Negosiasi Gagal, Warga Taman Sari Tolak Pemakaman Protokol Covid-19

Proses pemakaman warga di Desa Mekar Sari tidak menggunakan protokol Covid-19. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Pihak keluarga dan Masyarakat Taman Sari Kecamatan Gunungsari menolak menggunakan protokol Covid-19 untuk pemakaman jenazah warga mereka yang berinisial M (55), yang dinyatakan positif Corona oleh pemerintah.

Tim gugus tugas dipimpin langsung Kapolres Lombok Barat, AKBP. Bagus S. Wibowo dan Camat Gunungsari, bahkan dibantu pihak Polda NTB yang turun tangan langsung pun gagal membujuk keluarga dan warga untuk menjalankan pemakaman dengan Protokol Covid-19. Jenazah pun dimakamkan secara normal, dihadiri oleh masyarakat, Selasa, 7 Juli 2020.

Iklan

Mahnun, anak dari almarhumah mengatakan pihak keluarga tidak mau memakamkan menggunakan alat pelindung protokol covid-19 karena ada kejanggalan dari awal proses penanganan ibunya. Karena kronologi awal, ibunya mengalami insiden diserempet kendaraan, lalu sesak napas. Kemungkinan, sesak napas ini diakibatkan pergeseran tulang yang dibuktikan dengan hasil Rontgen.

Ibunya sendiri tidak memiliki gejala seperti terkena Corona. Yang membuatnya sangat keberatan adalah adanya kejanggalan dalam pelaksanaan rapid test. Rapid test menurutnya dilakukan tanpa sepengetahuan keluarga dan swab keluar setelah ibunya meninggal.

“Ini kejanggalan, makanya kami bawa paksa pulang jenazah,” tutur dia.

Ia mengaku sangsi dengan hasil pemeriksaan swab tersebut. Pihak keluarga bersikeras meminta hasil swab, namun tidak diberikan. Selain itu, alasan tidak menerima sang ibu dimakamkan secara protokol Covid-19, karena khawatir stigma dari masyarakat dan keluarga akan dijauhi oleh masyarakat.

“Yang kami takutkan bukan sakit karena Corona tapi drop akibat dijauhi sama orang, itu yang kami takutkan,” ujar dia.

Kepala Desa Mekar Sari, Nasrudin mengatakan, pihaknya sudah berupaya memfasilitasi negosiasi dengan pihak keluarga. Namun keluarga dan masyarakat ingin memakamkan secara normal, tanpa protokol Covid-19.

“Pihak keluarga dan warga tidak mau pemakaman memakai APD atau protokol covid-19,” jelas dia.

  Empat Kelurahan di Mataram Zona Hijau

Bahkan dalam proses negosiasi yang berlangsung alot, warga mengancam menurunkan massa kalau tim ngotot memakamkan secara protokol Covid-19. Pihaknya pun menyampaikan hal itu ke tim negosiator, Kapolres, Kapolsek Gunungsari dan Danramil.

Setelah melalui negosiasi yang begitu alot, warga ngotot menolak pemakaman protokol covid-19. Akhirnya, jenazah pun dimakamkan secara normal. Warga terlihat berbondong-bondong mengantarkan jenazah ke pemakaman. “Pemakamannya secara normal, tidak memakai protokol covid-19,” jelas dia.

Karena pemahaman keagamaan dan sosial warga yang begitu tinggi sehingga tidak mau pemakaman menggunakan alat tersebut. Pihak keluarga dan masyarakat kata dia tetap menolak dikatakan positif Corona. Ia menambahkan, hal ini tentunya berat bagi dirinya. Namun, konsekuensi harus dihadapi. Ia pun mengimbau masyarakat agar taat dan mengikuti imbauan pemerintah.

Dijelaskan, kronologi pasien ini masuk ke rumah sakit kota Mataram berawal beberapa pekan lalu saat mengalami insiden kecelakaan. Almarhumah diserempet kendaraan sehingga terkilir. Almarhumah pun dibawa ke salah satu rumah sakit swasta di Mataram.

Lalu, dirujuk ke RSUD Kota Mataram. Almarhumah pun sempat menjalani rapid test di sebuah rumah sakit di Kota Mataram dan menjalani tes swab di RS kota Mataram. Sementara itu, Camat Gunungsari, M. Mudassir mengatakan negosiasi pihak keluarga dan warga untuk pemakaman protokol Covid-19 menuai jalan buntu.

Berbagai upaya lobi dilakukan oleh tim negosiator bersama kepolisian dan TNI, namun pihak keluarga dan warga tetap menolak. “Upaya nego sudah kita lakukan ke keluarga dan warga, tapi belum ada titik temu,” aku dia.

Dikatakan, dari pihak keluarga dalam hal ini suami setuju dengan pemakaman protokol covid-19. Namun, ada beberapa keluarga yang tidak setuju. Alasannya, karena mereka keberatan status positif terhadap jenazah dan khawatir terjadi stigma terhadap keluarga bersangkutan. Disamping memang kekompakan sikap warga yang menentang penerapan protokol Covid-19.

  PDP Meninggal Asal Lape Terkonfirmasi Positif, Klaster Magetan dan Transmisi Lokal Mulai Teridentifikasi

“Padahal pihak Polres siap menjelaskan dan mengklarifikasi ke warga,” jelas dia.

Kata Mudassir, sebenarnya pihak keluarga sudah menandatangani surat pernyataan. Surat itu ditandangani oleh pihak keluarga, Kades, Camat dan puskesmas untuk bersedia menanggung segala risiko yang ditimbulkan akibat pemaksaan pemulangan jenazah tersebut.

Proses pemakaman mulai dari memandikan, mengkafani, menyolatkan dan menguburkan menggunakan protokol Covid-19. Hanya saja dalam praktiknya justru prosesi pemakaman mengunakan protokol Covid-19 tidak dijalankan oleh warga.

“Kenyataannya itu tidak dipatuhi,” jelas dia.

Masyarakat bersikeras tidak melaksanan protokol Covid-19 karena dari kronologi awal, almarhumah tidak ada riwayat kontak dengan pasien positif. Almarhumah hanya mengalami insiden diserempet kendaraan lalu mengalami keseleo. Lalu dibawa ke sebuah fasilitas kesehatan swasta di Kota Mataram.

Selama semalam dirawat di sana, almarhumah dirujuk ke RS Kota Mataram. Almarhumah menjalani rapid test di klinik swasta tersebut. Padahal, pihak keluarga menolak. Tapi, tiba-tiba muncul hasil rapid test. Setelah meninggal dunia, barulah keluar hasil swab.

Kapolres Lobar, AKBP Bagus S Wibowo ditemui di lokasi mengatakan, pihaknya tengah mempelajari kejadian pengambilan paksa jenazah yang terjadi Senin malam tersebut. Kejadian ini kata dia kemungkinan karena miskomunikasi.

Menurutnya, ada beberapa hal yang belum dipahami oleh pihak keluarga, sehingga pihaknya pun melakukan langkah-langkah penanganan hingga pada proses Pemakaman. Pihaknya memberikan pemahaman kepada masyarakat tidak mengambil tindakan yang merugikan diri sendiri terkait kejadian di RS kota.

“Kita sudah berikan pemahaman dan penjelasan terkait pandangan medis dan lain-lain,” ujar dia. Pihaknya pun mengajak masyarakat agar sama-sama mencegah penularan covid-19.

Terkait hal ini, Direktur RSUD Kota Mataram, dr. H. Lalu Herman Mahaputra mengatakan, puluhan warga datang ingin mengambil paksa jenazah pasien positif Covid-19. Masyarakat menolak penanganan pasien Covid-19 meninggal dunia sesuai protokol kesehatan.

  Walikota Ancam Tutup Pasar Tradisional

“Iya, biasa kalau ada pasien positif ndak mau ikuti protokol. Tapi kita sudah selesaikan kok,” jawabnya dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Menurutnya, kejadian itu tidak kali ini saja. Pihaknya sudah empat kali diprotes dengan kasus sama. Manajemen rumah sakit tidak mau ambil pusing karena memiliki standar operasi prosedur dalam penanganan pasien.

Menurutnya, proses mediasi sudah berjalan dan negosiasi dilakukan antara keluarga, rumah sakit dengan TNI-Polri. Proses negosiasi berjalan buntu, sehingga diambil kesimpulan menyerahkan jenazah. “Iya, kita lepas tanggungjawab,” ujarnya.

Menurutnya, Tim Gugus Penanganan Covid-19 telah memberikan edukasi. Tetapi tidak keseluruhan masyarakat mau menerima. Rupanya masyarakat khawatir timbul stigma, sehingga enggan menerima perlakuan jenazah sesuai protokol Covid-19. (her/aan/cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here