Ngaku Bawa Bom, Penumpang Batik Air di LIA Diamankan Polisi

Praya (Suara NTB) – Petugas keamanan Lombok International Airport (LIA), Rabu, 16 Mei 2018 malam mengamankan salah seorang penumpang maskapai Batik Air, ET (26), karena mengaku membawa bom saat check-in di LIA. Akibatnya, penumpang tujuan Jakarta ini gagal terbang, karena harus berurusan dengan aparat kepolisian.

Kasat Reskrim Polres Loteng, AKP Rafles Girsang, SIK., Kamis, 17 Mei 2018  membenarkan penangkapan tersebut. Bahkan yang bersangkutan kini masih diamankan di Mapolres Loteng untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut. “Yang bersangkutan sementara masih kita amankan. Untuk keperluan penyelidikan,” terangnya.

Iklan

Informasi yang diperoleh menyebutkan, ET warga Kalideres Jakarta Barat diamankan sekitar pukul 18.30 Wita. Kala itu, ET bersama temannya hendak berangkat menuju Jakarta dengan menumpangi pesawat Batik Air. Ketika pemeriksaan awal, ET lolos dari pemeriksaan x-ray.  Tapi begitu ke counter check-in petugas lantas menanyakan isi karung yang dibawa ET. Saat ditanya pertama kali, ET mengaku karung tersebut berisi bom. Karena mengira ET bercanda, petugas cek-in kembali menegaskan barang apa yang dibawa oleh ET. Namun lagi-lagi, ET mengaku membawa bom.

Atas pengakuan tersebut, petugas cek-in kemudian melapor ke petugas Avsec LIA. Saat itu, itu beberapa petugas Avsec LIA datang menghampir ET yang kemudian langsung dibawa ke ruang interogasi. Setelah berhasil diamankan petugas avsec kemudian menghubungi aparat kepolisian untuk menjemput ET.

Tidak lama berselang, angggota polisi datang dan langsung membawa ET ke Mapolres Loteng guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Akibatnya, ET terpaksa harus membatalkan penerbangannya, karena harus berurusan dengan proses hukum. “Yang bersangkutan kita amankan karena diduga melanggar pasal 437 ayat 1 UU. No. 1 tahun 2009, tentang penerbangan,” sebut Rafles.

Di mana yang bersangkutan diduga memberikan keterangan palsu yang bisa membahayakan keselamatan penerbangan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 344 huruf e dengan ancaman pidana kurungan maksimal 1 tahun. “Jadi memberikan informasi palsu dalam penerbangan ancaman hukumannya cukup berat,” ujarnya.

Pihaknya pun berharap, kasus yang dialami ET tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi setiap penumpang pesawat agar memberikan informasi yang benar dan tidak memberikan informasi palsu. Apalagi itu bisa mengganggu keselamatan penerbangan, walaupun niatnya mungkin bercanda.  “Sesuai undang-undang yang bersangkutan tetap diproses. Lantaran memberikan informasi palsu,”  tegas Rafles. (kir)