Narkoba dan Tramadol Cikal Bakal Kejahatan Anak

Dompu (Suara NTB) – Kepala Bidang Perlindungan Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Dompu, Rahman, S. Km., mengungkapkan penggunaan barang berbahaya seperti narkoba dan tramadol merupakan cikal bakal munculnya kasus kejahatan anak.

Sebagaimana diketahui, kejahatan anak saat ini terus meningkat. Di pertengahan tahun 2017 ini, berdasarkan data LPA sudah tercatat sekitar 70 lebih kasus. Imbas terburuknya yakni rentan membuat masyarakat terjangkit HIV/AIDS.

Iklan

“Makanya kita bersama pihak provinsi rencananya akan segera melakukan penyuluhan, karena tiga poin ini (narkoba, tramadol, HIV, red) awal dari pada timbulnya kejahatan anak,” katanya kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Rabu, 23 Agustus 2017.

Sasaran untuk kegiatan tersebut tambah Rahman, yakni 70 lebih peserta didik dari berbagai satuan pendidikan, teruma siswa yang sekolah di wilayah marak penggunaan tramadol, seperti Desa Seneo, Kelurahan Bada, Desa Matua, Desa Sori Utu dan beberapa wilayah lainya.

Menurutnya, selain penggunaan tramadol dan narkoba kasus kejahatan yang melibatkan anak tersebut terjadi karena kebebasan yang mereka miliki. Di lingkungan pendidikan misalnya, guru tidak lagi berani bertindak tegas pada murid lantaran takut terjerat hukum.

“Guru di sekolah sekarang jangankan memukul, cubit saja ndak bisa, itu yang membuat anak kebablasan bertindak,” jelasnya.

Parahnya lanjut dia, barang berbahaya tersebut tidak hanya dikenal dan dikonsumsi perserta didik tingkat SMP maupun SMA, tetapi siswa SD pun saat ini sudah mengenal bahkan mengkosumsinya. Itu terbukti dan pernah ditangani pihaknnya beberapa waktu lalu.

“Anak SD saja sekarang sudah pakai tramadol, merokok juga karena memang mereka ini tidak takut lagi dengan hal-hal yang seperti itu,” ujarnya.

Untuk itu, harap dia, aparat penegak hukum harus berupaya semaksimal mungkin menindak para pengedar narkoba dan tramadol, termasuk para pengguna yang kebayakan dari kalangan muda. Terhadap masyarakat ia meminta kembali menumbuhkan pembentukan kelompok-kelompok mengaji sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

“Saya melihat di masyarakat sekarang sudah tidak ada lagi kelompok pengajian anak, ndak seperti dulu lagi. Makanya anak ini kurang memiliki dasar agama untuk mengontrol dirinya dari pengaruh penggunaan sabu dan taramadol,” pungkasnya. (jun)

Advertisement ucapan idul fitri ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional