakan karya sastra. Menurut Nirwan, sastra sendiri adalah karya yang memiliki unsur-unsur keindahan, dengan begitu, sastra tidak mutlak berupa cerpen atau puisi saja.

Meskipun sebuah ulasan tentang karya seni, namun disajikan secara indah maka masuk dalam karya sastra. Sebab, sangat banyak karya sastra yang masuk dalam jenis karya sastra, berupa puisi dan cerpen yang tidak memiliki unsur keindahan.

Nirwan menyatakan, buku kumpulan esai seni rupa “Satu Setengah Mata-Mata” merupakan pernyataan sikapnya terhadap kritik seni yang berkembang selama ini. Dimana menurut Nirwan jauh dari keindahan dan cenderung menjadi juru bicara dari pengarang karya-karya besar, dengan selalu memuat pernyataan-pernyataaan mereka dalam karyanya.

“Buku ini menjadi pernyataan sikap saya, dan dengan sengaja memilih tulisan-tulisan yang bersifat pribadi dalam menghayati kesenian,” katanya. (ast)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here