Nilai Paling Rendah di IPM, Rata-rata Penduduk Lobar Tidak Tamat SMP

Anas (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Rata-rata lama sekolah (RLS) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) sebesar 6.41 tahun. Artinya penduduk Kabupaten Lobar yang berusia 25 tahun rata-rata sekolah selama 6.41 tahun atau bisa sekolah hanya sampai kelas 1 SMP atau tidak tamat SMP. Rata-rata lama sekolah ini pun paling rendah nilainya pada indikator komposit Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Hal ini disampaikan Kepala BPS Kabupaten Lobar Anas, usai melakukan diskusi di kantor Bupati Lobar terkait dengan perkembangan Kabupaten Lobar pada tahun 2020, Senin, 28 Desember 2020.
Anas menjelaskan, dengan angka 6,41 ini menempatkan bahwa rata-rata penduduk di Kabupaten Lobar tingkat pendidikan hanya sampai tamat SD, kalaupun ada yang bisa sampai SMP, tetapi tidak bisa selesai alias putus di tengah jalan.” Rata-rata lama sekolah di Kabupaten Lombok Barat, sampai Sekolah Dasar,” ujar Anas.

Apabila dibandingkan dengan RLS Provinsi NTB, RLS Kabupaten Lobar berada jauh di bawah rata- rata. Selisih antara RLS Provinsi NTB dan RLS Kabupaten Lobar mencapai 0.9 tahun.” RLS di Lobar jauh di bawah RLS Provinsi NTB,” ungkapnya.

Secara peringkat se-Provinsi NTB, RLS Kabupaten Lobar berada di posisi ke delapan, dari 10 kabupaten/kota di Provinsi NTB.” Kalau secara urutan, Lombok Barat ada di peringkat ke delapan,” ujarnya.

Anas menyebutkan Indikator Pendidikan dihitung melalui komponen Harapan Lama sekolah (HLS) dan rata-rata lama sekolah. Harapan lama sekolah (HLS) Kabupaten Lobar pada tahun 2020 sebesar 13,71 tahun. Artinya dari HLS ini adalah setiap anak usia 7 tahun diharapkan mampu sekolah hingga 13,71 tahun atau setara dengan sekolah perguruan tinggi di tahun pertama semester kedua.

Kondisi ini menggambarkan bahwa minat sekolah semakin tinggi hingga sekolah hingga SMA bukan sebagai patokan lagi. Jika dibandingkan dengan HLS Provinsi NTB, pada tahun 2020 ini untuk pertama kalinya HLS kabupaten Lombok Barat berada diatas HLS Provinsi NTB, meski selisih hanya 0.01 tahun.” HLS Lobar berada di peringkat ketiga se- Provinsi NTB,” katanya.

Untuk bisa meningkatkan rata-rata lama sekolah, maka perlu dilakukan atau digalakkan program paket A, maupun C untuk warga masyarakat yang putus sekolah agar bisa mendapatkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Karena menurut Anas, tinggi angka kemiskinan, sangat erat kaitannya dengan rendahnya tingkat pendidikan.” Kemiskinan itu paling dekat hubungannya dengan pendidikan,” tegasnya.
Kalau pendidikan rendah, bisa mempengaruhi tingkat ekonomi, maka untuk bisa mengurai tingkat kemiskinan, maka perlu dinaikan kualitas tingkat pendidikan di Kabupaten Lobar dengan cara meningkatkan rata-rata lama sekolah.” Ini menjadi tugas bersama masyarakat dan pemerintah agar terus mau sekolah,” imbuhnya.

Kalau sudah pendidikan tinggi, otomatis peluang untuk bisa mendapatkan pekerjaan juga lebih besar, jika dibandingkan dengan penduduk yang tidak memiliki pendidikan, kalau sudah pendidikan rendah, berhubungan dengan kemiskinan, karena menjadi pengangguran tidak ada pekerjaan, kalau tidak ada pekerjaan tidak ada penghasilan.
Terkadang dengan tingkat pengangguran di Kabupaten Lobar, setiap bulan Agustus BPS mengadakan survei untuk memberikan gambaran ketenagakerjaan baik di wilayah Kabupaten Lobar hingga wilayah seluruh Republik Indonesia. (her)