Nasib Hamzani, PMI Asal Lotim yang Pulang Tanpa Kaki dan Tangan

Hamzani (Suara NTB/rus)

Mataram (Suara NTB) -Sedih, itulah kesan pertama ketika melihat Hamzani (35) warga Lingkungan Pancoran Manis Lingkok Dudu Suryawangi Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Tulang punggung keluarga yang lima kali bolak-balik ke Negeri Jiran Malaysia ini, kini terlihat memprihatinkan. Kaki dan tangannya diamputasi akibat kecelakaan kerja di kebun sawit Malaysia September 2021 lalu.

Kepada Suara NTB, Hamzani menuturkan sekelumit kisahnya, Kamis, 18 November 2021. Ia berangkat ke Malaysia terakhir pada tanggal 27 Maret 2018 lalu. Dengan polos pria beranak dua ini berangkat dengan paspor pelancong. Pengalamannya yang sudah berulang kali menjadi PMI ke Malaysia Barat membuatnya terbiasa.
Sejak awal di Negeri Jiran, Hamzani bekerja sebagai tukang potong sawit. Sehari-hari ia membawa pemotong sawit sepanjang 8 meter. “Pipanya terbuat dari lapisan alumunium dengan ujung sabit,” sebutnya.

Iklan

Waktu itu, kisah Hamzani, ia berangkat kerja di ladang sawit Rantau Panjang Kampung Sungai Kuning. Sudah diketahui, ada kabel listrik tegangan tinggi tanpa bungkus ada di tengah kebun. Keberadaan kabel lintas kota di Malaysia ini sudah lama diketahui. Tapi kadang lupa. Sehingga saat menggaet sawit, tanpa sengaja gala panjang yang digunakan menyentuh kabel listrik.

Aliran listrik tegangan tinggi ini pun secara spontan membakar Hamzani. Seingatnya,, waktu itu sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Ia pun langsung pingsan dan saat sadar diketahui dirinya sudah berada di rumah sakit.

Sebulan setengah lamanya Hamzani berada di rumah sakit Kulim Kedah. Akan tetapi, kondisi kesehatannya tidak kunjung membaik. Ia pun memilih untuk pulang kampung. Akan tetapi, Bandara di Malaysia menolaknya naik pesawat. Terpaksa, ia kembali lagi dan masuk kembali ke Rumah Sakit.

“Pihak bandara gak berikan izin karena melihat luka-luka di bagian kaki dan tangan Hamzani ini yang membusuk,” tuturnya. Rumah sakit kedua dipilih di Johor. Setelah dua hari lamanya, Hamzani kemudian diputuskan oleh tim dokter untuk diamputasi kaki dan tangannya.

Kondisi tulang sudah tak berbentuk. Dokter memberikan pilihan, antara pertahankan nyawa atau harus kehilanngan kaki dan tangan dari badan. “Kalau tak dipotong kata dokter di Malaysia akan merembet ke jantung dan itu bisa mengancam nyawa,” sebutnya lagi.

Oktober 2021 lalu, ia pun menuruti nasihat dokter untuk diamputasi. Setelah beberapa hari kemudian ia dipulangkan ke kampung halamannya. Selama perawatan medis, katanya, bos tempatnya bekerja bertanggungjawab dan membiayai semau proses pengobatan. Hanya saja tidak ada pesangon ataupun asuransi kecelakaan kerja.

Alasan tak punya dokumen apapun membuatnya tidak bisa menuntut apa-apa . Saat diamputasi, Hamzani mengaku pasrah. Syukurnya, bisa pulang dan diantar dengan pengawalan dari KJRI di Malaysia hingga ke Batam. Dari Batam Riau, diteruskan pengawalannya dari BP2PMI hingga sampai ke rumahnya dengan selamat.
“Tekong saya yang dampingi mengantar pulang,” imbuuhnya. Situasi masih pandemi membuat perjalanan pulang Hamzani ini cukup lama. Yakni harus mengikuti karantina dulu selama delapan hari.

Minggu, tanggal 14 November 2021 lalu, Hamzani tiba di rumahnya dengan disambut motivasi dan semangat hidup dari keluarga. Katanya saat ini, ia tidak mau berpikir panjang. Berusaha untuk ikhlas. “Yang buta saja bisa bertahan hidup meski tidak melihat apa-apa, kita tetap bersyukur karena apa yang ada pada diri kita ini kan pasti akan diambil,” ucap Hamzani tabah.

Hamzani hanya berharap ada belas kasih dari pemerintah. Baik pemerintah pusat maupun daerah. “Saya hanya berharap buka mata hati semua pihak diberikan keringanan beban hidup,” asanya.

Hamzani yang dulu normal kini harus tetap berada di atas kursi roda pemberian bosnya di Malaysia. Bekas potongan tangan dan kakinya masih terasa sakit. Tulang punggung keluarga tercintanya ini pun hanya bisa menunggu pengasih keluarga. (rus)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional