Nasib Penderita Kusta, Dikucilkan dan Minim Bantuan

Bima (Suara NTB) – Di sebelah barat Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bima, yang berada di Desa Panda Kecamatan Palibelo, terdapat perkampungan terpencil. Kawasannya tampak banyak ditumbuhi tanaman liar. Di situlah beberapa rumah reot yang didiami oleh sebanyak 10 orang penderita kusta.

Perkampungan untuk menampung warga yang menderita penyakit kusta dan menular diketahui ada sejak zaman penjajahan Belanda dulu.

Iklan

“Mau kemana nak?” tanya seorang lelaki tua saat Suara NTB mendatangi perkampungan tersebut, Kamis (20/10).

Lelaki tua yang tidak lagi mengingat umurnya itu diketahui bernama Abakar Hama. Ia merupakan salah seorang penderita kusta warga Desa Runggu Kecamatan Palibelo.

Ia menuturkan awal mula kedatangannya di perkampungan ini. Saat itu, pemerintah Kabupaten Bima gencar mendata warga yang mengalami penyakit kusta dan menular lainnya. Untuk disembuhkan dengan catatan harus meninggalkan kampung karena ada tempat khusus disediakan.

“Saat itu saya masih tinggal di desa Runggu bersama keluarga. Namun karena Pemerintah menjanjikan akan menyembuhkan penyakit ini, terpaksa saya nurut,” katanya.

Walaupun Abakar menyetujui, namun hal itu justru ditentang oleh keluarga besarnya. Karena dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kekurangan makanan ataupun ditelantarkan.

“Namun karena pemerintah memberikan keyakinan, keluarga saya kemudian merelakan. Lagipula ada semangat agar penyakit ini bisa sembuh,” kisahnya.

7-2

Tiba di perkampunan itu, awalnya dilayani dengan baik. Bahkan dalam dua kali seminggu disuntik cairan antikusta. Serta bantuan sejumlah uang dan beras sebesar 15 kg/orang/bulan terus lancar. Hanya saja, hal itu berlangsung beberapa tahun.

“Kini kami tidak mendapatkan bantuan apa-apa. Kalaupun ada, tiga bulan baru cair. Itupun beras yang dikasih sekarang sudah lima kilogram, sebagai bekal makan selama tiga bulan,” ujarnya.

Dia mengakui, untuk menutup kekurangan kebutuhan, warga setempat kerap memberikan bantuan. Bahkan para pegawai kantor yang berada di sekitar pemukiman memberikan bantuan pakaian bekas, makanan, juga uang.

“Mahasiswa juga banyak yang memberikan bantuan, tapi sifatnya terbatas dan datangnya hanya musiman,” ujarnya.

Dia berharap, pemerintah memperhatikan nasib mereka. Sebab dia dan rekannya tidak bisa melakukan aktivitas di luar perkampungan. Selain kerap dikucilkan, mereka dilarang karena penyakitnya bisa menular pada orang normal.

“Kalau tidak ada beras, kami hanya bisa menahan lapar dan memperbanyak minum air. Karena kami tidak bisa berbuat apa-apa,” terangnya.

Camat Palibelo, Drs. Zainuddin. MM dikonfirmasi mengaku, pemerintah tetap memberikan bantuan kepada warga yang mendiami perkampungan kusta itu. Sebab mereka adalah orang-orang yang ditampung untuk disehatkan.

“Yang jelas pemerintah tetap memperhatikan, tidak ada sikap diskriminasi,” katanya.

Meski demikian, dia berjanji keluhan yang dialami penderita kusta itu akan disampaikan pada Dinas Kesehatan (Dikes) dan Dinas Sosial (Dinsos). (uki)