Musim Kemarau, Ribuan Hektar Lahan Pertanian di Loteng Tidak Bisa Berproduksi

Praya (Suara NTB) – Musim kemarau tahun ini diprediksikan bakal lebih panas. Di mana curah hujan turun sangat drastis jika dibandingkan dengan musim kemarau tahun sebelumnya. Kondisi ini berimplikasi langsung pada kondisi lahan pertanian di daerah ini tidak terkecuali di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).

Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Loteng, memprediksikan ribuan hektar lahan pertanian di daerah ini tidak akan bisa berproduksi lagi sebagai dampak dari musim kemarau tersebut.

Iklan

“Dari hasil pendataan yang ada, sekitar 13 ribu hektar lahan pertanian di Loteng tidak akan bisa berproduksi. Karena pengaruh turunnya curah hujan selama musim kemarau tahun ini,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispertanak Loteng, Ir. L. Wardihan, kepada Suara NTB, Sabtu, 27 Mei 2017.

Lahan-lahan yang tidak bisa berproduksi lagi tersebut berada di daerah tadah hujan, terutama di bagian selatan dan timur Loteng, sehingga para petani yang memiliki lahan di daerah ini diharapkan tidak memaksakan diri untuk bercocok tanam, khususnya menanam padi.

Pasalnya, kemungkinan besar untuk berhasil terbilang kecil, karena kondisi cuaca yang ada. “Pihak BMKG sudah mengingatkan kalau puncak musim kemarau akan berlangsung antara bulan Juli hingga September mendatang. Sementara pada bulan tersebut, sudah masuk musim tanam ketiga,” terangnya.

Artinya, pada puncak musim kemarau curah hujan sangat kecil, sehingga tidak memungkinkan untuk bercocok tanam. Begitu juga, petani di daerah irigasi teknis diingatkan untuk tidak memaksakan diri bercocok tanam pada musim tanam ketiga kali ini.

‘’Kalaupun tetap mau bercocok tanam, sebisa mungkin menghindari menanam padi. Tetapi menanam tanam lain, seperti palawija dan jagung,’’ sarannya.

Salah satu petani di Kampung Baru Praya Tengah Mustiadi mengaku khawatir tanaman padinya gagal panen. Menurutnya, selama beberapa minggu tanaman padinya mengalami kekeringan. Bahkan, retakan tanah di tempatnya menanam bisa masuk satu kaki orang dewasa. Pihaknya mempertanyakan peranan penyuluh pertanian yang tidak pernah turun lapangan.

‘’Penyuluh ini kemana saja sih? Apa fungsi mereka? Selama 10 tahun ini mereka tidak pernah turun melakukan penyuluhan. Padahal, lokasi sawah saya hanya 2 kilo dari kantor penyuluh Loteng,’’ protesnya.

Untuk itu, pihaknya mengharapkan Bupati Loteng H. M. Suhaili FT gencar memperhatikan nasib petani dan tidak hanya memikirkan maju untuk mencalonkan diri sebagai calon Gubernur NTB. (kir)