Nelayan Lobster Lombok Minta Permen KP 17/2021 Dibatalkan

Lobster pasir. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Nelayan penangkap benih lobster meminta pemerintah membatalkan peraturan terbaru Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) karena dianggap cukup memberatkan bagi nelayan kecil. Pemerintah seperti diketahui telah mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan (KP) Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting dan Rajungan di Wilayah Negara Republik Indonesia.

Permen KP terbaru ini di dalamnya mengatur penjualan benih lobster, meskipun di dalam negeri harus benih lobster berukuran 5 gram. Nelayan meminta kebijakan baru ini dibatalkan  karena dirasa masih belum pro rakyat. Awanto, salah satu nelayan penangkap benih lobster di Selong Belanak, Lombok Tengah mengaku akan sangat kesulitan menerapkan Permen KP tersebut.

Iklan

Pasalnya, nelayan harus melakukan kerja dua kali. Yaitu membudidayakan kembali benur yang sudah ditangkap sebelum boleh dijual kembali. “Kami tidak punya tempat budidaya. Berat sekali itu (PermenKP No 17/2021),” katanya pada Suara NTB, Jumat, 23 Juli 2021. Di Selong Belanak sendiri terdapat lebih dari 500 nelayan penangkap benih lobster. Awan sendiri sudah menangkap benur ini sejak tujuh tahun terakhir. Dirasanya, keberadaan benur-benur yang diambil secara bebas di perairan setempat ini sudah cukup banyak membantu perekonomian masyarakat. Tinggal menangkap, lalu jual.

Jika aturan menjual benur direvisi dengan mensyaratkan berat 5 gram, menurutnya, nelayan penangkap tidak akan punya pilihan, selain berhenti menjadi nelayan penangak benih lobster dan beralih ke pekerjaan lain. Misalnya menjadi nelayan pemancing. “Kebijakan itu bisa mematikan nelayan penangkap benih lobster. Terus kalau sudah tangkap kita mau kemanakan kalau tidak dijual. Kalau dibudidayakan lagi, kami tidak punya modal dan risikonya tinggi,” ujarnya.

Awan sendiri dalam sehari bisa mendapatkan Rp50 biji benur. Dijual dengan harga saat ini Rp2.000/ekor untuk benur jenis pasir dan Rp7.000 sampai Rp8.000 /ekor untuk benur mutiara. Benur – benur yang ditangkat nyaris tidak ada beratnya. Untuk sampai mendapatkan benih sebesar 5 gram, selain tidak memiliki modal, Awan juga mengaku tidak cukup memiliki pengetahuan melakukan budidayanya.

“Kami pasrah dengan aturan pemerintah, dan kita berharap tidak ada aturan melarang penjualan selain yang berat 5 gram,” demikian Awanto. Sementara Mahrup, Ketua Asosiasi Nelayan Lobster Nusantara wilayah Lombok menilai, bahwa Permen KP 17/2021 yang baru tidak akan jalan. Syarat 5 gram dikatakan sangat menyulitkan baik bagi nelayan tangkap dan pembudidaya. Pasalnya tidak semua perairan laut Indonesia dapat dijadikan tempat budidaya, begitu juga tidak semua daerah tersedia sumber benih.

“Ini gak bakal jalan pak. Dari hasil tangkapan BBL untuk kita proses jadi 5 gram itu gak gampang. Justru banyak tingkat kematiannya di situ,” jelas Mahrup. Ia mengaku heran dengan syarat 5 gram tersebut. Menurutnya, nelayan tangkap BBL sebaiknya dibebaskan menjual hasil tangkapan. Terpenting untuk dibesarkan atau dibudidayakan di dalam negeri terlebih di masa pandemi Covid-19.

“Kalau bisa jangan 5 gram lah, jadi kalau nelayan tangkap sama hasil tangkapannya ya langsung saja di jual ke pembudidaya. Kan bukan nelayan budidaya, kenapa harus 5 gram gitu. Dihilangkan saja pasal itu, artinya hasil tangkapan kita pagi ini, ya kita jual aja pagi ini,” ujarnya.

“Kalau Nelayan Tangkap itu ya maunya begitu. Begitu dapet hasil tangkapan ya bisa dijual. Jangan disuruh budidaya sampai 5 gram. Inikan masa pandemi pak, kalau pesisir itu memang hidupnya bergantung dari hasil laut dan hasil tangkapan. Kalau disuruh budidaya itu harus bikin KJA (Keramba, red) lagi, harus mikir pakan lagi, dan juga pengajuan izin budidaya yang sangat ribet untuk kami para nelayan dan pembudidaya kecil. Kasihan mereka para nelayan dan pembudidaya kecil yang tidak ada modal. Initnya peraturan yang sekarang itu sangat menyulitkan kita para nelayan dan pembudidaya kecil. Memang aneh kalau 5 gram pak,” demikian Mahrup. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional