Nakes Paling Banyak Terpapar Covid-19 di KSB

H. Tuwuh. (Suara NTB/ist)

Taliwang (Suara NTB) – Satgas Covid-19 Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) baru-baru ini melakukan rekap jumlah kasus terpapar sepanjang tahun 2020 hingga awal Januari ini di masyarakat. Dan hasilnya, kluster tenaga kesehatan (Nakes) yang menjadi penyumbang terbanyak kasus terinfeksi.

Dalam data Satgas Covid-19 kabupaten itu, dari total kasus tercatat sebanyak 222.  Kluster Nakes menyumbangkan sebanyak 81 kasus atau  37 persen, diurutan kedua masyarakat umum sebanyak 80 kasus atau 36 persen. Berikutnya karyawan tambang Batu Hijau 18 persen dengan 40 kasus dan terakhir kluster pelajar/santri 9 persen dengan jumlah 21 kasus.

Grafik klaster Covid-19 di KSB.(Suara NTB/ist)

Secara rinci pada kluster Nakes sendiri, Satgas mencatat dari 81 kasus itu, terbanyak dari RSUD Asy Syifa. Di pusat penanganan dan perawatan pasien Covid-19 kabupaten itu terdata sebanyak 60 kasus, 19 Nakes yang bertugas di Puskesmas dan sisanya 2 orang adalah Nakes layanan klinik kesehatan swasta. “Persentasenya kasus Nakes di rumah sakit mencapai 74 persen sedangkan di Puskesmas 23 persen dengan 19 orang terpapar,” terang juru bicara Satgas Covid-19 KSB, H. Tuwuh kepada wartawan di ruang kerjanya, Jum’at, 8 Januari 2021.

Dari data sementara itu, menurut H. Tuwuh memberikan gambaran betapa rentannya para Nakes terhadap virus tersebut. Sebagai garda terdepan dalam penanganan pandemi Covid-19, Nakes hampir setiap saat berinteraksi dengan pasien positif yang melakukan perawatan di fasilitas kesehatan. “Mereka (Nakes) walau sudah dilengkapi APD (alat pelindung diri) resikonya tertularnya tetap ada. Karena bagaimana pun yang dihadapi pasien langsung yang sudah pasti terpapae Covid,” cetusnya.

Untuk memutus mata rantai penularan di lingkungan Nakes ini, Satgas Covid-19 kabupaten sudah mewanti-wanti pihak manajemen RSUD Asy Syifa khususnya. H. Tuwuh menyatakan, dirinya meminta rumah sakit plat merah itu agar menerapkan prosedur pencegahan internal dengan berfokus pada pengaturan prosedur pelayanan dan interaksi antar Nakes selama berada di lingkungan rumah sakit. “Bahkan juga di luar rumah sakit, saya minta sebisa mungkin diatur juga supaya Nakes ketika kembali ke rumah sakit tidak membawa virus itu dan menularkan ke rekqn lainnya,” cetusnya.

Sementara itu ditanya mengenai infeksi di masyarakat, kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) KSB ini menyebutkan, dari data yang ada. H. Tuwuh meyebutkan, polanya selama ini tetap dapat tertangani dengan cepat. Dari 80 kasus yang ada kebanyakan awal mula tertular setelah melakukan perjalanan dari daerah pandemi. Sementara transmisi lokalnya secara cepat dapat dideteksi dan diputus mata rantainya. “Transmisi lokal pun yang tertular karena satu rumah dengan pasien. Jadi tidak sampai bertransmisi jauh ke mana-mana,” paoarnya.

Selanjutnya, H. Tuwuh menyitir data kasus karyawan tambang Batu Hijau. Ia menjelaskan, selama ini para pekerja terdeteksi di fasilitas karantina terpusat yang disediakan oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Karyawan yang dinyatakan positig secara otomatis akan menjalani karantinya hingga dinyatakan sembuh. “Data yang positif di fasilitas (karantina) AMNT selama ini kita juga berusaha akses untuk memudahkan penelusuran kontak. Karena kan karyawan itu pasti punya keluarga di sini (KSB),” imbuhnya. (bug)