Nasib PMI Dipulangkan, Dikarantina Delapan Bulan, Bekerja Tak Digaji

Petugas mengecek identitas PMI yang menjalani karantina di Wisma Nusantara, Kamis, 4 Februari 2021. PMI yang baru kembali wajib mengikuti protokol kesehatan Covid-19. (Suara NTB/cem)

Ratusan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB dipulangkan secara bertahap oleh perusahaan penyalur tenaga kerja. Para pahlawan devisa negara itu dipulangkan karena masa kontrak berakhir. Ada juga bertahan karena kebijakan pengetatan akibat pandemi Covid-19.

Nasib PMI tak karuan. Jadwal pulang ke tanah air tak ada kepastian. Mereka harus menjalani karantina mengikuti kebijakan. Bekerja serabutan tanpa digaji jadi alasan perusahaan.

Iklan

Seperti yang dialami oleh Nurfian Hidayat, warga Lingkungan Otak Desa, Kelurahan Dasan Agung, Kecamatan Selaparang. Nurfian sapaan akrabnya, seharusnya pulang ke kampung halaman bulan Juni 2020 silam. Pengetatan aktivitas sosial di Kota Pahang, Malaysia memupuskan harapan melepas rindu bersama keluarganya. Pemerintah Malaysia tidak memperbolehkan adanya aktivitas apapun di tengah pandemi Covid-19. Kebijakan itu guna mengantisipasi penyebaran virus corona yang semakin mengganas. “Kontrak saya sebenarnya berakhir bulan Juni 2020,” tuturnya.

Nurfian bersama rekannya Rozi bekerja di perusahaan sawit. Dua tahun bekerja belum banyak dihasilkan untuk keluarganya. Terlebih pandemi Covid-19 mengikis ringgit yang disimpan berbulan – bulan. Ketika diberlakukan pembatasan aktivitas sosial, ia bersama PMI lainnya berdiam diri di basecamp, gubuk kecil yang dibangun di tengah hutan sawit.

Tak ada kesibukan apapun selain bekerja serabutan atau bersenda gurau dengan rekannya. Perusahaan tidak memberi kompensasi apapun. Untuk makan dan kebutuhan sehari – hari, ia harus urunan bersama teman – temannya. “Selama delapan bulan itu saya diam. Lima bulan sempat bekerja tapi tiga bulan itu full diam di basecamp,” terangnya.

Ringgit yang disimpan di sisa masa kontraknya perlahan terkuras. Nurfian tidak mungkin bertahan tanpa makan. Masakan alakadar jadi santapan istimewa setiap harinya. “Uang yang saya simpan mau dibawa pulang malah habis dipakai biaya makan. Perusahaan ndak mau nanggung lagi,” tuturnya.

Pandemi Covid-19 menghapus mimpinya untuk mendulang ringgit. Cita – citanya membahagiakan keluarga hanya tinggal asa. Nurfian bersyukur bisa pulang ke tanah air. Selama delapan bulan, mantan manajer perusahaan tempatnya bekerja secara diam – diam memperpanjang izin tinggal. Padahal berulang kali, ia meminta dipulangkan. “Setelah diganti di manajernya baru kita bisa dipulang. Saya baru sadar kalau permitnya diperpanjang satu tahun sama manajernya. Sedangkan, kita bekerja ndak digaji apa – apa,” tuturnya.

Nasib serupa juga dirasakan oleh Rozi. Delapan bulan harus bertahan di Malaysia tanpa menerima upah. Perasaan jenuh menghinggapi. Batinnya teriak ingin pulang, sehingga mengurangi semangatnya untuk bekerja. “Pikiran saya itu mau pulang saja,” ucapnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram, Hariadi menyampaikan, selama periode Januari sampai 3 Februari 2021, PMI asal Kota Mataram telah dipulangkan berjumlah 31 orang. Mereka berasal dari Malaysia, Hongkong, Korea, Singapura, Arab Saudi dan negara lainnya. “Mataram kan bukan kantong TKI seperti Sumbawa, Lotim dan Loteng,” sebutnya.

PMI yang kembali ke tanah air wajib mengikuti protokol kesehatan. Petugas dari Dinas Kesehatan dan BPBD menjemput di bandara. Mantan TKI langsung menjalani karantina dan dicek kesehatan. Setelah dinyatakan negatif baru diperbolehkan pulang ke rumah masing – masing. “Mereka di karantina lima hari. Kalau negatif dipulangkan. Kalau positif langsung dibawa ke rumah sakit,”demikian kata dia. (cem)

Advertisement ucapan idul fitri ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional